Sabtu, April 25, 2026
Beranda blog Halaman 6

Setahun Kepemimpinan H.ASEP JAPAR dan H.ANDREAS : Cahaya Ramadan Spirit Visi Mubarakah untuk Kab.Sukabumi

Oleh : Aam Abdul Salam, Presidium Korp Alumni HMI (KAHMI) Sukabumi, Penasehat PWI Kabupaten Sukabumi dan Penasehat Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sukabumi
“Momentum hari jadi pemerintahan ini menjadi kian bermakna karena jatuh satu tahun tepat awal bulan suci Ramadan 1447 H. Pertemuan dua momentum besar ini bukan sekadar kebetulan kalender, melainkan menjadi simbol spiritual untuk memperkuat tekad dalam mewujudkan Visi Mubarakah—Kabupaten Sukabumi yang Maju, Unggul, Berbudaya, dan Berkah”

GURILAPS.COM || Tidak terasa, tepat pada 20 Februari 2026, kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Drs. H. Asep Japar, M.M. dan H. Andreas, S.E. di Kabupaten Sukabumi genap melangkah satu tahun. Momentum hari jadi pemerintahan ini menjadi kian bermakna karena jatuh satu tahun tepat awal bulan suci Ramadan 1447 H. Pertemuan dua momentum besar ini bukan sekadar kebetulan kalender, melainkan menjadi simbol spiritual untuk memperkuat tekad dalam mewujudkan Visi Mubarakah—Kabupaten Sukabumi yang Maju, Unggul, Berbudaya, dan Berkah.

*Refleksi Satu Tahun: Membangun Fondasi Keberkahan*

Satu tahun pertama sering kali disebut sebagai fase peletakan batu pertama. Sejak dilantik pada Februari 2025, pasangan H.Asep Japar-H.Andreas telah menunjukkan komitmen nyata dalam menata potensi daerah yang luar biasa luas, mulai dari kekayaan alam di Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark hingga penguatan ketahanan pangan melalui program strategis bersama instansi terkait. Upaya pengendalian inflasi melalui langkah sistematis seperti operasional kendaraan layanan sembako murah “Mobil Sabumi” menjadi bukti kehadiran pemerintah di tengah masyarakat untuk menjaga daya beli.

Ramadan sebagai Katalisator Perubahan

Memasuki bulan Ramadan, spirit ibadah puasa yang mengajarkan disiplin, empati, dan kejujuran sangat selaras dengan nilai-nilai “Mubarakah”. Bagi pemerintah daerah, Ramadan adalah waktu untuk melakukan “puasa birokrasi” dari hal-hal yang menghambat pelayanan publik. Keberkahan (barakah) yang menjadi inti visi kepemimpinan ini harus dirasakan melalui kebijakan yang pro-rakyat, transparan, dan menyentuh hingga pelosok desa.

Menggali Potensi dengan Dukungan Kolektif

Kabupaten Sukabumi memiliki segala prasyarat untuk menjadi daerah terdepan di Jawa Barat. Namun, visi besar ini mustahil tercapai tanpa sinergi. Bupati Asep Japar dan Wabup H. Andreas terus menekankan bahwa kemajuan Sukabumi adalah kerja kolektif. Dukungan dari alim ulama, akademisi, pelaku usaha, hingga pemuda dan seluruh lapisan masyarakat adalah mesin utama penggerak dalam memajukan potensi daerah.

Harapan ke Depan

Memasuki tahun kedua, tantangan tentu tidak semakin ringan. Harapan masyarakat akan perbaikan infrastruktur dan peningkatan kualitas sumber daya manusia tetap menjadi prioritas utama yang harus dijawab dengan kerja nyata.

Jadikanlah momentum satu tahun pemerintahan ini dan kesucian bulan Ramadan sebagai titik balik untuk mengakselerasi pembangunan. Dengan spirit Mubarakah, mari kita kawal bersama kepemimpinan ini agar Kabupaten Sukabumi tidak hanya maju secara fisik, tetapi juga berlimpah berkah dan kesejahteraan bagi setiap warganya.***

Editor : Yosep M

Hari Pertama Ramadhan, Alun-Alun Palabuhanratu Sukabumi Jadi Titik Kumpul Warga Berburu Takjil

GURILAPS.COM, PALABUHANRATU || Kawasan Alun-Alun Palabuhanratu mulai dipadati warga pada hari pertama puasa Ramadhan 1447 Hijriah, Kamis (19/2/2026). Sejak sore hari, masyarakat terpantau mulai mendatangi area ruang publik ini untuk mencari takjil dan menggelar buka puasa bersama (bukber).

Berdasarkan pantauan di lokasi, berbagai lapak pedagang kaki lima (PKL) dan UMKM menyajikan aneka menu berbuka, mulai dari minuman segar, gorengan, hingga makanan berat. Fenomena tahunan ini kembali menjadikan Alun-alun sebagai pusat ekonomi kreatif musiman di wilayah Sukabumi tersebut.

Salah seorang pengunjung, Roni, mengaku memilih lokasi ini karena variasi hidangan yang lengkap dan harga yang ramah di kantong.

“Setiap awal puasa saya rutin bukber di sini bersama teman-teman. Suasananya ramai dan pilihan takjilnya banyak,” ujar Roni saat ditemui di sela-sela kegiatannya menunggu waktu Magrib.

Dampak Ekonomi dan Lalu Lintas

Antusiasme warga membawa dampak positif bagi para pelaku usaha mikro. Sejumlah pedagang mengaku mengalami peningkatan omzet yang signifikan dibandingkan hari biasa. Beragam jajanan tradisional hingga minuman kekinian menjadi buruan utama pengunjung.
Namun, tingginya volume masyarakat juga berdampak pada arus lalu lintas di sekitar Alun-alun. Kendaraan roda dua maupun roda empat terpantau merayap perlahan akibat kepadatan di bahu jalan.

