Minggu, Juli 26, 2026
Beranda blog Halaman 3

Reses Paoji Disambut Antusias Warga Dapil V, Aspirasi Pembangunan Mengalir Deras

Gurilaps.com ||  Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi Fraksi PDI Perjuangan, Paoji, menuntaskan agenda Reses Kedua Tahun Sidang 2026 di Daerah Pemilihan (Dapil) V. Kegiatan berlangsung di Desa Cibadak (Kecamatan Pabuaran), Desa Cisitu (Kecamatan Nyalindung), dan Desa Cikarang (Kecamatan Cidolog).

Reses tersebut dihadiri unsur Forkopimcam, pemerintah desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, serta kaum perempuan. Suasana dialog berlangsung hangat dengan tingginya partisipasi warga yang menyampaikan berbagai usulan pembangunan.

Paoji mengapresiasi antusiasme masyarakat yang hadir. Menurutnya, reses menjadi sarana penting untuk mendengar langsung kebutuhan dan harapan warga.

“Antusiasme masyarakat sangat tinggi. Ini menunjukkan kepedulian bersama terhadap pembangunan daerah. Reses menjadi kesempatan bagi kami untuk mendengar langsung aspirasi warga,” ujarnya, Jumat (5/6/2026).

Dalam kesempatan itu, Paoji juga menjelaskan kondisi anggaran daerah yang saat ini menghadapi berbagai tantangan. Keterbatasan fiskal serta penyesuaian terhadap sejumlah program nasional membuat pemerintah daerah harus lebih selektif dalam menyusun prioritas pembangunan.

Meski demikian, Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sukabumi itu menegaskan komitmennya untuk terus mengawal aspirasi masyarakat agar dapat diperjuangkan melalui mekanisme yang berlaku.

Berbagai usulan yang disampaikan warga mencakup pembangunan infrastruktur, peningkatan pelayanan publik, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat. Seluruh aspirasi tersebut akan dihimpun dan dibawa ke pembahasan DPRD sebagai bahan perencanaan pembangunan daerah.

Melalui kegiatan reses ini, Paoji berharap komunikasi antara masyarakat dan wakil rakyat terus terjalin dengan baik sehingga pembangunan di Kabupaten Sukabumi dapat berjalan lebih merata dan tepat sasaran. (Yosep)***

Editor : M.Nabil

Dewan Mansurudin Serap Aspirasi Warga Cikakak, Infrastruktur Tani dan Wisata Jadi Prioritas

Gurilaps.com || Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi dari Fraksi PAN, Mansurudin atau yang akrab disapa Dewan Acuy, menyerap aspirasi masyarakat dalam Reses Ke-II Tahun Sidang 2026 di Kampung Kurnia, Desa Sukamaju, Kecamatan Cikakak, Kamis (4/6/2026).

Dalam dialog bersama warga, sejumlah usulan mengemuka, terutama terkait perbaikan saluran irigasi, pembangunan jalan usaha tani, serta pengembangan sarana pendukung sektor pariwisata.

Mansurudin mengatakan aspirasi yang disampaikan masyarakat akan menjadi bahan perjuangan di DPRD agar dapat masuk dalam program pembangunan daerah.

“Usulan terkait infrastruktur pertanian dan pengembangan wisata menjadi perhatian karena memiliki dampak langsung terhadap perekonomian masyarakat,” ujarnya.

Kegiatan reses yang dihadiri tokoh masyarakat, pemuda, serta perangkat lingkungan tersebut berlangsung interaktif. Reses menjadi sarana bagi anggota dewan untuk menyerap kebutuhan warga sekaligus memperkuat komunikasi dengan konstituen di daerah pemilihan.

Agenda ini merupakan bagian dari Reses Ke-II DPRD Kabupaten Sukabumi Tahun Sidang 2026 yang berlangsung pada 3–5 Juni 2026. (Yosep)***

Editor : DH

Menjaga Dapur Ibu Pertiwi: Filosofi di Balik Keputusan Besar Presiden Mengganti Kepala BGN

Diskusi malam santai dalami realitas hadir Aam Abdul Salam (Aktivis 98/Sekjen PPJNA 98/Presidium MD KAHMI Sukabumi), Dede Heri (Rumah Literasi Merah Putih), Siti Ratna Maymunah (Bendahara SMSI Sukabumi Raya/Pemilik Wartain.com), Asep Sugianto (Aktivis HMI Cabang Sukabumi), dan M. Rafi Asyam (Pemilik Bisnisnews.net)

