Minggu, Juli 26, 2026
Beranda blog Halaman 7

Volume Kendaraan Meningkat, Polisi Berlakukan Buka-Tutup di Pertigaan Bagbagan Sukabumi

0

GURILAPS.COM || Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Sukabumi memberlakukan sistem buka-tutup arus lalu lintas di titik krusial Pertigaan Bagbagan, Kabupaten Sukabumi, pada Senin (23/3/2026). Langkah ini diambil guna mengurai kepadatan kendaraan wisatawan yang mulai memadati jalur menuju kawasan pesisir Palabuhanratu.

Berdasarkan pantauan di lokasi sejak pagi hingga siang hari, arus kendaraan yang datang dari arah Sukabumi Kota maupun Bogor menuju Palabuhanratu terpantau ramai merayap. Sebaliknya, arus lalu lintas dari arah Palabuhanratu menuju Sukabumi cenderung lebih lancar dan tidak mengalami kendala berarti.

“Sistem buka-tutup kami terapkan secara situasional untuk memprioritaskan kendaraan yang masuk ke area wisata agar tidak terjadi penguncian di pertigaan,” ujar salah seorang anggota Satlantas yang bertugas di lokasi namun enggan disebutkan namanya.

Pihak kepolisian juga memberikan saran bagi para pelancong yang ingin menghindari kepadatan di pusat Palabuhanratu. Masyarakat diimbau untuk mempertimbangkan destinasi alternatif yang saat ini aksesnya masih sangat terkendali.

“Bagi wisatawan yang tidak ingin terjebak antrean, kami sarankan untuk mengalihkan tujuan liburan ke arah Geopark Ciletuh. Jalur menuju ke sana saat ini terbilang lancar dan bisa menjadi opsi tepat untuk menghindari kemacetan di Bagbagan,” tambah petugas tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, petugas kepolisian masih bersiaga di titik-titik rawan macet untuk memastikan kelancaran arus lalu lintas selama masa libur ini. (YOSEP M)***

EDITOR : M.NABIL

Tanjakan Leter S Cikidang di H+2 Lebaran Ramai di Pagi Hari, Menuju Objek Wisata Palabuhanratu 

0

Gurilaps.com || Tanjakan Leter S atau Jalan Raya Cikidang di Kabupaten Sukabumi terpantau cukup ramai oleh pengunjung pada pagi hari H+2 Lebaran. Arus kendaraan didominasi oleh wisatawan yang akan menuju kawasan objek wisata Palabuhanratu. Senin (23/3/2026).

Diketahui, kepadatan mulai terlihat sejak pagi hari dengan meningkatnya mobilitas masyarakat yang memanfaatkan libur Lebaran.

Begitu juga cuaca cerah turut mendukung aktivitas perjalanan para pengunjung. Udara pagi yang sejuk di kawasan tanjakan Leter S Cikidang memberikan kenyamanan untuk para pengguna jalan yang melintas.

Selain itu juga pemandangan alam yang masih dinilai asri juga menjadi daya tarik bagi pengunjung untuk sejenak menikmati suasana.

Salah seorang pengunjung asal Parungkuda, Sukabumi, Imam (22), mengatakan bahwa dirinya bersama teman-temannya sengaja berangkat pagi untuk menghindari kemacetan. “Kami sengaja berangkat pagi biar tidak kena macet, juga sekalian ingin menikmati suasana di Leter S yang masih segar sambil mengabadikan momen,” ujarnya saat wawancarai di lokasi.

Ia juga mengatakan selalu memilih jalur Cikidang karena dinilai lebih cepat meskipun memiliki medan yang cukup menantang. “Memang jalurnya curam ya dan menanjak berkelok juga, tapi lebih cepat dibanding jalur lain, tapi kita juga berusaha selalu safety,” tambahnya.

Disisi lain, terlihat sejumlah pengunjung juga memanfaatkan area di sekitar tanjakan Leter S untuk beristirahat sejenak. Mereka tampak berhenti untuk menikmati kopi, sarapan ringan, hingga melepas lelah sebelum melanjutkan perjalanan menuju Palabuhanratu.