Kondisi keramaian ini diprediksi akan terus berlangsung selama bulan suci Ramadhan. Alun-Alun Palabuhanratu diperkirakan tetap menjadi pilihan utama warga setempat untuk menghabiskan waktu ngabuburit sekaligus mendorong perputaran ekonomi lokal di sektor kuliner. ***

EDITOR : UJANG S

Sangat Penting Berdirinya Perguruan Tinggi Negeri di Sukabumi : Dorong Akses Pemerataan dan Kemajuan Regional

0

Oleh : Prof. Dede Rahmat Hidayat, M.Psi., Ph.D, Guru Besar Universitas Negeri Jakarta

GURILAPS.COM || Di tengah hiruk pikuk pembangunan Jawa Barat, Sukabumi kerap dipandang sebagai wilayah penyangga yang bersandar pada keindahan alam dan potensi sumber dayanya. Namun, dibalik panorama penggunungan dan hamparan sawah yang hijau, tersimpan ironi yang tak kunjung usai. Wilayah yang luas mencapai 4.164,15 km², merupakan terbesara di Jawa barat ini, masih bergulat dengan persoalan fundamental, yaitu akses pendidikan tinggi yang terbatas.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada tahun 2024, Tingkat pengangguran terbuka (TPT) kabupaten Sukabumi berada di angka 7,11persen, sementara persentase penduduk miskin pada tahun 2025 tercatat 6,26 persen. Angka ini bukan sekedar statistik, melainkan cerminan dari tantangan struktural yang berakar pada kesenjangan investasi sumber daya manusia. Ketika Bandung dan Bogor telah lama menjadi magnet Pendidikan dengan universitas negeri ternama (di Bandung : ITB, UNPAD, UPI, UIN SGD; di bogor IPB), Sukabumi dengan populasi sekitar 3,2 juta (Kabupaten : 2.889.139 dan Kota Sukabumi 373.189) jiwa masih menjadi “penonton” yang setiap tahunnya mengirim putra-putri terbaiknya merantau ke luar daerah.

Geliat penddikan tinggi di Sukabumi sejatinya tidak mati, Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI), Universitas Nusa Putra, serta Universitas Linggabuana PGRI yang baru diresmikan pada tahun 2023, demikian juga berbagai institut agama Islam, antara lain IMC, Institut agama Islam Almasturiyah, Institut KH Ahmad Sanusi menunjukkan bahwa sektor swasta telah bergerak menjawab kebutuhan Masyarakat. Namun kehadiran perguruan tinggi swasta (PTS) tidak serta merta menghapus kebutuhan mendesak akan hadirnya Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Mengapa demikian? Karena PTN memiliki mandat konstitusional yang berbeda, menyediakan pendidikan berkualitas dengan biaya terjangkau, menjangkau seluruh lapisan masyarakat dan menjadi lokomotif pengembangan ilmu pengetahuan yang berorientasi pada kepentingan publik.

Tulisan ini berusaha menguraikan alasan mengapa pendirian PTN di Sukabumi (Kota dan kabupaten) bukan hanya berhenti di wacana, tetapi sebuah urgensi yang didasari oleh analisis geografis, demografis, sosial dan ekonomi. Lebih dari itu tulisan ini akan memaparkan benefit strategis yang akan lahir dari keberadaan universitas negeri; baik bagi Masyarakat Sukabumi maupun bagi pencapaian target Pembangunan nasional.

Analisis geografis: luas wilayah dan ketimpangan akses

Kabupaten Sukabumi memiliki luas wilayah 4.164,15 km² atau setara dengan 11, 24 persen dari total luas provinsi Jawa Barat. Angka ini menjadikan Kabupaten Sukabumi terluas di provinsi Jawa Barat, bajlan lebih dari beberapa provinsi di Indonesia Timur. Secara administratif wilayah ini terbagi menjadi 47 kecamatan, 381 desa dan hanya 5 kelurahan. Kondisi geografisnya bervariasi; dataran tinggi di Kawasan Utara yang berbatasan dengan Bogor dan CIanjur dan Kawasan Selatan yang berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia.

Luasnya wilayah ini seharusnya menjadi berkah, tetapi tanpa infrastruktur pendidikan yang memadai, justru menjadi beban aksesibilitas. Bayangkan seorang lulusan SMA dari kecamatan Tegal Buleud atau kecamatan Cikakak harus menemuk perjalanan berjam-jam jika ingin mengunjungi kampus di Kota Sukabumi atau Cibadak apalagi jika ingin melanjutkan pendidikan ke PTN yang ada di Bandung atau di Bogor.

Pola pertumbuhan yang timpang

Studi tentang identifikasi pertumbuhan di wilayah calon Kabupaten Sukabumi Utara mengungkapkan baha hierarki fasilitas tertinggi hanya terkonsentrasi di empat kecamatan, yaitu Cicurug, Sukaraja, Cisaat dan Cibadak. Keempat wilayah ini menjadi pusat layanan karena kelengkapan infastruktur dan aksesibilitasnya. Sementara 43 kecamatan lainnya, terutama di wilayah Selatan dan Tengah berada dalam posisi hinterland yang bergantung pada pusat-pusat tersebut.

Dalam konteks pendidikan tinggi, konsentrasi ini menciptkan ketimpangan spasial yang kronis. Kecamatan-kecamatan seperti CIkakak, Gegerbitung atau wilayah-wilayah pesisir Selatan praktis tidak memiliki akses terhadap Pendidikan tinggi. Penduduk di wilayah tersebut harus melakukan mobilitas ke pusat kecamatan atau ke Kota Sukabumi yang bisa memakan waktu 4-5 jam perjalanan darat.

Pendirian PTN di lokasi strategis, misalnya di wilayah Tengah atau Selatan Sukabumi akan menciptakan pusat pertumbuhan baru yang mendekatkan layanan Pendidikan kepada masyarakat. Ini sejalan dengan teori Growth Pole yang dikemukakan oleh Francois Perroux, bahwa Pembangunan dapat dimulai dari pusat-pusat pertumbuhan yang kemudian menyebar ke wilayah sekitarnya (spread effect). Universitas negeri tidak hanya akan menjadi institusi Pendidikan, tetapi juga menjadi simpul aktivitas ekonomi dan sosial yang menggerakkan wilayah sekitarnya.