Gurilaps.com || Diskusi malam selalu punya cara sendiri untuk mendalami realitas. Di bawah temaram lampu dengan hangatnya kopi dengan gula merah, sebuah obrolan santai mengalir hangat di Sukabumi. Malam itu, beberapa tokoh berkumpul: Aam Abdul Salam (Aktivis 98/Sekjen PPJNA 98/Presidium MD KAHMI Sukabumi), Dede Heri (Rumah Literasi Merah Putih), Siti Ratna Maymunah (Bendahara SMSI Sukabumi Raya/Pemilik Wartain.com), Asep Sugianto (Aktivis HMI Cabang Sukabumi), dan M. Rafi Asyam (Pemilik Bisnisnews.net).

Topik yang memantik obrolan bukanlah hal ringan, melainkan keputusan besar Presiden Prabowo Subianto yang baru saja mengganti Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Sebuah langkah taktis yang lahir dari ruang evaluasi.

Melihat politik dan kebijakan publik jangan melulu dari kacamata kalkulasi kaku. Memimpin adalah sebuah seni. Pergantian kepala lembaga di tengah jalan bukanlah bentuk kegagalan, melainkan sebuah simfoni yang sedang diselaraskan.

Presiden Prabowo sedang memainkan peran sebagai konduktor orkestra. Ketika ada satu instrumen yang kurang harmonis dalam mengeksekusi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sang konduktor harus berani menggantinya demi menghasilkan nada yang sempurna. Estetika kepemimpinan terletak pada keberanian mengambil keputusan cepat demi kepentingan publik.

Filsafat Keberlanjutan dan Struktur Ekonomi Masa Depan

Dari sudut pandang filsafat, program MBG adalah manifestasi dari keadilan sosial yang paling mendasar. Bagaimana kita bisa bicara tentang pemikiran besar, teknologi, atau demokrasi, jika urusan perut anak-anak bangsa belum selesai? Ini adalah urusan eksistensial manusia.

Secara ekonomi, program ini merupakan investasi jangka panjang (human capital investment). Dana yang bergulir untuk program makan gratis bukanlah pemborosan, melainkan stimulus ekonomi lokal. Petani, peternak, dan UMKM katering di daerah akan bergerak. Ini adalah cetak biru untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas menuju Indonesia Cerdas dan Indonesia Emas 2045.

Spiritualitas Kenegaraan: Melanjutkan Mandat Para Wali

Obrolan malam itu menyentuh titik paling esensial: spiritualitas dalam bernegara. Program MBG bukan sekadar bagi-bagi makanan, melainkan sebuah laku spiritual kenegaraan yang sangat mulia.

Ini adalah penjabaran dari amanah para pendiri bangsa dan doa para wali serta aulia Allah. Negara hadir untuk memastikan tidak boleh ada satu pun anak Indonesia, ibu hamil, atau bayi menyusui yang kelaparan di atas tanah yang subur ini. Melindungi kaum rentan adalah perintah Tuhan yang diadopsi ke dalam konstitusi.

Pasang Badan Melawan Badai Kritik

Tantangan pelaksanaan MBG ini tentu raksasa. Serangan, nyinyiran, dan bulian di media sosial terus bertubi-tubi meminta program ini dihentikan. Namun, di sinilah karakter asli seorang pemimpin diuji.

Presiden Prabowo memilih untuk pasang badan. Apapun situasinya, beliau tetap tegar berdiri melindungi anak-anak Indonesia sebagai generasi penerus kepemimpinan bangsa. Sebuah ketegasan yang mengingatkan kita bahwa kedaulatan sejati dimulai dari isi piring anak-anak kita sendiri dengan makanan yang bergizi dan berkualitas. ***

Editor : Yosep M

Pasangan Calon Nomor 1 Siap Pimpin BEM FH Unpas dengan Semangat “BERANI” dan “SEHATI”

Gurilaps.com, Bandung || Kontestasi pemilihan Ketua dan Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pasundan (BEM FH Unpas) mulai mendapat perhatian dari kalangan mahasiswa. Pasangan calon nomor urut 1, Hafidz Januar Rizky dan Rajwa Khairunnisa, menyatakan kesiapan mereka untuk maju dan membawa perubahan bagi organisasi mahasiswa di lingkungan Fakultas Hukum Universitas Pasundan.

