Minggu, Juli 26, 2026
Beranda blog

Spiritualitas Pembangunan: Bagaimana SMSI Sukabumi Raya Menggerakkan Ekonomi Lewat Pena

Oleh : Aam Abdul Salam, Wanhat SMSI Sukabumi Raya/PWI Kab.Sukabumi dan Presidium MD KAHMI Sukabumi

Gurilaps.com, Sukabumi || Pelantikan Pengurus Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sukabumi Raya masa bakti 2025–2028 bukan sekadar agenda seremonial organisasi. Peristiwa ini adalah sebuah momentum spiritual dan kultural, sebuah titik tolak di mana pers dan media siber memosisikan diri sebagai pemegang suluh peradaban di tanah Sukabumi.

Di bawah nakhoda Ketua Sulaeman yang akrab disapa Kang Sule, Sekretaris Ariswanto, dan Bendahara Siti Ratna Maymunah, SMSI Sukabumi Raya mengemban amanah profetik: menghidupkan kembali roh literasi sebagai fondasi pembangunan daerah.

Secara filosofis, literasi adalah aktivitas membaca yang melampaui teks visual. Literasi adalah kemampuan membaca realitas, menangkap denyut nadi kehidupan masyarakat, dan menerjemahkan potensi alam menjadi maslahat bagi manusia.

Ketika SMSI Sukabumi Raya mengusung tema peranan dalam membangun literasi untuk menyukseskan program ketahanan pangan, kemandirian energi, dan kondusifitas investasi, organisasi ini sedang mengintegrasikan dimensi spiritual dalam kerja-kerja jurnalistik. Ketahanan pangan dan energi adalah wujud rasa syukur atas melimpahnya berkah Tuhan di bumi Sukabumi, sementara investasi dan pariwisata adalah ikhtiar kolektif untuk menjemput kesejahteraan.

Kabupaten dan Kota Sukabumi dianugerahi potensi yang luar biasa. Dari keindahan alam pariwisata yang memukau hingga peluang investasi yang menjanjikan. Namun, potensi ini akan tetap terkubur dalam kesunyian tanpa kehadiran narasi yang mencerahkan. Di sinilah pers hadir bukan sekadar sebagai penyebar informasi, melainkan sebagai pelopor gerakan literasi yang mendorong kemajuan.

Tulisan yang lahir dari pena para jurnalis SMSI harus mampu menjadi energi positif yang menggerakkan roda perekonomian dan mendatangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pembangunan yang sejati tidak hanya membangun raga atau infrastruktur fisik, tetapi juga membangun jiwa dan kemandirian masyarakatnya.

Kepemimpinan baru SMSI Sukabumi Raya ditantang untuk membangun sinergi dan kolaborasi yang strategis. Dalam sudut pandang spiritual, kolaborasi adalah bentuk nyata dari silaturahmi yang mendatangkan berkah dan memperpanjang usia kemanfaatan organisasi.

SMSI Sukabumi Raya harus menjadi jembatan yang menghubungkan visi Bupati dan Wakil Bupati Sukabumi dengan realitas di lapangan. Menjaga kondusifitas investasi berarti menciptakan ruang hidup yang harmonis, aman, dan saling percaya antara pemerintah, investor, dan warga lokal.

Selamat atas pelantikan pengurus SMSI Sukabumi Raya periode 2025–2028. Selamat mengemban amanah mulia kepada Kang Sule, Ariswanto, dan Siti Ratna Maymunah beserta jajaran pengurus. Semoga kehadiran SMSI di Sukabumi Raya senantiasa menjadi inspirasi, kompas moral, dan penggerak literasi yang membawa Sukabumi menuju daerah yang mandiri, sejahtera, dan penuh keberkahan sebagaimana visi Kabupaten Sukabumi dan Kota Sukabumi.***

Editor : M.Nabil

Satu Bulan Gema Doa Kemerdekaan RI 81: Energi Rahmat untuk Bumi Nusantara

Oleh: Aam Abdul Salam (Sekjen PPJNA98/Presidium MD KAHMI Sukabumi/Sekjen Komite Pergerakan Indonesia untuk Kedaulatan Pangan dan Energi)

Gurilaps.com || Kemerdekaan bukan sekadar peristiwa profan pemutusan belenggu kolonialisme di atas kertas sejarah. Secara hakiki, kemerdekaan adalah momentum spiritual saat sebuah bangsa diizinkan Tuhan untuk berdiri di atas kaki sendiri. Menjelang perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, sebuah panggilan melintasi langit Nusantara.