Analisis Demografis : Bonus demografi yang terancam terlewat

Dengan populasi yang mencapai 3,2 juta jiwa, Sukabumi (kota dan Kabupaten) merupakan salah satu wilayah terpadat di Jawa Barat. Komposisi penduduknya didominasi oleh usia muda, sebuah bonus demografi yang juga dikelola dengan baik akan menjadi lokomotif Pembangunan. Namun data menunjukkan adanya masalah serius pada daya tampung pendidikan tinggi.

Angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi di Kota Sukabumi tercatat 31, 25 lebih rendah dibandingkan Kabupaten Bogor. Meskipun data spesifik untuk Kabupaten Sukabumi tidak tersedia dalam publikasi terbaru, indikator seperti persentase penduduk miskin (6,25 %) dan Tingkat pengangguran (7,11 %) mengindikasikan bahwa akses terhadap pendidikan tinggi masih menjadi tantangan besar.

Ketua PB PGRI, Unifah Rosyidi pernah menyatakan bahwa daya serap mahasiswa di perguruan tinggi Sukabumi berkisar antara 25 – 30 persen. Artinya dari setiap 100 lulusan SMA/sederajat, hanya ada 25-30 orang yang dapat melanjutkan Pendidikan ke perguruan tinggi. Sisanya? Mereka harus memilih antara bekerja dengan bekal pendidikan menengah, atau tidak bekerja sama sekali, ini sebuah kondisi yang kontributif terhadap angka pengangguran.

Fenomena “Migrasi Pendidikan”

Ketiadaan PTN di Sukabumi memicu fenomena migrasi pendidikan besar-besaran. Setiap tahun ribuan lulusan SMA terbaik dari Sukabumi berbondong-bondong meninggalkan daerahnya untuk kuliah di Bandung, Bogor, Jakarta atau Yogyakarta. Fenomena ini di satu sisi menunjukkan tingginya motivasi masyarakat untuk melanjutkan pendidikan, namun di sisi lain menimbulkan biaya sosial ekonomi yang tidak sedikit.

Bagi keluarga menengah ke bawah, ongkos migrasi ini sangat memberatkan. Biaya hidup di kota perantauan, sewa kos, transportasi dan uang kuliah menjadi beban yang memiskinkan. Tidak jarang, potensi anak-anak terpaksa tidak berkembang karena keterbatasan biaya untuk merantau. Jika di Sukabumi terdapat PTN, biaya Pendidikan akan jauh sangat murah karena mahasiswa dapat tinggal bersama orang tua atau setidaknya tidak perlu mengeluarkan biaya hidup sebesar di kota besar.

Analisis sosial : Pendidikan sebagai mobilitas vertikal

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Sukabumi berdasarkan data dari BPS berada di angkat 67,05 pada tahun 2022, menempatkannya di peringkat 24 dari 27 Kabupaten/Kota di Jawa Barat. Ini adalah peringkat yang memprihatinkan untuk yang wilayah yang secara geografis dengan dengan Jakarta. Rendahnya IPM ini tidak terlepas dari komponen Pendidikan yang menjadi salah satu indikator penyusunannya.

Pendidikan tinggi memiliki peran strategis dalam mobilitas vertikal Masyarakat. Seseorang yang menyelesaikan Pendidikan tinggi memiliki peluang lebih untuk mendapatkan pekerjaan dengan upah yang layak, keluar dari garis kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup keluarganya. Ketika akses Pendidikan tinggi terbatas, maka siklus kemiskinan antargenerasi sulit terputus.

Peran perguruan tinggi dalam pembentukan karakter bangsa

Di luar aspek ekonomi, perguruan tinggi juga berfungsi sebagai agent of social change. Mahasiswa dididik untuk berpikir kritis, memiliki kepedulian sosial, dan berkontribusi pada pemecahan masalah dalam Masyarakat. Kehadiran PTN di Sukabumi akan menciptakan ekosistem intelektual yang saat ini masih sangat terbatas.

Universitas-universitas swasta yang ada, seperti UMMI, Nusa Putra dan LInggabuana telah berupaya menjalankan fungsi ini dengan baik. Namun, mereka memiliki keterbatasan dalam pendanaan riset, pengembangan program studi langka dan akses terhadap kebijakan pemerintah pusat. PTN hadir dengan mandat publik yang lebih kuat : ini tidak hanya melayani mereka yang mampu membayar, tetapi juga untuk mereka yang tidak mampu, dapat melalui jalur afirmasi seperti KIP kuliah dan bidik misi.

Lebih jauh lagi, PTN dapat menjadi ruang dialog dan perumusan solusi atas problematika sosial yang dihadapi Masyarakat Sukabumi, mulai dari kemiskinan, stunting, degredasi lingkungan, hingga konflik sosial. Dengan tradisi akademik yang mapan, PTN dapat menjembatani antara pengetahuan teoritis dengan kebutuhan riil Masyarakat.

Analisis ekonomi : Biaya, manfaat dan multiplier Effect

Kontribusi ekonomi yang masih minim

Dalam perspektif ekonomi makro, kontribusi Kabupaten Sukabumi terhadap produk domestic Regional Bruto (PDRB) Jawa Barat hanya sekitar 3,16 persen. Angka ini kecil jika dibandingkan luas wilayah dan jumlah penduduknya. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sukabumi pada triwulan III 2025 tercatat 3,98 persen, sementara data tahunan 2023 menunjukkan angkat 5,48 persen.

Struktur ekonomi Sukabumi masih didominasi oleh sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan diikuti oleh sektor industri pengolahan dan perdagangan. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi Sukabumi belum bertransformasi menuju sektor-sektor dengan nilai tambah tinggi yang membutuhkan tenaga kerja terdidik.