Aktivitas tersebut membuat beberapa titik di sepanjang jalur Leter S terlihat dipadati kendaraan yang parkir sementara di bahu jalan.

Kendati demikian, arus lalu lintas masih terpantau lancar dengan pengaturan yang cukup tertib dari para pengguna jalan.

Jalan Raya Cikidang sendiri dikenal sebagai jalur alternatif yang menghubungkan wilayah Bogor, Jakarta, dan Sukabumi menuju Palabuhanratu.

Jalur ini kerap menjadi pilihan pengendara karena dinilai dapat memangkas waktu tempuh, meski kontur jalan yang berkelok dan menanjak.

Para pengunjung diimbau untuk tetap berhati-hati saat melintasi tanjakan Leter S tersebut, terutama di titik-titik rawan seperti tanjakan dan tikungan tajam. Dan padtikan kondisi kendaraan dalam keadaan prima guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan selama perjalanan. (Ujeng S)***

Editor : M.Nabil

Momen Libur Idul Fitri, Pantai Citepus Palabuhanratu Tempat Liburan Yang Dikunjungi Wisatawan

0

GURILAPS.COM || Pantai Baldes di kawasan Citepus, Palabuhanratu, menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan saat libur Idul Fitri. Sejak pagi hingga sore hari, kawasan pantai tersebut dipadati oleh pengunjung yang datang dari berbagai daerah untuk menikmati suasana liburan.

Kunjungan wisatawan terpantau terus meningkat sepanjang hari. Kepadatan tidak hanya terjadi di area pantai, tetapi juga di
sepanjang jalan raya menuju lokasi wisata yang dipenuhi kendaraan pribadi maupun rombongan.

Para pengunjung tampak menikmati waktu liburan dengan penuh keceriaan. Banyak di antaranya bermain air, berenang, hingga sekadar berjalan-jalan di sepanjang bibir pantai sambil menikmati semilir angin laut.

Cuaca cerah yang menyelimuti kawasan Pantai Baldes turut mendukung kenyamanan wisatawan membuat suasana liburan terasa semakin menyenangkan. Terutama bagi keluarga yang datang bersama anak-anak.

Abdu (23), pengunjung asal Bojonggaling, mengaku menikmati suasana pantai sambil bersantai bersama teman-temannya. “Saya ke sini bareng teman-teman, nongkrong sambil lihat pemandangan laut. Suasananya enak banget, apalagi sore begini sambil nunggu sunset,” ujarnya.

Menjelang sore hari, suasana pantai semakin ramai. Banyak pengunjung yang sengaja menunggu momen matahari terbenam atau sunset yang menjadi daya tarik utama Pantai Baldes. Pemandangan langit yang berubah warna menjadi latar favorit untuk berfoto.

wisatawan asal Bogor, Firman (56), mengatakan dirinya datang bersama keluarga untuk menikmati libur Lebaran. “Kami sengaja liburan ke sini sama keluarga, anak-anak juga senang bisa main pasir dan mandi di laut. Pemandangannya bagus, cocok untuk kumpul keluarga,” katanya.

Mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa dan lanjut usia terlihat larut dalam suasana pantai. Mereka tampak asyik bermain pasir, bercengkerama, dan mengabadikan momen kebersamaan, menjadikan Pantai Baldes sebagai salah satu pilihan utama untuk mengisi libur Idul Fitri. (Yosep M)***

Editor : M.Nabil

Editorial: Menjemput Berkah Idul Fitri 1447 H dalam Harmoni Gurilaps Sukabumi

Oleh : Aam Abdul Salam, Dewan Penasehat SMSI Sukabumi, Penasehat PWI Kab.Sukabumi, dan Presidium KAHMI Sukabumi

Gurilaps.com || Gema takbir mulai membubung, menandai hadirnya Idul Fitri 1447 H. Bagi Kabupaten Sukabumi, momen kemenangan ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan sebuah simfoni budaya dan spiritualitas yang menyatu dengan kemegahan alam. Lebaran tahun 2026 ini menjadi panggung pembuktian bagaimana “Gurilaps” (Gunung, Rimba, Laut, Pantai, Sungai) bukan lagi sekadar akronim, melainkan identitas wisata kelas dunia yang siap memanjakan mata dan jiwa.