PPJNA98, Majelis Sholawat Cahaya Nusantara, Rumah Literasi Merah Putih, dan Sinergi Media Merah Putih menginisiasi gerakan batin yang masif: “Satu Bulan Gema Dzikir dan Doa Mensyukuri Kemerdekaan RI ke-81”. Ini bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah laku spiritual untuk mengetuk pintu langit.

Secara filosofis, bumi Indonesia yang membentang dari Sabang sampai Merauke adalah laboratorium anugerah Ilahi. Kekayaan sumber daya alam yang melimpah bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan amanah ideologis yang harus disyukuri. Berdzikir berarti menapakuri kebesaran Allah Tuhan Yang Maha Esa.

Ketika dzikir digemakan di setiap rumah, perkampungan, hingga pelosok Nusantara, terjadi resonansi energi positif yang besar. Secara spiritual, getaran doa ini bertujuan memancarkan cahaya Nur Muhammad—sebuah konsep ruang spiritual yang membawa rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam). Cahaya inilah yang diharapkan menjadi benteng makro dari segala bentuk perpecahan dan bencana.

Doa untuk Pemimpin: Pilar Stabilitas Negara

Dalam filsafat kenegaraan transendental, pemimpin adalah bayang-bayang keadilan Tuhan di muka bumi (zillullah fil ardh). Oleh karena itu, menjaga pemimpin dengan doa adalah kewajiban moral setiap warga negara.

Melalui momentum 81 tahun Indonesia Merdeka, doa tulus tanpa henti dipanjatkan untuk Presiden Prabowo Subianto sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan. Semoga beliau senantiasa diberikan kekuatan, kesehatan, serta bimbingan langsung dari Allah SWT dalam menakhodai kapal besar bernama Indonesia.Tak kalah penting, dukungan Do’a spiritual juga mengalir deras untuk para pilar pertahanan dan hukum negara: Panglima TNI, Kapolri, Menkopolhukam, Kepala BIN, dan Jaksa Agung.

Merupakan garda terdepan penegak keadilan dan kedaulatan NKRI. Kekuatan fisik dan strategi militer mutakhir tidak akan lengkap tanpa adanya intervensi spiritual. Sinergi antara ketegasan hukum, kekuatan militer, dan kebersihan hati para pemimpinnya adalah kunci utama menghadapi tantangan geopolitik global.

Menuju Indonesia Emas 2045: Pertahanan Rakyat Semesta

Satu bulan penuh gema dzikir ini menjadi pengingat bahwa jalan menuju Indonesia Emas 2045 tidak bisa hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur fisik. Fondasi karakter manusia yang spiritualis dan nasionalis adalah motor penggerak utama.

Ketika TNI, Polri, dan seluruh elemen pemerintah bersatu bersama rakyat dalam bingkai Sistem Pertahanan Rakyat Semesta (Sihanrata) yang diberkahi doa, maka kejayaan Indonesia bukan lagi sekadar impian.

Mari jadikan bulan kemerdekaan ke-81 ini sebagai bulan mengetuk pintu langit. Nyalakan pelita dzikir di rumah Anda, pancarkan energi positif ke tetangga, dan biarkan seluruh wilayah Nusantara berselimut cahaya keberkahan.

Merdeka lahirnya, jaya ruhaninya, menuju Indonesia emas 2045 !.

Editor : Rd.Ratu Dinar Nusantara

Gerakan Muharam Bersholawat: Ikhtiar Spiritual PPJNA98 Kawal Presiden Prabowo Berantas Korupsi

Gurilaps.com || Perjalanan waktu adalah hamparan kanvas sunyi, dan manusia adalah pelukis yang menorehkan takdirnya lewat bunyi dan laku. Pada hari ke-26 bulan Muharam ini, sebuah simfoni spiritual bergema dari sudut-sudut peradaban Indonesia. Aliansi gerakan yang dimotori oleh Anto Kusumayuda Ketum PPJNA98, Abdul Salam Nur Ahmad Sekjen PPJNA 98/Majelis Sholawat Cahaya Nusantara, Dede Heri Sinergi Media Merah Putih, dan Siti Ratna Maymunah Rumah Literasi Merah Putih, yang menginisiasi sebuah gerakan kultural yang melampaui batas politik praktis: Gerakan Muharam Bersholawat.

Di balik riuh rendah dinamika kekuasaan, gerakan ini hadir sebagai oase kosmis yang mengetuk pintu langit, menghiasi atmosfer negeri dengan gema takbir, tahmid, sholawat, dan doa yang merembes hingga ke pelosok Nusantara.