Kesenjangan antara kebutuhan dunia usaha dan kualitas SDM

Dunia usaha dan industri di Sukabumi yang terus berkembang terutama di Kawasan utara, seperti Cibadak dan Cicurug, membutuhkan tenaga keja denga kualifikasi tertentu. Namun, karena terbatasnya akses Pendidikan tinggi, banyak perusahaan yang terpaksa mendatangkan tanaga kerja dari luar daerah atau merekrut lulusan SMA yang kemudian harus dilatih ulang dengan biaya besar.

Pendirian PTN akan menjembatani kesenjangan ini. Dengan program studi yang dirancang sesuai dengan potensi dan kebutuhan lokal, misalnya Teknik industri untuk manufaktur, Agribisnis untuk sektor pertanian atau pariwisata bahari untuk wilayah Selatan. PTN dapat menghasilkan lulusan yang siap kerja sesuai dengan permintaan pasar. Ini akan meningkatkan produktivitas dan daya saing ekonomi daerah.

Multiplier effect keberadaan kampus

Keberadaan universitas negeri tidak hanya bermanfaat bagi mahasiswa, tetapi juga menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian lokal. Sebuah studi tentang rencana penegerian Universitas Samawa (Unsa) di Sumbawa menunjukkan bahwa kehadiran PTN akan mendorong tumbuhnya ekonomi lokal, mulai dari sektor properti (perumahan dan kost) transportasi, rumah makan, percetakan hingga industri kreatif lainnya. Tentu juga kita bisa lihat bagaimana Depok berkembang sangat pesat setelah UI pindah domisili dari Jakarta ke Depok, serta jatinangor sebuah kecamatan kecil di Sumedang berkembang setelah UNPAD, ITB, IPDN hadir di sana.

Gambaran sederhananya, ribuan mahasiswa yang datang dari berbagai kecamatan akan membutuhkan tempat tinggal, makanan, transportasi dan kebutuhan kuliah lainnya. Ini merupakan pasar potensial yang akan menggerakan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di sekitar kampus. Belum lagi belanja operasional kampus, gaji dosen dan tenaga kependidikan serta kegiatan penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat yang melibatkan warga sekitar.

Benefit strategis pendirian PTN di Sukabumi

Setelah menganalisis kondisi geografis, demografis, sosial dan ekonomi, dapat disimpulkan bahwa pendirian PTN di Sukabumi akan memberikan setidaknya lima benefit (keuntungan) strategis, yaitu :

1. Perluasan akses dan keadilan pendidikan

Benefit paling mendasar adalah perluasan akses bagi Masyarakat sukabumi untuk menikmati pendidikan tinggi berkualitas dengan biaya terjangkau. PTN memiliki mekanisme subsidi silang melalui Uang Kuliah Tunggal (UKT) berlapis, di mana mahasiswa dari keluarga mampu membayar lebih mahal untuk mensubsidi mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Ditambah dengan kuota khusus melalui jalur afirmasi (KIP Kuliah, afirmasi daerah tertinggal, afirmasi penyandang disabilitas), PTN menjadi instrument paling efektif untuk mewujudkan keadilan sosial di bidang pendidikan.

2. Mendorong pertumbuhan ekonomi Kawasan

Sebagaimana diilustrasikan dalam analisis ekonomi, keberadaan kampus akan menciptakan aktivitas ekonomi baru. Studi tentang rencana penegerian Unsa di Sumbawa menegaskan bahwa dampak PTN akan berlapis : dari tumbuhnya ekonomi lokal, meningkatnya riset berbasis potensi daerah hingga tersedianya lapangan kerja baru bagi akademisi, tenaga Pendidikan. Kondisi serupa akan dapat dirasakan oleh Sukabumi.
Kawasan sekitar kampus akan berkembang menjadi pertumbuhan ekonomi baru. Harga tanah akan meningkat, investasi properti akan menggeliat dan sektor jasa akan tumbuh pesat. Ini akan menciptakan lapangan kerja tidak hanya bagi lulusan universitas tetapi juga bagi masyarakat umum.

3. Pengembangan Riset unggulan berbasis potensi lokal

Sukabumi memiliki sumber daya alam yang sangat luar bisa : sektor pertanian yang kuat, perikanan tangkap dan budidaya di Selatan, potensi geothermal, kehutanan serta pariwisata alam dan bahari. Selama ini, potensi tersebut belum dikembangkan secara optimal kerena minimnya riset dan inovasi.
PTN dapat menjadi pusat riset dan inovasi yang mengembangkan komoditas unggulan daerah. Seperti halnya Unsa yang memiliki keunggulan riset di bidang pertanian, peternakan, dan perikanan di Sumbawa, PTN di Sukabumi bisa menjadi center of excellent bagi pengembangan komoditas seperti padi, palawija, perikanan tangkap, atau pariwisata berkelanjutan. Riset-riset tidak hanya akan dipublikasikan, tetapi juga diimplementasikan untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat.

4. Pemeratan Pembangunan dan penguranagan ketimpangan wilayah

Dalam perspektif tata ruang, pendirian PTN di lokasi yang tepat, misalnya wilayah Tengah atau Selatan Sukabumi akan menjadi katalis pemerataan pembangunan. Selama ini pembangunan terkonsentrasi di utara (Cibadak dan Cicurug) dan sekitar kota Sukabumi. Wilayah Selatan yang memiliki potensi besar justru tertinggal.

Dengan adanya PTN, pemerintah dapat mengarahkan investasi infrastruktur pendukung ke wilayah tersebut. Jalan diperbaiki, jaringan Listrik dan internet ditingkatkan dan fasilitas publik dibangun. Ini akan mengurangi ketimpangan antar wilayah yang selama ini menjadi masalah struktural.