Secara spiritual, Idul Fitri adalah momen kembali ke fitrah. Di Sukabumi, perjalanan spiritual tersebut terasa lengkap saat kita menatap hamparan pantai selatan yang luas, menghirup udara segar hutan yang asri, atau mendengar gemericik sungai yang jernih. Alam Sukabumi adalah pengingat akan kebesaran Sang Pencipta, menjadikannya destinasi sempurna bagi wisatawan lokal maupun mancanegara untuk melepas penat sekaligus bersyukur.

Keindahan ini tentu tak dibiarkan tanpa penjagaan. Kenyamanan para pemudik dan pelancong merupakan buah dari kepemimpinan visioner Bupati H.Asep Japar dan H.Andreas Wakil Bupati Sukabumi. Melalui koordinasi taktis bersama jajaran dinas dan lembaga Pemkab, persiapan matang telah dilakukan jauh-jauh hari. Kita melihat sinergi luar biasa di lapangan: aparat keamanan lintas sektor berjaga dengan sigap di setiap titik rawan, memastikan situasi tetap aman, nyaman, dan damai bagi setiap tamu yang menginjakkan kaki di Bumi Karamat.

Lonjakan kunjungan wisatawan pada musim Lebaran 2026 ini juga tidak terjadi secara instan. Ini adalah hasil dari mesin promosi yang bergerak serentak. Dukungan penuh dari para pemangku kepentingan, terutama peran strategis PWI Kabupaten Sukabumi dan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sukabumi Raya,  berperanserta dalam membangun narasi positif yang memikat publik. Kolaborasi media dan pemerintah inilah yang membuat potensi wisata kita terdengar hingga ke pelosok negeri.

Idul Fitri 1447 H di Sukabumi adalah perayaan harmoni. Antara pelayanan publik yang prima, kesigapan pengamanan, dan kearifan budaya masyarakatnya dalam menjaga alam. Mari kita rayakan kemenangan ini dengan menjadi wisatawan yang bertanggung jawab, sembari menikmati berkah tuhan di tanah Sukabumi yang mempesona.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin. ***

EDITOR : M.NABIL

Idul Fitri 1447 H: Menjemput Energi Ilahi, Memperkokoh Perisai Pertiwi Melindungi Presiden Prabowo

Oleh : Aam Abdul Salam, Penasehat PWI Kab.Sukabumi dan SMSI Sukabumi, Presidium KAHMI Sukabumi, Sekjen Komite Nasional Kedaulatan Energi, Sekjen Perhimpunan Pergerakan Jejaring Nasional Aktivis 98 – PPJNA 98.

GURILAPS.COM || Gema takbir yang menggetarkan angkasa pada 1 Syawal 1447 H bukan sekadar penanda berakhirnya dahaga raga, melainkan sebuah simfoni eksistensial tentang kembalinya manusia ke titik nol (fitrah). Secara filosofis, Idul Fitri adalah momen re-birth, di mana jiwa membasuh debu egoisme untuk kembali pada kemurnian asal. Sebagaimana ungkapan Rumi, “Mari kita keluar dari lingkaran waktu dan masuk ke dalam lingkaran cinta,” Idul Fitri mengajak kita keluar dari sekat kepentingan pribadi menuju pengabdian yang lebih luas.