Secara filosofis, Muharam bukan sekadar pergantian angka pada kalender hijriah. Ia adalah simbol transmisi kesadaran, sebuah momentum hijrah dari kegelapan tirani menuju cahaya keadilan. Ketika gerakan ini menyerukan gema spiritual di seluruh penjuru negeri, ia sedang melakukan rekonstruksi estetika jiwa bangsa yang mulai luntur oleh pragmatisme zaman.

Seni bernegara dalam kearifan lokal kita tidak pernah memisahkan antara pemimpin, rakyat, dan Tuhan. Melalui resonansi sholawat, gerakan ini sejatinya sedang menyalakan kembali api spiritualitas Nusantara, mengundang hadirnya energi keberkahan dari para Auliya Wali Allah, para leluhur pendiri bangsa, serta spirit kepemimpinan para raja-raja Nusantara masa lalu.

Saat ini, jalannya roda pemerintahan di bawah Presiden Prabowo Subianto sedang berada dalam fase krusial, sebuah palagan perang suci melawan musuh tak terlihat namun nyata: korupsi dan mafia birokrasi. Dalam kacamata spiritual, korupsi bukan sekadar kejahatan finansial, melainkan sebuah penyakit mistis yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa. Korupsi adalah manifestasi dari angkara murka—keserakahan tak terbatas yang merusak harmoni alam dan kemanusiaan.

Menghadapi gurita mafia yang mengakar kuat di tubuh birokrasi tidak bisa hanya mengandalkan instrumen hukum positif yang kerap kali bisa dimanipulasi. Diperlukan kekuatan supranatural yang bersumber dari keikhlasan totalitas kepada Allah, Sang Pemilik Alam Semesta. Perang melawan korupsi yang dipimpin Presiden Prabowo membutuhkan perisai gaib berupa kesatuan batin seluruh rakyat.

Doa-doa yang dipanjatkan dalam Gerakan Muharam Bersholawat ini menjadi energi pendorong agar Presiden Prabowo senantiasa dianugerahi kekuatan fisik, ketajaman rasio, dan kesehatan batin dalam menjalankan amanah kepemimpinan yang berat ini. Ketika cahaya Illahi bersinergi dengan doa restu dari para leluhur tanah air, maka yang tercipta adalah sebuah benteng persatuan nasional yang tak tergoyahkan.

Secara metafisika, konspirasi dan persekongkolan jahat para koruptor mungkin terlihat sangat kuat secara materi dan jejaring. Namun, sejarah spiritual dunia telah membuktikan bahwa kejahatan yang terorganisir sekalipun akan luruh ketika berhadapan dengan frekuensi kesucian doa dan kebulatan tekad rakyat yang ikhlas.

Dengan persatuan rakyat yang berdiri kokoh di belakang Presiden Prabowo, segala bentuk makar ekonomi dan pengkhianatan birokrasi akan hancur dengan sendirinya oleh hukum alam. Semoga Allah SWT senantiasa memberkahi, melindungi Presiden Prabowo, dan menuntun negeri ini menuju gerbang kejayaan yang hakiki. Amiin Ya Rabbal Alamin. (Rd.Ratu Dinar Nusantara)***

Editor : AS

Di Balik 23 Murid Baru SDN Ciareuy, Ada Harapan Besar Mewujudkan Pembelajaran yang Lebih Personal

Gurilaps.com || Suasana Aula SDN Ciareuy, Desa Sindangresmi, Kecamatan Jampangtengah, Rabu (1/7/2026), dipenuhi wajah-wajah penuh harapan. Para orang tua datang untuk melakukan daftar ulang putra-putrinya yang akan mengawali perjalanan sebagai murid kelas I pada Tahun Ajaran 2026/2027.

Bagi sebagian orang, daftar ulang hanyalah proses administrasi. Namun bagi SDN Ciareuy, momentum ini menjadi langkah awal membangun pendidikan yang lebih dekat, personal, dan berpihak pada kebutuhan setiap anak.

Tahun ini, SDN Ciareuy menerima 23 peserta didik baru. Jumlah tersebut masih berada di bawah batas maksimal 28 siswa dalam satu rombongan belajar sebagaimana diatur dalam Permendikdasmen Nomor 26 Tahun 2025 tentang Standar Pengelolaan pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah.

Kepala SDN Ciareuy, Asep Jamaludin, mengatakan jumlah siswa yang tidak terlalu besar justru menjadi peluang untuk menghadirkan proses pembelajaran yang lebih efektif.