Dengan mengusung tagline “BERANI” dan “SEHATI”, pasangan ini hadir membawa visi kepemimpinan yang aktif, inklusif, serta berorientasi pada aspirasi mahasiswa. Tagline BERANI memiliki makna Bergerak, Advokatif, Naratif, dan Intelektual. Melalui konsep tersebut, Hafidz dan Rajwa ingin menjadikan BEM FH Unpas sebagai organisasi yang mampu bergerak nyata dalam memperjuangkan kepentingan mahasiswa serta menjadi ruang lahirnya pemikiran kritis dan solutif.

Hafidz Januar Rizky mengatakan bahwa mahasiswa hukum harus memiliki keberanian untuk menyuarakan aspirasi serta memberikan kontribusi positif, baik di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat. Menurutnya, BEM tidak hanya berfungsi sebagai organisasi formal mahasiswa, tetapi juga menjadi wadah perjuangan dan pengembangan kapasitas intelektual mahasiswa Fakultas Hukum.

“Kami ingin menghadirkan BEM yang aktif bergerak, responsif terhadap persoalan mahasiswa, dan mampu menjadi jembatan komunikasi yang baik antara mahasiswa dengan pihak kampus,” ujar Hafidz.

Sementara itu, Rajwa Khairunnisa menjelaskan bahwa semangat SEHATI yang mereka usung memiliki arti Sinergis, Empatis, Harmonis, Integritas, dan Inklusif. Nilai tersebut menjadi dasar bagi pasangan nomor urut 1 dalam membangun organisasi yang terbuka serta mampu merangkul seluruh mahasiswa tanpa memandang latar belakang.

“Kami ingin menciptakan suasana organisasi yang nyaman, harmonis, dan penuh rasa kekeluargaan. BEM harus menjadi rumah bersama bagi seluruh mahasiswa FH Unpas,” kata Rajwa.

Pasangan calon nomor urut 1 tersebut juga berkomitmen untuk meningkatkan kualitas kegiatan akademik, sosial, dan advokasi mahasiswa. Mereka berharap BEM FH Unpas dapat menjadi organisasi yang lebih progresif serta mampu memberikan dampak nyata bagi mahasiswa maupun masyarakat luas.

Dengan semangat “BERANI” dan “SEHATI”, Hafidz Januar Rizky dan Rajwa Khairunnisa optimistis mampu membawa perubahan positif serta membangun BEM FH Unpas yang lebih solid, aktif, dan berintegritas.***

(M.Nabil/RED)

Menjemput Ikhlas di Hari Raya: Obrolan Sore Idul Qurban, Jiwa Kepemimpinan, dan Ujian Fitnah “Pesta Babi”

GURILAPS.COM || Aroma khas sate yang dibakar membawa kehangatan di sudut beranda sore itu. Suasana Idul Adha 1447 H kali ini terasa begitu mengalir.

Di tengah kepulan asap tipis dan seduhan kopi hitam, beberapa sahabat lama berkumpul. Ada Anto Kusumayuda (Aktivis 98/Ketua Umum PPJNA 98), Aam Abdul Salam (Aktivis 98/Sekjen PPJNA 98), Dede Heri dari Rumah Literasi Merah Putih, serta Siti Ratna Maymunah, CEO Wartain.com. Obrolan mereka tidak berat, namun perlahan menyelami palung filosofi, budaya, dan spiritualitas yang mendalam.

Esensi Qurban: Totalitas Melampaui Ego

Dede Heri membuka obrolan dengan tatapan menerawang. Bagi pegiat literasi ini, Idul Qurban bukan sekadar ritual menyembelih hewan secara fisik.

“Secara kultural dan spiritual, Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS sedang mempertontonkan puncak tertinggi dari cinta,” ujar Dede santai sembari membetulkan posisi duduknya. “Nabi Ibrahim tidak sedang menyembelih anaknya, melainkan sedang menyembelih rasa kepemilikan. Nabi Ismail pun bukan pasrah karena kalah, tapi karena berserah secara total pada Kebenaran Mutlak. Nilai spiritual inilah yang harus dibumikan dalam ruang kekinian kita.

“Aam Abdul Salam mengangguk setuju. Mantan aktivis 98 ini melihat ada benang merah yang tebal antara totalitas ketaatan spiritual tersebut dengan realitas sosial-politik hari ini.