5. Menekan laju urbanisasi ke kota-kota besar

Fenomena migrasi pendidikan yang disebutkan sebelumnya berkontribusi pada laju urbanisasi yang tidak terkendali. Bandung dan Jakarta terus dibanjiri pendatang dari berbagai daerah, termasuk Sukabumi, yang menyebabkan berbagai masalah perkotaan seperti kemacetan, kepadatan pemukiman kumuh dan persaingan kerja yang semakin ketat.

Dengan adanya PTN di Sukabumi, sebagian besar lulusan SMA dapat melanjutkan studi di daerahnya sendiri. Ini akan menekan laju urbanisasi dan memungkinkan mereka untuk tetap berkontribusi pada pembangunan daerah asalnya. Setelah lulus, mereka lebih mungkin untuk bekerja dan membangun karier di Sukabumi, sehingga talenta lokal terbaik tidak terus menerus terkuras ke luar daerah.

Penutup : Momentum yang tepat untuk bertindak

Pendirian perguruan tinggi (universitas) negeri di Sukabumi sepatutnya bukan sekedar wacana populis, tetapi kebutuhan mendesak yang didasari oleh data dan analisis komprehensif. Secara geografis, luas wilayah dan ketimpangan akses menuntut hadirnya simpul-simpul layanan Pendidikan baru. Secara demografis, bonus demografi 3,2 juta jiwa harus dikelola melalui investasi Pendidikan yang memadai. Secara sosial, PTN menjadi instrumen mobilitas vertikal dan pembentukan masyarakat kritis. Secara ekonomi, ini akan menciptakan multiplier effect dan menjawab kebutuhan dunia usaha.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kabupaten/kota Sukabumi perlu bergerak cepat. Pengalaman di daerah lain, seperti perjuangan penegerian Unsa di Sumbawa yang telah berlangsung 15 tahun, menunjukkan bahwa proses ini membutuhkan waktu, konsistensi, dan sinergi antarpemangku kepentingan. Pemerintah daerah harus mulai mempersiapkan berbagai prasyarat : Lahan, sumber daya dosen, dan dukungan regulasi.

Dukungan Masyarakat dan dunia usia juga sangat diperlukan. Kesadaran bahwa Pendidikan tinggi adalah investasi jangka panjang, bukan beban anggaran, harus terus disosialisasikan. Apabila semua elemen bergerak bersama, bukan tidak mungkin dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan, Sukabumi akan memiliki universitas kebanggaan masyarakat Bumi Marhamah.
Pada akhirnya, mendirikan PTN di Sukabumi berarti membangun peradaban, seperti halnya universitas-universitas negeri di berbagai daerah yang telah melahirkan pemimpin, innovator dan penggerak perubahan. Sukabumi pun berhak atas mimpi yang sama, Kini saatnya mewujudkan mimpi tersebut menjadi kenyataan.

Daftar Pustaka
1. Badan Pusat Statistik Kabupaten Sukabumi. (2025). Kabupaten Sukabumi Dalam Angka 2025. Sukabumi: BPS.
2. Parhan, A. (2025, 19 Juli). Sukabumi Menjadi Magnet Baru Pendidikan Tinggi, Kampus Swasta Berkembang Pesat. Pikiran Rakyat Tasikmalaya.
3. ANTARA News. (2025, 30 Oktober). Keadilan di kampus timur. ANTARA News Megapolitan.
4. Badan Pusat Statistik Kabupaten Sukabumi. (2025). Sukabumi Regency in Figures 2025. Sukabumi: BPS.
5. Fatimah, S. (2023, 9 Maret). Kota Sukabumi Punya Universitas Baru, Cek Jurusannya di Sini! detikJabar.
6. Radar Sukabumi. (2023, 7 Maret). Pemerintah Kota Sukabumi Dukung Dilaunchingnya Universitas Linggabuana PGRI. Radar Sukabumi.
7. Warislohner, F. (2025, 12 November). Identifying Growth Centers in the Prospective North Sukabumi Regency. LinkedIn.

Editor : Yosep M

HPN 2026, JTM PWI Peduli Kab.Sukabumi Berkolaborasi Bersama Stakekholder Lakukan Gerakan Penanaman Pohon

0

Gurilaps.com || Upaya penyelamatan bibir Pantai Karang Gantung di wilayah Pajampangan terus digencarkan melalui kegiatan penanaman pohon yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Pers Nasional. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Jampang Tandang Mangkalangan, CDK, KPH, serta PWI Kabupaten Sukabumi.

Ketua PWI Peduli Kabupaten Sukabumi, Aris Wanto, menegaskan bahwa penanaman pohon ini difokuskan pada penyelamatan bibir pantai yang saat ini mengalami abrasi cukup serius. Menurutnya, kawasan bibir pantai merupakan wilayah yang dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, sehingga tidak diperbolehkan adanya bangunan liar maupun aktivitas yang dapat merusak lingkungan, Minggu di karang Gantung (15/2/2026).

“Yang paling utama adalah penyelamatan bibir pantai. Jika tidak ditangani sejak dini, abrasi yang cukup besar akan merusak lahan dan kontur wilayah di sini,” ungkap Aris.

Pantai Karang Gantung sendiri merupakan salah satu destinasi wisata potensial di Kabupaten Sukabumi yang hingga kini belum banyak terekspos. Padahal, dengan penataan yang baik, kawasan ini dinilai mampu memberikan dampak ekonomi yang besar bagi masyarakat sekitar.

Kegiatan ini juga menjadi pencanangan program jangka panjang, khususnya di Desa Pasir Ipis, yang memiliki sejumlah lahan kritis dan perlu dikelola secara berkelanjutan guna memulihkan ekosistem yang rusak.

Ketua Jampang Tandang Mangkalangan, Hendra Permana, menjelaskan bahwa kawasan Karang Gantung termasuk dalam jalur geopark Kabupaten Sukabumi, sehingga perlu penanganan serius. Ia menyebutkan bahwa abrasi di lokasi tersebut sudah cukup mengkhawatirkan.