“Semakin sedikit jumlah siswa dalam satu kelas, guru akan semakin leluasa mengenali karakter, mendampingi proses belajar, dan memperhatikan perkembangan setiap anak secara lebih optimal,” ujarnya.

Menurut Asep, pendidikan pada jenjang sekolah dasar merupakan fase penting dalam pembentukan karakter dan kebiasaan belajar anak. Karena itu, perhatian yang lebih personal dari guru menjadi salah satu faktor yang sangat menentukan.

Ia mengungkapkan, penerimaan 23 murid baru tahun ini juga menjadi kabar menggembirakan bagi sekolah. Angka tersebut termasuk salah satu capaian penerimaan peserta didik terbanyak dalam beberapa tahun terakhir dan menunjukkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap SDN Ciareuy.

Tak hanya fokus pada kegiatan belajar mengajar, sekolah juga memastikan seluruh peserta didik memperoleh hak layanan pendidikan secara menyeluruh. Orang tua diingatkan untuk melengkapi dokumen administrasi, seperti Kartu Keluarga, KTP orang tua, serta dokumen pendukung lainnya yang akan diinput ke dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

Data tersebut menjadi dasar penting dalam penyaluran berbagai program bantuan pendidikan, termasuk Program Indonesia Pintar (PIP) maupun bantuan sosial lainnya bagi peserta didik yang memenuhi persyaratan.

Di awal tahun ajaran, SDN Ciareuy juga akan melakukan wawancara dengan orang tua murid. Langkah ini dilakukan untuk mengenali kondisi, kebiasaan, minat, hingga kebutuhan belajar setiap anak sejak hari pertama bersekolah.

Bagi pihak sekolah, mengenal latar belakang peserta didik bukan sekadar pelengkap administrasi, melainkan bagian dari upaya memastikan setiap anak mendapatkan layanan pendidikan yang sesuai dengan perkembangan dan potensinya.

Di tengah berbagai tantangan dunia pendidikan, langkah yang ditempuh SDN Ciareuy menunjukkan bahwa kualitas pembelajaran tidak semata diukur dari banyaknya jumlah siswa, melainkan dari sejauh mana sekolah mampu menghadirkan ruang belajar yang hangat, inklusif, dan memberi perhatian kepada setiap anak yang baru memulai perjalanan pendidikannya.(YM)***

Editor : M.Nabil

Harganas ke-33, Disdik Kab.Sukabumi Ingatkan Pendidikan Anak Dimulai dari Rumah dan Kehadiran Orang Tua

Gurilaps.com || Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi anak-anak pada era digital, mulai dari derasnya arus informasi hingga perubahan pola pergaulan, keluarga kembali diingatkan sebagai benteng pertama dalam membentuk karakter generasi masa depan.

Momentum Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 Tahun 2026 dimanfaatkan Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi untuk mengajak seluruh keluarga menjadikan rumah sebagai ruang pertama yang menghadirkan kasih sayang, pendidikan, dan teladan bagi anak.

Bagi Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh proses belajar di sekolah. Pembentukan karakter, kebiasaan baik, kedisiplinan, serta nilai-nilai moral justru mulai tumbuh dari lingkungan keluarga.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, Deden Sumpena, menegaskan bahwa orang tua memegang peran sentral dalam mendampingi tumbuh kembang anak, terutama pada fase-fase awal kehidupan.

“Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Dari rumah, anak belajar tentang kasih sayang, tanggung jawab, kedisiplinan, dan bagaimana menghargai sesama. Nilai-nilai itu akan menjadi bekal penting bagi mereka dalam menjalani pendidikan dan kehidupan di masa depan,” ujar Deden.

Peringatan Harganas tahun ini mengusung tema ‘Ayah Wajib Hadir’, sebuah pesan yang mengajak para ayah untuk tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga terlibat aktif dalam proses pengasuhan, pendidikan, dan pendampingan anak sehari-hari.

Menurut Deden, kehadiran ayah dan ibu secara utuh dalam kehidupan anak akan menciptakan lingkungan yang aman dan penuh dukungan, sehingga anak dapat tumbuh dengan rasa percaya diri, memiliki karakter yang kuat, serta lebih siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

Ia menilai, di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks, penguatan fungsi keluarga menjadi kebutuhan mendesak. Anak-anak membutuhkan ruang dialog, perhatian, dan pendampingan yang konsisten dari orang tua agar tidak kehilangan arah di tengah derasnya perubahan sosial dan teknologi.