“Ketaatan total itu kalau diterjemahkan ke dalam bahasa bernegara namanya pengabdian tanpa batas,” sahut Aam. “Sikap berserah dan berkorban untuk kepentingan yang lebih besar itulah yang hari ini kita lihat sedang dicontohkan oleh Presiden Prabowo Subianto.

“Kepemimpinan yang Mengayomi dan Jiwa “Sekolah Rakyat”

Anto Kusumayuda, sang Ketua Umum PPJNA 98, kemudian mengambil alih ritme obrolan. Dengan gaya bicaranya yang taktis namun tetap rileks, ia mengulas bagaimana totalitas ala Ibrahimiah itu mewujud dalam kebijakan negara.

“Prabowo itu bekerja dengan cara mengayomi dan melindungi rakyatnya secara total. Coba lihat fokusnya: memastikan tidak ada anak-anak yang kelaparan, memberikan makanan bergizi, dan membangun basis ‘sekolah rakyat’ agar pendidikan bisa diakses semua kalangan,” jelas Anto sembari menyeruput kopinya.

Bagi Anto, menjaga sumber daya alam agar tetap dikelola secara mandiri demi kepentingan bangsa adalah bentuk ‘qurban’ politik yang nyata. “Beliau sedang mengorbankan kenyamanan personalnya demi memastikan kedaulatan negara tetap utuh di tangan rakyat,” tambahnya.

Siti Ratna Maymunah, selaku nakhoda media online, memandang hal ini dari kacamata kultural masyarakat. “Pemimpin yang ikhlas itu biasanya jalannya tidak pernah mulus. Semakin total ia berbagi dan berbakti, semakin besar pula angin ujian yang menerpa. Dan di era digital ini, ujian paling nyata berbentuk narasi visual dan fitnah,” ungkap Siti.

Menepis Badai Fitnah: Kasus Film “Pesta Babi”

Perbincangan mengalir makin hangat saat membahas ujian-ujian yang kerap mendiskreditkan pemerintah. Salah satu yang paling hangat adalah munculnya serangan fitnah lewat medium film bertajuk “Pesta Babi”.

Film tersebut mencoba menggiring opini seolah-olah kepemimpinan Presiden Prabowo adalah aktor di balik kerusakan yang terjadi di tanah Papua.

Anto Kusumayuda langsung meluruskan disinformasi tersebut dengan nada jernih tanpa emosi. “Ini pentingnya literasi sejarah dan kebijakan. Masyarakat harus paham, proyek strategis nasional (PSN) yang berjalan di Papua saat ini merupakan kelanjutan dari kebijakan yang sudah dicanangkan sejak era Presiden Jokowi. Menimpakan kesalahan itu secara sepihak kepada Prabowo jelas sebuah kekeliruan yang disengaja.”

“Dengan analisis yang lebih tajam. Menurutnya, serangan melalui film tersebut sama sekali tidak memiliki dasar faktual yang kuat, ujar Anto.

“Targetnya jelas bukan sekadar kritik domestik. Narasi-narasi miring semacam film ‘Pesta Babi’ ini sangat rawan ditunggangi dan dimanfaatkan oleh kepentingan asing. Mereka sengaja menciptakan instabilitas di Papua agar bisa masuk dan menguasai kekayaan alam di sana. Pola-pola adu domba seperti ini sudah lagu lama dalam sejarah budaya kita,” tegas Anto.

Keikhlasan yang Menembus Batas

Sore makin larut, namun esensi obrolan justru kian mengerucut indah. Dede Heri menutup diskusi santai tersebut dengan sebuah refleksi spiritual yang menyejukkan.

“Pada akhirnya, setiap perjuangan besar selalu sepaket dengan ujian yang besar pula. Ibrahim lolos dari ujian karena ia ikhlas. Ismail selamat karena ia rida,” tutur Dede lembut.

Segala bentuk fitnah, serangan, maupun dinamika global yang menerpa kepemimpinan nasional saat ini diyakini akan mampu dilewati. Syaratnya adalah memegang teguh spirit Idul Qurban: keteguhan hati, totalitas pengabdian, serta keikhlasan untuk terus berbagi dan melindungi sesama.