Kesucian yang kita raih hari ini adalah Energi Ilahi yang harus dikonversi menjadi kekuatan kolektif. Di tengah konflik global yang kian memanas, kesalehan spiritual harus mewujud dalam gotong royong nasional. Hal ini selaras dengan pesan langit dalam Surah Ali ‘Imran ayat 103 :

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…”

Di hari yang fitri ini, doa-doa 250 juta rakyat Indonesia membumbung, mengetuk pintu langit agar Presiden Prabowo Subianto senantiasa dalam perlindungan Allah SWT. Kita memohonkan bagi beliau kekuatan fisik, kesehatan, dan ketajaman intuisi dalam memimpin bangsa. Sebagaimana filsuf Plato mendambakan pemimpin yang memiliki kebijakan dan keberanian, kita mendoakan agar kepemimpinan beliau menjadi kompas yang selamat di tengah badai geopolitik.

Namun, doa harus disertai ikhtiar. Mari seluruh lapisan masyarakat bersatu membangun Sistem Pertahanan Rakyat Semesta. Kedaulatan bukan hanya tugas militer, melainkan kesadaran semesta setiap warga negara. Kekuatan batin dari Idul Fitri inilah yang menjadi bahan bakar untuk menghadapi ancaman, baik dari dalam maupun luar negeri.

Mari jadikan Idul Fitri 1447 H sebagai momentum persatuan nasional. Ketika batin suci dan barisan rapat, Indonesia akan berdiri tegak sebagai bangsa yang tak tergoyahkan.

Selamat Idul Fitri 1447 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin.***

Editor : M.Nabil

Epilog Ramadhan: Membaca Takdir dan Mengetuk Pintu Arsy di Malam ke-29 “Doa untuk Presiden Prabowo”

Oleh : Aam Abdul Salam*

GURILAPS.COM || Malam ke-29 Ramadhan bukan sekadar penanggalan; ia adalah ambang pintu. Dalam perspektif filsafat spiritual, ia merupakan titik kulminasi di mana kefanaan manusia bertemu dengan keabadian Tuhan. Di saat energi bulan suci mulai memudar dari pandangan indrawi, batin kita justru dituntut untuk mencapai resonansi tertinggi dalam menjemput Lailatul Qadar.

Lailatul Qadar adalah manifestasi dari intervensi langit terhadap bumi. Secara filosofis, malam ini adalah momen “Penetapan” (Qadar), di mana doa bukan lagi sekadar kata-kata, melainkan frekuensi jiwa yang mampu mengubah garis takdir. Dalam keheningan malam ganjil terakhir ini, orientasi spiritual kita tidak hanya berhenti pada kesalehan pribadi, tetapi meluas menjadi kesalehan sosial dan nasional.

Di altar malam ke-29, kita membawa sebentuk munajat untuk kepemimpinan negeri. Memohon kekuatan dan kesehatan bagi Presiden Prabowo Subianto bukan sekadar dukungan politik, melainkan sebuah permohonan agar simpul kepemimpinan bangsa ini dijaga oleh Inayah (pertolongan) Ilahi. Dalam filsafat pemerintahan yang berkeadilan, seorang pemimpin memerlukan “perisai langit” untuk menghalau badai fitnah dan niat buruk yang berupaya meruntuhkan stabilitas bangsa.

Kita berdoa agar beliau dikaruniai hikmah—sebuah kecerdasan spiritual untuk membedakan antara kritik yang membangun dan serangan yang menghancurkan. Semoga Allah menjadi dinding pelindung yang menjauhkan beliau dari tipu daya mereka yang ingin menjatuhkan, karena sejatinya, kekuasaan yang diberkati adalah kekuasaan yang terjaga dari keruhnya syahwat duniawi.

Melalui keberkahan Ramadhan yang hampir usai, kita mengetuk Arsy:  Ya Allah, jadikanlah Indonesia sebagai negeri yang bernaung di bawah cahaya Lailatul Qadar. Sebuah negeri yang penduduknya bersatu dalam doa, dan pemimpinnya dikuatkan dalam rida-Mu.