Karena itu, peringatan Hari Keluarga Nasional diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan, tetapi menjadi momentum refleksi bagi setiap keluarga untuk kembali mempererat komunikasi, membangun kebersamaan, dan meningkatkan kepedulian terhadap pendidikan anak sejak dini.

Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi meyakini sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat akan menjadi fondasi lahirnya generasi yang cerdas, berkarakter, serta memiliki daya saing. Sebab di balik setiap anak yang tumbuh dengan baik, selalu ada keluarga yang hadir, mendampingi, dan menjadi tempat pertama bagi mereka belajar tentang kehidupan.***

Editor : M.Nabil

Di Bawah Langit Ada Alam Terbaik, Desa Mandrajaya Menyimpan Surga Wisata dan Potensi Ekonomi di Selatan Sukabumi

0

Gurilaps.com || Di ujung selatan Kabupaten Sukabumi, hamparan laut biru bertemu dengan perbukitan hijau, pantai berpasir putih, serta lahan pertanian yang subur. Perpaduan bentang alam tersebut menjadikan Desa Mandrajaya, Kecamatan Ciemas, sebagai salah satu desa yang menyimpan kekayaan alam dan potensi ekonomi yang menjanjikan.

Berada di kawasan penyangga Geopark Ciletuh, Desa Mandrajaya memiliki karakter geografis yang unik. Wilayahnya mencakup kawasan pesisir, dataran rendah, perbukitan, hingga hutan yang masih terjaga. Kondisi tersebut menjadikan desa ini memiliki sumber daya alam yang beragam dan menjadi salah satu kawasan strategis bagi pengembangan pariwisata dan ekonomi berbasis potensi lokal.

Secara administratif, Desa Mandrajaya berbatasan dengan Desa Ciwaru dan Desa Mekarsakti di sebelah utara, Desa Sidamulya di sebelah timur, Desa Cibenda dan Samudra Indonesia di sebelah selatan, serta Samudra Indonesia di sebelah barat.

Julukan “Di Bawah Langit Ada Alam Terbaik” seolah menjadi representasi keindahan Desa Mandrajaya. Dari garis pantainya yang mempesona hingga hamparan pertaniannya yang produktif, desa ini menawarkan panorama alam yang memikat sekaligus menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Sektor pertanian menjadi salah satu penopang ekonomi desa. Masyarakat mengembangkan berbagai komoditas unggulan seperti padi, semangka, cabai, terong, jagung, singkong, kelapa, dan beragam hasil hortikultura lainnya. Kesuburan lahan dan dukungan iklim menjadikan sektor pertanian di Mandrajaya memiliki prospek yang terus berkembang.

Di sektor kelautan dan perikanan, Desa Mandrajaya memiliki potensi yang tidak kalah besar. Kawasan ini dikenal dengan perikanan tangkap yang menjadi mata pencaharian sebagian masyarakat, budidaya ikan sidat yang memiliki nilai ekonomi tinggi, serta tambak udang yang berpotensi menjadi penggerak ekonomi lokal.

Tidak hanya itu, kawasan hutan mangrove yang masih terjaga juga menyimpan potensi besar sebagai destinasi ekowisata dan sarana edukasi lingkungan.

Potensi wisata alam Desa Mandrajaya pun menjadi daya tarik tersendiri. Pantai Cikadal menawarkan pesona pasir putih dan air laut yang jernih, menjadikannya destinasi yang ideal bagi wisatawan yang ingin menikmati ketenangan pesisir selatan Sukabumi.

Selain itu, terdapat Pantai Citirem, Pulau Mandra, dan Pulau Kunti yang menyuguhkan panorama wisata bahari yang eksotis. Sementara itu, Gunung Badak dan Batu Batik menjadi bagian dari kekayaan geologi kawasan Geopark Ciletuh yang menyimpan nilai edukasi sekaligus daya tarik wisata.

Keanekaragaman potensi yang dimiliki menjadikan Desa Mandrajaya memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai kawasan berbasis agrowisata, ekowisata, wisata bahari, serta pemberdayaan UMKM yang memanfaatkan hasil pertanian dan kelautan.

Dengan dukungan sumber daya alam yang melimpah dan semangat masyarakat dalam menjaga serta mengembangkan potensi daerahnya, Desa Mandrajaya memiliki modal kuat untuk tumbuh sebagai salah satu desa unggulan di Kabupaten Sukabumi.