“Alhamdulillah perusahaan pemilik lahan, yakni AGB, menyambut baik kegiatan ini. Dukungan juga datang dari pemerintah daerah, badan pengelola Geopark, serta Dinas Pariwisata karena kawasan ini memiliki potensi wisata yang sangat baik dan harus dipelihara bersama,” ujar Hendra.

Secara keseluruhan, direncanakan sebanyak 5.000 pohon akan ditanam di kawasan tersebut. Pada tahap awal, sekitar 500 pohon telah ditanam, terdiri dari pohon endemik pesisir, pohon keras, serta beberapa jenis pohon buah yang dinilai cocok dengan kondisi tanah dan iklim setempat.

Selain fokus pada Pantai Karang Gantung, pihaknya juga menyiapkan program jangka panjang untuk pengelolaan kawasan hutan di wilayah Pajampangan, termasuk Leuweung Hidung dan Leuweung Cihanjuang, sebagai bagian dari upaya pelestarian lingkungan berkelanjutan.

Melalui kolaborasi lintas sektor ini, diharapkan Pantai Karang Gantung tidak hanya terselamatkan dari ancaman abrasi, tetapi juga dapat berkembang menjadi destinasi wisata unggulan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Sukabumi.****

Editor : DH

HPN 2026 Warnai Sejarah Baru, Pembangunan Museum Media Siber Indonesia Dimulai di Serang

0

GURILAPS.COM, SERANG || Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Provinsi Banten mencatat sejarah baru pers nasional dengan dilaksanakannya peletakan batu pertama pembangunan Museum Media Siber Indonesia di Kota Serang. Agenda ini menjadi tonggak penting dalam upaya mendokumentasikan perjalanan dan kontribusi pers digital Indonesia.

Peletakan batu pertama tersebut dihadiri Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI), Wakil Gubernur Banten, jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Provinsi Banten, serta unsur Dewan Pers. Hadir secara langsung Muhammad Jazuli, Anggota Dewan Pers sekaligus Ketua Komisi Pengaduan dan Penegakan Etika Pers, dan Yogi Hadi Ismanto, Anggota Dewan Pers sekaligus Ketua Komisi Penelitian, Pendataan, dan Ratifikasi Pers periode 2025–2028. Turut hadir Ketua SMSI Provinsi se-Indonesia, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta masyarakat umum.

Ketua Umum SMSI menegaskan bahwa pembangunan Museum Media Siber Indonesia merupakan legacy nasional HPN 2026 dan bentuk penghormatan terhadap peran strategis pers siber dalam sejarah pers Indonesia.

“Ini bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi pembangunan memori kolektif pers digital nasional. Museum Media Siber Indonesia akan menjadi pusat edukasi, literasi media, dan refleksi perjalanan pers siber dari masa ke masa,” tegasnya.

“HPN 2026 mencatat sejarah baru dengan peletakan batu pertama pembangunan Museum Media Siber Indonesia di Serang, Banten, disaksikan Dewan Pers, SMSI, dan jajaran pemerintah daerah”

Wakil Gubernur Banten menyatakan dukungan penuh Pemerintah Provinsi Banten terhadap pembangunan museum tersebut. Menurutnya, kehadiran Museum Media Siber Indonesia akan memperkuat posisi Banten sebagai bagian penting dalam sejarah pers nasional.

Sementara itu, Muhammad Jazuli menilai pembangunan Museum Media Siber Indonesia sebagai langkah strategis dalam menjaga etika dan profesionalisme pers di era digital.

“Pers siber berkembang sangat cepat. Museum ini penting sebagai ruang pembelajaran etika, tanggung jawab, dan profesionalisme jurnalistik bagi generasi pers ke depan,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Yogi Hadi Ismanto yang menekankan pentingnya pendataan dan dokumentasi sejarah pers siber secara sistematis dan berkelanjutan.

“Museum Media Siber Indonesia akan menjadi pusat dokumentasi perjalanan pers digital nasional, sekaligus referensi penting bagi penguatan ekosistem pers yang sehat dan terverifikasi,” katanya.

Peletakan batu pertama pembangunan Museum Media Siber Indonesia menjadi salah satu agenda strategis HPN 2026 di Banten, setelah sebelumnya dilakukan peresmian Monumen Media Siber Indonesia. Rangkaian agenda tersebut menegaskan bahwa HPN 2026 tidak hanya seremonial, tetapi meninggalkan warisan sejarah nyata bagi pers nasional. (*)

Editor : A.A.S

Tag :
#HPN2026 #MuseumMediaSiberIndonesia #HariPersNasional #PersDigitalIndonesia #SMSI #DewanPers #MuhammadJazuli #YogiHadiIsmanto #PersSiber #SejarahPersNasional #BantenSerang

Desa Citepus Raih Juara I Turnamen Voli Piala Bergilir Antar Desa Se-Kecamatan Palabuhanratu Sukabumi

0

Gurilaps.com || Desa Citepus meraih juara pertama dalam Turnamen Voli Piala Bergilir Antar Desa se-Kecamatan Palabuhanratu yang digelar oleh Karang Taruna Citepus, Sabtu (14/2/2026).

Turnamen yang diikuti sejumlah desa dan kelurahan di wilayah Kecamatan Palabuhanratu itu berlangsung meriah dan mendapat antusiasme masyarakat. Pertandingan dilaksanakan secara terbuka dengan sistem gugur, mempertemukan tim-tim terbaik dari masing-masing wilayah.

Pada partai final, tim Desa Citepus tampil konsisten dan mampu mengungguli lawannya setelah melalui pertandingan yang berlangsung kompetitif. Sementara itu, posisi juara kedua diraih Desa Cibodas dan juara ketiga ditempati Kelurahan Palabuhanratu.

Ketua Karang Taruna Citepus, Tedy, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, panitia, dan masyarakat yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia mengatakan, turnamen ini bertujuan mempererat silaturahmi antar pemuda serta mendorong semangat sportivitas.