Malam ke-29 adalah kesempatan terakhir untuk memastikan bahwa ketika fajar Syawal menyingsing, kita tidak hanya membawa kemenangan pribadi, tetapi juga membawa jaminan keselamatan bagi pemimpin dan kedaulatan negeri.***

*) Penulis : Aam Abdul Salam, Dewan Pembina Yayasan Majelis Dzikir Merah Putih, Sekjen Komite Nasional Kedaulatan Energi, Presidium KAHMI Sukabumi, Penasehat SMSI Sukabumi Raya, Penasehat PWI Kab.Sukabumi dan Sekjen PPJNA 98

EDITOR : M.NABIL

Rumah Literasi Merah Putih : Kawal Kedaulatan Bangsa, Lawan Intervensi Asing dan Upaya Destabilisasi Nasional

GURILAPS.COM || Mencermati dinamika politik nasional belakangan ini, merasa perlu menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus peringatan keras demi menjaga marwah dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, kata Dede Heri S.IP Sekjen Rumah Literasi Merah Putih, rilis diterima redaksi Rabu 18 Maret 2026.

Dede Heri menyampaikan pernyataan sikap yaitu :

1. Mengecam Keterlibatan Kepentingan Asing: Kami mencium adanya manuver kekuatan asing yang mencoba mengganggu kedaulatan bangsa melalui pendanaan besar (filantropi politik) untuk menciptakan instabilitas di dalam negeri. Kami menduga kuat adanya “tangan dingin” kepentingan global yang mencoba merongrong kewibawaan negara melalui kekuatan finansial yang tidak sehat.

2. Keprihatinan atas Sikap Tokoh dan Akademisi : Sangat disayangkan melihat sejumlah tokoh, akademisi, oknum perguruan tinggi, serta elite partai politik yang seharusnya menjadi penjaga moral bangsa, justru diduga kuat terjebak dan dimanfaatkan oleh agenda asing. Membiarkan diri menjadi “alat” demi kepentingan sempit untuk menyerang program-program kerakyatan yang sedang dijalankan oleh Presiden Prabowo Subianto adalah pengkhianatan terhadap akal sehat dan kepentingan rakyat kecil.

3. Melawan Narasi Destabilisasi : Kami menilai upaya-upaya sistematis untuk menciptakan kegaduhan demi menggulingkan pemerintahan yang sah adalah tindakan yang mencederai demokrasi. Program pro-rakyat Presiden Prabowo tidak boleh disandera oleh manuver politik asing yang hanya ingin melihat Indonesia lemah dan terpecah belah.

4. Seruan Rapatkan Barisan : Kami menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat, dari Sabang sampai Merauke, untuk segera merapatkan barisan dalam Persatuan Nasional. Jangan mudah terprovokasi oleh narasi yang dibangun dari dana asing untuk memecah belah kerukunan kita.

5. Perlawanan Rakyat Semesta : Rumah Literasi Merah Putih mengajak rakyat untuk melakukan perlawanan terhadap setiap upaya, intervensi, dan manuver asing yang berniat menjatuhkan pemerintahan yang sah. Kedaulatan Indonesia ada di tangan rakyat, bukan di tangan kekuatan modal asing.

“Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto adalah mandat rakyat. Siapa pun yang mencoba mengganggunya melalui tangan-tangan asing, akan berhadapan dengan rakyat yang mencintai tanah airnya. Merdeka, pungkas Dede Heri merupakan salah satu tokoh aktivis Pengurus PB HMI. (M.Nabil)***

Menjemput Cahaya Malam ke 27 Ramadhan: Spiritualitas Lailatul Qadar dan Doa untuk Presiden Prabowo

Oleh : Anto Kusumayuda dan Aam Abdul Salam (Ketum dan Sekjen PPJNA 98)

GURILAPS.COM || Di penghujung Ramadhan, atmosfer batin umat beriman mulai merapat pada satu titik: Lailatul Qadar. Secara filosofis, malam ini bukan sekadar hitungan waktu, melainkan momen “interupsi ilahi” di mana langit menyentuh bumi. Ia adalah simbol pencerahan (enlightenment) yang melampaui logika materi, sebuah malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.