Di bawah langit selatan Sukabumi, Desa Mandrajaya menghadirkan harmoni antara alam, budaya, dan kehidupan masyarakat. Sebuah desa yang tidak hanya menawarkan keindahan, tetapi juga menyimpan harapan besar bagi tumbuhnya ekonomi lokal dan pariwisata berkelanjutan di kawasan Geopark Ciletuh. (YM)***

Editor : Opik

DPRD Kab.Sukabumi Sahkan Pertanggungjawaban APBD 2025, Kabupaten Sukabumi Pertahankan WTP 12 Tahun Berturut-turut

Gurilaps.com || DPRD Kabupaten Sukabumi menyetujui Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2025 dalam Rapat Paripurna Ke-8 Tahun Sidang 2026 yang digelar di Ruang Rapat DPRD Kabupaten Sukabumi, Selasa (30/6/2026).

Rapat dipimpin Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi, Budi Azhar Mutawali, S.IP, didampingi Wakil Ketua II DPRD H. Usep, serta dihadiri Bupati Sukabumi Drs. H. Asep Japar, M.M., unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), anggota DPRD, kepala perangkat daerah, dan tamu undangan lainnya.

Dalam rapat tersebut, DPRD membahas dan mengambil keputusan terhadap Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025, dilanjutkan dengan pembacaan persetujuan bersama serta penandatanganan berita acara antara DPRD dan Pemerintah Kabupaten Sukabumi.

Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi, Budi Azhar Mutawali, mengatakan persetujuan Raperda merupakan hasil pembahasan bersama yang telah dilakukan sesuai mekanisme dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Alhamdulillah, pembahasan Raperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2025 telah mencapai kesepakatan bersama antara DPRD dan pemerintah daerah,” kata Budi.

Ia menegaskan, DPRD memberikan persetujuan disertai sejumlah rekomendasi dan catatan yang diharapkan menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pemerintahan dan pengelolaan keuangan daerah pada masa mendatang.

Pada kesempatan itu, Budi juga mengapresiasi capaian Pemerintah Kabupaten Sukabumi yang kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

“Pencapaian ini patut disyukuri karena Kabupaten Sukabumi berhasil mempertahankan opini WTP untuk ke-12 kali secara berturut-turut,” ujarnya.

Menurutnya, raihan tersebut mencerminkan komitmen bersama antara pemerintah daerah dan DPRD dalam mendorong tata kelola keuangan yang akuntabel dan transparan.

DPRD berharap, disetujuinya Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025 dapat menjadi pijakan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan anggaran daerah agar semakin efektif, tepat sasaran, dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat Kabupaten Sukabumi. (Yosep M)***

Editor : Opik

DPRD Kabupaten Sukabumi Ucapkan Selamat Hari Bhayangkara ke-80, Dorong Penguatan Sinergi dengan Polri

Gurilaps.com, Sukabumi || DPRD Kabupaten Sukabumi menyampaikan ucapan selamat Hari Bhayangkara ke-80 kepada seluruh jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), seraya mengapresiasi dedikasi Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat serta memberikan pelayanan kepada publik.

Ucapan tersebut disampaikan Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi, Budi Azhar Mutawali, S.IP, bersama jajaran pimpinan DPRD, yakni Wakil Ketua I Yudha Sukmagara, BBA., S.H., Wakil Ketua II H. Usep, dan Wakil Ketua III Ramzi Akbar Yusuf, serta didukung seluruh anggota DPRD Kabupaten Sukabumi.

Mengusung tema “Polri untuk Masyarakat” dan slogan “Tahun Mengabdi”, peringatan Hari Bhayangkara ke-80 dinilai menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat.

“Peringatan Hari Bhayangkara ke-80 merupakan bentuk penghormatan atas peran strategis Polri dalam menjaga situasi kamtibmas yang aman dan kondusif,” kata Budi Azhar.

Ia berharap kolaborasi yang selama ini terjalin dapat terus diperkuat guna mendukung pembangunan daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Sukabumi.

DPRD juga mengajak masyarakat untuk menjaga persatuan, memperkuat semangat gotong royong, serta mendukung upaya mewujudkan lingkungan yang aman, damai, dan kondusif.

“Selamat Hari Bhayangkara ke-80. Semoga Polri terus menjadi pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat yang profesional, humanis, dan semakin dicintai rakyat,” ujar Budi Azhar. (Yosep M)***

Redam Angkara Murka dengan Sholawat: Refleksi Hari ke-19 Gema Muharam untuk Indonesia Makmur

0
Gema Muharam Bersholawat Hari ke-19  diinisiasi oleh kolaborasi PPJNA 98, Majelis Sholawat Cahaya Nusantara, Rumah Literasi Merah Putih, dan Sinergi Media Merah Putih hadir bagai oase penyejuk jiwa

Gurilaps.com || Bulan Muharam bukan sekadar pergantian angka dalam kalender hijriah. Secara filosofis, ia adalah momentum transisi, sebuah gerbang eksistensial bagi manusia untuk melakukan kontemplasi mendalam (muhasabah) dan transformasi spiritual. Di tengah dinamika zaman yang kian berisik, acara “Gema Muharam Bersholawat Hari ke-19” yang diinisiasi oleh kolaborasi PPJNA 98, Majelis Sholawat Cahaya Nusantara, Rumah Literasi Merah Putih, dan Sinergi Media Merah Putih hadir bagai oase penyejuk jiwa.