“Kegiatan ini menjadi wadah positif bagi generasi muda untuk menyalurkan bakat dan memperkuat kebersamaan antar desa,” ujarnya.

Pantauan di lokasi, ratusan warga hadir menyaksikan pertandingan hingga laga final. Aparat setempat turut melakukan pengamanan guna memastikan kegiatan berjalan tertib dan lancar.

Panitia berharap turnamen voli piala bergilir ini dapat menjadi agenda rutin tingkat kecamatan sebagai bagian dari pembinaan olahraga serta penguatan solidaritas antarwilayah di Palabuhanratu. (Yosep M)***

Editor : UJ

Guru Terduga Child Grooming di SDN Sukabumi Dinonaktifkan, Disdik Kabupaten Sukabumi Ambil Langkah Tegas

0

Gurilaps.com || Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi mengambil langkah tegas menyusul mencuatnya dugaan kasus child grooming yang melibatkan seorang guru di salah satu SD negeri. Guru berinisial R (35), yang diketahui menjabat sebagai wali kelas 6, kini dinonaktifkan sementara dari tugasnya.

Bupati Sukabumi, Asep Japar menyampaikan bahwa persoalan tersebut sedang dalam proses penanganan internal oleh dinas terkait. Pemeriksaan administrasi dan hukum tengah berjalan untuk memastikan langkah lanjutan yang akan diambil.

“Sudah dilakukan pemanggilan dan pembinaan. Sekarang prosesnya ditangani bagian hukum,” ujar Asep, Jumat (13/2/2026).

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, Deden Sumpena, menjelaskan bahwa penonaktifan dilakukan agar proses pemeriksaan bisa berjalan objektif dan kondusif. Untuk sementara, R tidak lagi menjalankan peran sebagai wali kelas 6.

“Karena yang bersangkutan wali kelas, maka sementara ini tidak difungsikan dulu,” jelas Deden.

Ia menambahkan, pemeriksaan tidak hanya melibatkan internal dinas, tetapi juga berkoordinasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Sukabumi guna memastikan aspek perlindungan anak terpenuhi.

Terkait status kepegawaian R yang diketahui berstatus PPPK, Deden menyebut keputusan final belum dapat ditentukan. Pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan menyeluruh sebelum menetapkan sanksi.

“Kemarin baru pemeriksaan kepegawaian. Kami juga menunggu hasil pendalaman dari DP3A. Soal sanksi tentu harus melalui pemeriksaan komprehensif,” tegasnya.

Dari hasil klarifikasi awal, motif unggahan konten yang menuai polemik itu disebut hanya untuk menarik perhatian di media sosial. Hingga kini, belum ditemukan indikasi motif lain berdasarkan pemeriksaan sementara.

“Sejauh ini tidak ada motif lain. Hanya eksploitasi konten agar menarik perhatian di media sosial,” ungkap Deden.

Sebagai langkah pencegahan, Dinas Pendidikan berencana melakukan evaluasi dan sosialisasi lebih mendalam terkait batasan interaksi guru dan siswa, terutama dalam penggunaan media sosial.

“Ini menjadi bahan evaluasi bersama. Perlu ada batasan yang jelas dan sosialisasi yang lebih masif agar kejadian serupa tidak terulang,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, dugaan child grooming mencuat setelah beredar unggahan seorang guru laki-laki yang menampilkan siswinya disertai narasi bernada tidak pantas, di antaranya “Hari ini foto ijazah dulu yak, nanti kita foto bareng di KUA ya” serta “Jodohku ternyata muridku”, yang kemudian memicu reaksi publik.***(RAF)

Editor : Yosep M

Hangatnya Tradisi Papajar, Keluarga Besar SMP IT Yasin Simpenan Sukabumi Berkumpul di Pantai Cilegok

0

Gurilaps.com, Sukabumi || Keluarga besar SMP Islam Terpadu (IT) Yasin menggelar kegiatan papajar di Pantai Cilegok, Desa Giri Mukti, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Sabtu 14/2/2026. Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi civitas sekolah sekaligus tradisi tahunan menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Papajar yang diikuti oleh para guru, staf, dan keluarga besar sekolah tersebut berlangsung penuh kehangatan dalam suasana kebersamaan di tepi pantai. Sejak pagi, peserta berkumpul untuk berbincang santai, mempererat hubungan kekeluargaan, hingga menggelar bakar ikan yang kemudian disantap bersama.

Kepala SMP IT Yasin, Asep Sunardi, mengatakan bahwa kegiatan papajar bukan sekadar rekreasi, tetapi juga momentum memperkuat ukhuwah sebelum memasuki bulan Ramadan.

“Papajar ini sudah menjadi tradisi tahunan keluarga besar SMP IT Yasin. Momentum ini kami manfaatkan untuk mempererat silaturahmi, memperkuat kebersamaan, sekaligus saling memaafkan sebelum menjalankan ibadah puasa,” ujar Asep Sunardi.

Ia menambahkan, kebersamaan di luar lingkungan sekolah menjadi sarana efektif untuk membangun kekompakan dan komunikasi yang lebih hangat antar civitas sekolah.

Dengan suasana Pantai Cilegok yang asri dan angin laut yang sejuk, kegiatan papajar berlangsung sederhana namun penuh makna. Tradisi ini diharapkan terus terjaga sebagai bagian dari budaya kebersamaan keluarga besar SMP IT Yasin setiap menjelang Ramadan. (Yosep M)****

Editor : Fikrie M

SMSI Apresiasi Peresmian Monumen Media Siber Indonesia, Agenda Besar HPN 2026

0

GURILAPS.COM, CILEGON || Peresmian Monumen Media Siber Indonesia menjadi salah satu agenda besar berskala nasional dalam rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Provinsi Banten. Monumen ini menjadi simbol sejarah dan perkembangan pers digital nasional, sekaligus penanda peran strategis pers siber dalam demokrasi Indonesia.