Namun, di balik kekhusyukan i’tikaf, Indonesia hari ini sedang berada dalam pusaran ujian yang nyata. Di sinilah spiritualitas bertemu dengan realitas geopolitik.

Filosofi Perlawanan dan Penjagaan

Dalam kacamata filsafat eksistensialisme religius, menjaga kedaulatan negara adalah bagian dari menjaga amanah Tuhan. Saat ini, kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto tengah diuji oleh berbagai dinamika global. Isu mengenai intervensi aktor-aktor internasional dan kaki tangan kepentingan asing yang mencoba menggoyang stabilitas nasional bukan sekadar isapan jempol, melainkan tantangan terhadap kedaulatan.

Upaya sabotase ekonomi dan aksi-aksi yang memicu instabilitas adalah bentuk “kegelapan” yang harus dilawan dengan “cahaya” keteguhan. Di malam-malam ganjil ini, doa bukan sekadar pelarian, melainkan senjata spiritual (As-shilahu al-mu’min).

Mengetuk Pintu Langit untuk Pemimpin dan Bangsa

Di sela sujud-sujud panjang, mari kita selipkan permohonan tulus:

Kekuatan bagi Pemimpin : Memohon agar Presiden Prabowo diberikan ketajaman mata batin dan ketegasan sikap untuk menghadapi agen-agen asing yang berniat memecah belah bangsa. Semoga Allah memberikan perlindungan dari segala makar dan tipu daya yang merugikan rakyat.

Ketahanan Ekonomi : Berdoa agar Indonesia dijauhkan dari sabotase ekonomi dan diberikan kemandirian di tengah guncangan pasar global

Perlindungan dari Konflik Global : Di tengah eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat-Israel vs Iran, kita memohon agar Indonesia tidak terseret dalam arus kehancuran. Semoga Allah menjauhkan negeri ini dari dampak buruk Perang Dunia III dan krisis energi maupun pangan yang menghantui dunia.

Menjadi Benteng Spiritual

Lailatul Qadar mengajarkan kita tentang Istiqamah. Kekuatan sebuah bangsa tidak hanya terletak pada militer atau otot ekonominya, tetapi pada kohesi sosial dan spiritualitas rakyatnya. Dengan mengetuk pintu langit, kita sedang membangun benteng gaib bagi Ibu Pertiwi.

Semoga di malam yang mulia ini, Allah SWT menurunkan kedamaian (Sakinah) untuk Indonesia, memberikan keselamatan bagi seluruh rakyat dari Sabang sampai Merauke, dan menguatkan para pemimpin kita untuk tetap tegak berdiri di atas kepentingan nasional, demi kejayaan bangsa yang berdaulat.

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillahirabbil ‘alamin, Allahumma shalli ala Muhammad wa ala ali Muhammad.

“Ya Allah, di malam yang mulia ini, kami memohon perlindungan-Mu untuk negeri kami, Indonesia.

Ya Qawiyyu Ya Aziz (Wahai Yang Maha Kuat, Wahai Yang Maha Perkasa), Berikanlah kekuatan, kesehatan, dan ketajaman mata hati kepada pemimpin kami, Bapak Prabowo Subianto. Lindungilah beliau dari segala makar dan tipu daya agen-agen asing, kaki tangan globalis, serta mereka yang hendak menyabotase ekonomi dan stabilitas bangsa kami. Jadikanlah beliau benteng yang kokoh bagi kedaulatan NKRI.

Ya Khairul Maakirin (Wahai Sebaik-baik Pembalas Tipu Daya), Hancurkanlah rencana jahat siapapun yang ingin memecah belah rakyat kami. Jadikanlah setiap sabotase mereka berbalik menjadi kebaikan bagi kemandirian bangsa kami.