Ketika kepungan istigfar dan sholawat bergema di seluruh pelosok Nusantara, kita sedang menyaksikan sebuah gerakan metafisika sosial. Gerakan yang tidak hanya membersihkan batin individu, tetapi juga memancarkan frekuensi kedamaian bagi kosmos Indonesia.

Istigfar dan Sholawat: Dialektika Pembersihan dan Penghambaan

Secara kefilsafatan, istigfar adalah pengakuan paling jujur atas keterbatasan manusia (human finitude). Ia adalah rem eksistensial yang memaksa ego manusia untuk tunduk, menyadari bahwa di atas segala daya yang kita miliki, ada Kuasa Yang Maha Mutlak. Istigfar adalah obat penawar paling mujarab untuk memadamkan api kemarahan, kebencian, dan angkara murka yang kerap membakar nalar sehat kita dalam kehidupan berbangsa.

Sementara itu, sholawat bekerja sebagai akselerator energi positif. Sholawat bukan sekadar komat-kamit bibir, melainkan manifestasi cinta (isyq) yang menghubungkan mikrokosmos (manusia) dengan makrokosmos melalui wasilah spiritual Baginda Nabi Muhammad SAW. Ketika istigfar bersanding dengan sholawat, tercipta sebuah dialektika spiritual yang sempurna: kita menguras racun-racun hati lewat permohonan ampun, lalu mengisinya kembali dengan pancaran cahaya kedamaian (Cahaya Nusantara).

Menebar energi positif, semangat, dan optimisme adalah tugas profetik kita hari ini. Kita musti percaya bahwa Allah Maha Pemberi Ampunan yang tidak akan pernah bosan melimpahkan karunia kebahagiaan kepada hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur. Menolak putus asa adalah bagian dari iman.

Rasa Syukur dan Amanah Geofilosofis Nusantara

Nusantara dirancang oleh Sang Pencipta dengan cetak biru (blueprint) yang luar biasa kaya. Dari sudut pandang geofilosofis, kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia—dari hamparan laut yang kaya hingga perut bumi yang menyimpan mineral berharga—bukan sekadar modal ekonomi. SDA tersebut adalah anugerah teologis sekaligus ujian moral.

Para leluhur bangsa telah mewariskan kearifan hidup untuk membaca alam sebagai tanda kebesaran-Nya. Amanah luhur ini kemudian dikristalisasikan secara legal dalam konstitusi kita. Perjuangan dan doa yang kita panjatkan hari ini adalah komitmen spiritual untuk memastikan bahwa seluruh karunia bumi ini dikelola demi mewujudkan rakyat yang adil, makmur, dan sejahtera.

Membiarkan keserakahan merusak alam atau membiarkan ketidakadilan merampas hak-hak rakyat adalah bentuk pengingkaran terhadap nikmat Allah (kufur nikmat). Sebaliknya, menggunakan SDA dengan bijaksana untuk kepentingan negara dan kemaslahatan publik sebagaimana amanah para leluhur dan amanah konstitusi pasal 33 UUD 45 adalah bentuk tertinggi dari rasa syukur yang sejati.

Menuju Keberkahan dan Perlindungan Ilahi

Melalui untaian doa di hari ke-19 Gema Muharam ini, kita sedang bersama-sama mengetuk pintu langit. Kita memohon rahmat keberkahan dan perlindungan Allah SWT agar seluruh pelosok Nusantara—dari ujung Sabang hingga merauke—dijauhkan dari bencana, perpecahan, dan konflik batin.