Peresmian monumen tersebut mendapat apresiasi luas dari Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) sebagai bentuk pengakuan terhadap eksistensi dan kontribusi pers siber dalam ekosistem pers nasional. Agenda ini dihadiri pimpinan organisasi pers tingkat pusat dan daerah, menegaskan posisi Monumen Media Siber Indonesia sebagai bagian dari legacy nasional HPN 2026.

Acara peresmian disaksikan langsung oleh Ketua Umum SMSI Pusat Firdaus, Sekretaris Jenderal SMSI Makali Kumar, SH, jajaran Pengurus SMSI Pusat, serta Ketua SMSI Provinsi se-Nusantara. Sejumlah tokoh pers nasional dan pejabat daerah turut hadir, di antaranya mantan Wali Kota Cilegon Iman Ariyadi, Wakil Wali Kota Cilegon Fajar Hadi Prabowo, anggota Dewan Pers Yogi Hadi Ismanto, MH, Plt Sekda Cilegon Ahmad Aziz Deti, serta Asisten Daerah (Asda) Provinsi Banten.

Mantan Wali Kota Cilegon Iman Ariyadi menilai Monumen Media Siber Indonesia sebagai tonggak penting dalam perjalanan pers digital nasional. Ia menegaskan, keberadaan monumen tersebut memperkuat posisi Cilegon sebagai bagian dari sejarah lahirnya SMSI.

“Monumen ini menegaskan kontribusi nyata daerah dalam perjalanan pers siber Indonesia. Ini bukan hanya milik Cilegon, tetapi menjadi kebanggaan pers nasional,” kata Iman Ariyadi.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Cilegon Fajar Hadi Prabowo menyatakan dukungan pemerintah daerah terhadap penguatan pers siber yang profesional dan berintegritas.

Ketua Umum SMSI Pusat Firdaus menegaskan bahwa Monumen Media Siber Indonesia bukan sekadar bangunan fisik, melainkan penanda sejarah dan legacy perjuangan pers siber nasional.

“Monumen ini adalah simbol perjuangan dan legacy pers siber Indonesia. Ia menjadi pengingat peran pers siber dalam menjaga demokrasi dan mencerdaskan publik,” tegas Firdaus.

Firdaus juga menyebut Kota Cilegon memiliki posisi strategis dalam sejarah media siber nasional, mengingat SMSI dideklarasikan di Cilegon pada 2017 dan kini berkembang menjadi organisasi pers siber terbesar di Indonesia dengan jaringan di seluruh provinsi.

Monumen Media Siber Indonesia diharapkan menjadi ikon nasional pers digital serta pusat refleksi bagi insan pers untuk terus menjaga profesionalisme, independensi, dan etika jurnalistik di era digital.

Peresmian monumen ditandai dengan penandatanganan prasasti pada pukul 11.30 WIB. Pada malam harinya, pukul 20.00 WIB, digelar gala dinner nasional bersama jajaran pengurus SMSI sebagai bentuk syukuran atas suksesnya peresmian Monumen Media Siber Indonesia pertama di Indonesia.

EDITOR : YOSEP M

#HPN 2026 #MonumenMediaSiberIndonesia #HariPersNasional #PersDigitalIndonesia #SMSI #FirdausSMSI #PersSiber #MediaSiberNasional #SejarahPersIndonesia #BantenCilegon

Reses Kesatu Tahun 2026, Hamzah Gurnita Serap Aspirasi Warga Desa Cikakak Terkait BPJS dan Pembangunan

Gurilaps.com || Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi, Hamzah Gurnita, S.H, melaksanakan Kegiatan Reses Kesatu Tahun 2026 di Desa Cikakak, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi. Kegiatan tersebut digelar di Aula Desa Cikakak, pada Jumat (6/2/2026).

Reses ini dihadiri langsung oleh Kepala Desa Cikakak, Babinsa, serta sejumlah tokoh masyarakat setempat. Kegiatan berlangsung lancar dan disambut antusias oleh warga yang memanfaatkan momentum reses untuk menyampaikan berbagai aspirasi dan permasalahan di lingkungan mereka.

Salah satu persoalan utama yang disampaikan masyarakat adalah terkait jaminan kesehatan BPJS, khususnya warga yang saat ini tidak lagi tercover BPJS akibat perubahan data desil dari Puskesos. Kondisi tersebut dinilai memberatkan masyarakat, terutama warga kurang mampu yang sangat bergantung pada layanan kesehatan gratis.

Menanggapi hal tersebut, Hamzah Gurnita menyatakan komitmennya untuk menampung, mengkaji, dan memperjuangkan seluruh aspirasi masyarakat agar dapat ditindaklanjuti melalui mekanisme dan kewenangan yang ada. Ia menegaskan bahwa jaminan kesehatan merupakan hak dasar setiap warga negara yang harus dipenuhi secara adil dan merata.

“Semua persoalan yang disampaikan masyarakat akan kami bawa untuk dibahas dan diperjuangkan. Setiap warga berhak mendapatkan jaminan kesehatan yang layak,” ujar Hamzah di hadapan warga.

Sementara itu, Kepala Desa Cikakak, Dede Mulyadi, menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi kepada Hamzah Gurnita atas pelaksanaan reses di Desa Cikakak. Ia berharap kehadiran anggota DPRD tersebut dapat memberikan solusi konkret bagi permasalahan masyarakat, khususnya dalam kondisi desa yang saat ini mengalami pengurangan Anggaran Dana Desa (ADD).

“Kami berharap melalui reses ini, Pak Dewan bisa membantu memperjuangkan program-program pembangunan, terutama persoalan yang tidak bisa diselesaikan di tingkat pemerintahan desa,” ungkap Dede Mulyadi.

Melalui kegiatan reses ini, diharapkan aspirasi masyarakat Desa Cikakak dapat terserap secara maksimal dan menjadi dasar dalam perumusan kebijakan pembangunan serta pelayanan publik di Kabupaten Sukabumi.****

Editor : Yosep