Ya Salam (Wahai Yang Maha Memberi Kedamaian), Bentengilah tanah air kami dan seluruh rakyat Indonesia dari dampak peperangan antara Amerika Serikat-Israel dan Iran. Jauhkanlah kami dari malapetaka Perang Dunia III dan krisis pangan serta energi yang melanda dunia. Jadikanlah Indonesia sebagai negeri yang tenang, aman, dan makmur di bawah naungan ampunan-Mu.

Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina ‘adzabannar. Walhamdulillahirabbil ‘alamin.” ***

EDITOR : Fikrie M

Sajadah Literasi di Ujung Senja: Menjemput “Mubarakah” di Tengah Riuh Dunia

0

Oleh : Aam Abdul Salam, Pensehat PWI Kab.Sukabumi, Penasehat SMSI Sukabumi Raya

GURILAPS.COM, SUKABUMI || Di bawah langit Komplek Perkantoran Cisaat yang perlahan meredup, Sabtu (14/03/2026), aroma takjil bercampur dengan hangatnya persaudaraan. Sore itu, di Kantor PWI Kabupaten Sukabumi, buka bersama bukan sekadar ritual penggugur lapar. Ia adalah sebuah perhentian spiritual, sebuah “i’tikaf” kecil bagi para pengetik berita untuk merenungi arah pena di tengah pusaran zaman yang kian tak menentu.

Filosofi Kebersamaan: Satu Tubuh, Satu Pena

Kehadiran jajaran pengurus, anggota, hingga tokoh-tokoh sentral seperti Ketua PLT Abah Anom, serta para penasehat—Kang Aves dan H. Rahmat—ditambah kehadiran Ketua SMSI Sukabumi Raya, Kang Sule, menciptakan harmoni yang magis. Dalam kacamata filsafat, pertemuan ini adalah bentuk Communitas; sebuah ruang di mana ego individual melebur demi tujuan kolektif.

Abah Anom dan para sesepuh mengingatkan bahwa jurnalis bukan sekadar pelapor fakta, melainkan pemegang amanah “kalam”. Kehadiran tokoh-tokoh ini menjadi simbol bahwa transmisi nilai dan kebijaksanaan harus terus mengalir, menjaga api idealisme agar tak padam tertiup angin pragmatisme.

Spritualitas Literasi: Jalan Menuju “Mubarakah”

Diskusi yang mengalir di sela waktu berbuka mengerucut pada satu misi suci: Gerakan Literasi. Dalam dimensi spiritual, literasi adalah “Iqra”—perintah untuk membaca semesta. PWI Kabupaten Sukabumi memandang literasi sebagai instrumen pencerahan untuk mendukung visi Mubarakah (Mandiri, Religius, Inovatif) yang diusung Bupati dan Wakil Bupati Sukabumi.

Pena jurnalis harus menjadi obor yang menerangi jalan menuju kemandirian. Literasi yang dibangun adalah literasi yang membumi, mendorong optimalisasi potensi lokal:

Kemandirian Pangan & Energi: Mengajak rakyat mencintai tanahnya sendiri di tengah krisis global.

Sektor Pariwisata: Narasi yang mengundang dunia melihat keindahan tanah Sukabumi yang dianugerahkan oleh Allah SWT.

Iklim Investasi: Menciptakan kondusifitas melalui berita yang menyejukkan namun tetap kritis-konstruktif.

Menatap Ufuk Global: Literasi di Ambang Prahara

Namun, di balik kehangatan kopi dan teh manis, terselip kesadaran akan bayang-bayang kelam di ufuk dunia. Ketegangan global—konflik AS-Israel melawan Iran—bukan lagi sekadar berita internasional di layar gawai. Ia adalah ancaman nyata yang bisa merobek stabilitas ekonomi hingga ke pelosok desa.

Di sinilah peran spiritual-intelektual jurnalis PWI diuji. Kita berada di ambang spekulasi Perang Dunia III. Literasi harus menjadi perisai; menyiapkan mental masyarakat agar tidak terombang-ambing oleh kepanikan, melainkan tetap fokus pada ketahanan mandiri. Jurnalis bertugas memberikan “jamu” informasi agar masyarakat siap menghadapi dampak ekonomi dan sosial dari benturan peradaban di Timur Tengah.