Mari kita sudahi narasi kebencian. Mari kita ganti angkara murka dengan gemuruh istigfar dan keindahan sholawat. Dengan cara inilah, Indonesia tidak hanya tumbuh sebagai negara yang maju secara material, tetapi juga menjelma menjadi Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur—sebuah negeri yang baik, subur, makmur, dan berada di bawah ampunan serta rida Allah SWT. (Rd.Ratu Dinar Nusantara)***

Editor : Yosep M

Gema Muharam Bersholawat: Momentum Spiritual Dukung Kebijakan Presiden Prabowo Dalam Tatakelola SDA

0

GURILAPS.COM, SUKABUMI || Momentum bulan suci Muharam bukan sekadar pergantian kalender hijriah. Lebih dari itu, Muharam adalah simbol hijrah, persatuan, dan kebangkitan spiritual bangsa. Spirit inilah yang bergemuruh dalam Gema Muharam Bersholawat, sebuah gerakan moral yang menjadi komitmen bersama para tokoh, ulama, dan aktivis untuk mengawal masa depan NKRI.

Dalam sebuah pernyataan bersama, para tokoh lintas sektor menegaskan bahwa kekuatan doa dan selawat harus menjadi fondasi utama dalam menjaga kedaulatan bangsa. Khususnya, dalam mendukung kebijakan Presiden Prabowo Subianto terkait tata kelola Kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia.

Hadir memberikan gagasan dan komitmen kebangsaan tersebut antara lain: Anto Kusumayuda (Ketua Umum PPJNA 98), Aam Abdul Salam (Sekjen PPJNA 98 / Presidium MD KAHMI Sukabumi), Dede Heri (Rumah Literasi Merah Putih), Siti Ratna Maymunah (Sinergi Media Merah Putih / Pengurus SMSI Sukabumi Raya), HM Fikrie (Majelis Sholawat Cahaya Nusantara), Yosep Maulana (Tokoh Aktivis Mahasiswa Palabuhanratu Sukabumi)

Jembatan Spiritual untuk Persatuan Nasional. Secara geopolitik dan ekonomi, Indonesia sedang berada di persimpangan jalan penting. Di tengah tantangan global, para tokoh menilai langkah Presiden Prabowo yang konsisten menggaungkan kemandirian nasional harus didukung penuh.

Gema Muharam Bersholawat hadir sebagai momentum sakral untuk membangun kembali persatuan nasional yang sempat terfragmentasi.

SDA Indonesia yang melimpah—mulai dari nikel, emas, minyak bumi, hingga kekayaan laut—merupakan berkah sekaligus amanah dari Tuhan Yang Maha Esa. Melalui lantunan selawat, ada pesan mendalam bahwa bumi pertiwi ini harus dijaga dengan hati yang bersih dan spiritualitas yang kokoh.

Oligarki Hitam: Pengkhianat Konstitusi dan Amanah Leluhur

Para tokoh dalam pernyataan bersama tersebut memberikan peringatan keras terkait ancaman nyata yang dihadapi bangsa: keserakahan kelompok tertentu. Jika tata kelola kekayaan sumber daya alam kita hanya dikelola demi syahwat kepentingan pribadi, kelompok semata, atau demi memuaskan kantong oligarki hitam, maka jelas itu adalah sebuah bentuk pengkhianat nyata.

Pertama, itu adalah pengkhianatan terhadap konstitusi negara, khususnya Pasal 33 UUD 1945 yang tegas memandatkan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Kedua,  itu merupakan pengkhianatan terhadap amanah para leluhur, para pendiri bangsa (founding fathers), serta para raja-raja Nusantara. Sejarah mencatat, para penguasa Nusantara terdahulu menyerahkan mandat, wilayah, dan restunya kepada pangkuan Republik dengan satu harapan besar: agar seluruh rakyat Indonesia bisa hidup sejahtera dan bermartabat di tanah airnya sendiri.

Mendukung Penuh Kebijakan Presiden Prabowo

Oleh karena itu, dari Sukabumi untuk Indonesia, koalisi masyarakat, akademisi, pers, dan tokoh agama ini menyatakan sikap bulat. Mereka mendukung penuh ketegasan kebijakan Presiden Prabowo dalam menata ulang ekosistem pengelolaan SDA.

Tujuan akhirnya hanya satu: kekayaan alam negeri ini wajib digunakan sepenuhnya untuk kepentingan negara, serta kemakmuran dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali.

Melalui momentum Gema Muharam Bersholawat, aspek spiritualitas dan nasionalisme dilebur menjadi satu kekuatan energi positif. Perjuangan merebut kedaulatan ekonomi bukan lagi sekadar urusan angka dan angka di atas kertas, melainkan sebuah ikhtiar suci dan kewajiban moral demi menunaikan janji sejarah kebangsaan kita. Serta laksanakan amanah leluhur para pendiri bangsa rakyat harus disejahterakan adil dan makmur. (M.Rafi Asyam)***

EDITOR : M.NABIL