Penutup: Berbuka untuk Berbakti

Saat azan berkumandang, tegukan air pertama adalah simbol syukur atas nikmat persatuan. Bagi PWI Kabupaten Sukabumi, momentum 14 Maret ini adalah “recharge” batin. Bahwa tugas jurnalis adalah tugas kenabian: menyampaikan kebenaran, memberi peringatan, dan membawa kabar pencerahan bagi kemajuan daerah.

Di tangan para jurnalis inilah, visi Sukabumi yang Mubarakah bukan lagi sekadar slogan, melainkan doa yang mewujud dalam kerja nyata literasi, demi menjaga kedaulatan bangsa di tengah carut-marut dunia yang kian renta. ***

Editor : Yosep.M

Edukasi Masyarakat Lewat Sosialisasi Literasi Digital, Bakesbangpol Jabar: Peningkatan Kesadaran Hadapi Aris Informasi

Grilaps.com, Sukabumi || Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Jawa Barat terus mendorong peningkatan kesadaran masyarakat dalam menghadapi arus informasi di era digital.

Salah satunya melalui kegiatan Sosialisasi Literasi Digital dan Anti Hoaks bertajuk “Ngabedaken Kaler Jeung Kidul” yang digelar di Resto King Raos, Jalan Jalur Lingkar Selatan, Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Jumat (13/03/2026).

Kegiatan tersebut menjadi upaya edukasi kepada masyarakat agar lebih cermat dalam menerima, memilah, serta menyebarkan informasi, khususnya yang beredar melalui media sosial dan perangkat digital.

Kepala Bidang Kewaspadaan Daerah Bakesbangpol Jawa Barat, Khoirul Naim, menjelaskan bahwa sosialisasi ini merupakan bagian dari program berkelanjutan yang bertujuan meningkatkan literasi digital masyarakat.

Menurutnya, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk menyaring berbagai informasi yang masuk melalui perangkat digital agar tidak mudah terpengaruh oleh berita yang belum tentu benar.

“Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan media informasi yang ada di ruang digital, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh berita yang belum tentu kebenarannya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, program sosialisasi tersebut dilaksanakan secara bertahap di berbagai daerah di Jawa Barat. Hingga saat ini kegiatan sudah memasuki titik pelaksanaan ke-13 dan akan terus dilanjutkan di wilayah lainnya.

“Program ini memang digelar di berbagai daerah di Jawa Barat. Saat ini sudah sampai pada pelaksanaan ke-13 dan masih ada beberapa kegiatan lain yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat,” katanya.

Khoirul menambahkan, dalam satu tahun kegiatan sosialisasi dapat dilaksanakan beberapa kali di setiap kabupaten maupun kota. Selain literasi digital dan pencegahan hoaks, Bakesbangpol juga menghadirkan berbagai tema lain yang berkaitan dengan penguatan ketahanan masyarakat.

“Selain literasi digital dan anti hoaks, kami juga memiliki program sosialisasi lain seperti pendidikan politik hingga penguatan ketahanan ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dari para peserta. Antusiasme terlihat dari keaktifan peserta dalam mengikuti pemaparan materi hingga sesi diskusi bersama para narasumber.

“Kami melihat masyarakat cukup antusias dan responsif mengikuti kegiatan ini. Para narasumber juga memberikan banyak pemahaman yang bermanfaat bagi peserta,” ungkapnya.

Melalui kegiatan tersebut, Bakesbangpol Jawa Barat berharap masyarakat semakin cerdas dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar di ruang digital, sekaligus memperkuat ketahanan sosial di tengah derasnya arus informasi.

“Kami berharap masyarakat Jawa Barat semakin bijak dalam menyaring informasi, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh berita hoaks,” pungkasnya. (DH/IFU)***

Editor : M.Nabil