Seperti halnya Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang menjalankan amanah dengan kepala tegak, esok hari kebenaran akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk bersinar.***

EDITOR : YOSEP M

Sinergi Geopark Ciletuh: Ciemas Sukabumi Dorong Swasembada Pangan Lewat Program MBG

Gurilaps.com || Kecamatan Ciemas kini resmi memegang peran ganda strategis sebagai lumbung pangan sekaligus episentrum wisata Kabupaten Sukabumi. Hal ini ditegaskan Bupati Sukabumi, H. Asep Japar, saat menghadiri Gerakan Panen Padi di lahan Kelompok Tani Nanjung Tani, Desa Tamanjaya, Kecamatan Ciemas, Senin (25/5/2026).

Secara makroekonomi, Ciemas berkontribusi besar membawa Kabupaten Sukabumi meraih penghargaan nasional peringkat kedua sektor pertanian dari Presiden RI. Guna memperkuat posisi tawar petani di pasar, pemerintah meluncurkan Koperasi Desa Merah Putih. Langkah ini diambil untuk memutus rantai tengkulak (ijon) dan menjaga stabilitas harga gabah di tingkat produsen.

“Petani harus mendapatkan harga jual yang baik. Hasil pertanian kita harus diserap dan dimanfaatkan di Sukabumi sendiri,” ujar H. Asep Japar.

Pemerintah daerah juga mengintegrasikan hasil panen ini dengan hilirisasi ekonomi lokal. Beras dari Ciemas diproyeksikan menjadi pemasok utama program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Sukabumi. Hal ini menciptakan perputaran uang yang mandiri di dalam daerah.Ketahanan Pangan Berbasis Budaya Agraris

Keberhasilan pertanian di Ciemas tidak lepas dari budaya agraris masyarakat yang mengakar kuat. Tradisi gotong royong dan penghormatan terhadap tanah tercermin dalam produktivitas Kelompok Tani Nanjung Tani. Kerja keras kolektif ini menjadi modal sosial yang kuat dalam menjaga ketahanan pangan ditengah modernisasi.

Pemerintah mendukung kearifan lokal ini dengan memodernisasi alat tanpa merusak tatanan sosial, yaitu lewat penyerahan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) serta komitmen perbaikan jaringan irigasi.

Agrowisata Berkelanjutan di Kawasan Geopark Ciletuh

Dari sisi pariwisata, Ciemas merupakan gerbang utama kawasan Unesco Global Geopark Ciletuh-Palabuhanratu. Kehadiran hamparan sawah hijau di Desa Tamanjaya menciptakan lanskap agrowisata bernilai tinggi. Sinergi antara hamparan pertanian, budaya lokal, dan wisata alam ini menawarkan konsep eco-tourism yang menarik wisatawan domestik hingga mancanegara. Integrasi ini memastikan bahwa pembangunan ekonomi tidak hanya bertumpu pada sektor wisata buatan, melainkan pada kelestarian alam dan ketahanan pangan yang berkelanjutan. (Yosep)***

Editor : M.Nabil

Rayakan Persib Juara, Bobotoh Bandung, Sukabumi Hingga Banten Tumpah Ruah ke Jalan

Gurilaps.com || Euforia kemenangan Persib Bandung di BRI Super League 2026 tidak hanya dirasakan warga Bandung. Bobotoh dari berbagai penjuru kota tumpah ruah ke jalanan untuk merayakan hat-trick juara Pangeran Biru, Minggu (24/5/2026).

Salah satunya datang dari Kabupaten Sukabumi. Helvy Agustini, mahasiswi semester 6 UPI Bandung yang tergabung dalam komunitas “Maung Geulis”, ikut ambil bagian dalam konvoi kemenangan bersama ribuan suporter lainnya.

Bagi Helvy, perayaan ini bukan sekadar hura-hura. Ia menilai kemenangan Persib adalah buah dari perjuangan panjang seluruh elemen tim.

“Kami ikut merayakan bukan untuk hura-hura, akan tetapi lebih kepada penghargaan atas semua perjuangan, baik pemain, manajemen maupun bobotoh yang selalu setia mendukung tim kesayangannya,” ujarnya di sela konvoi.

Semangat serupa juga disampaikan Bobotoh asal Rangkasbitung, Banten, Muzaika Rival. Ia sengaja datang ke Bandung untuk menyaksikan langsung euforia juara yang bersejarah bagi Persib.

Rival menyebut hat-trick juara ini sebagai torehan luar biasa dalam sejarah sepak bola Indonesia. Menurutnya, belum ada klub lain yang mampu mencapainya dalam format Liga Super.

“Ini pertama kali. Persib berhasil mencetak sejarah. Baru tahun ini klub di Indonesia yang berhasil mencetak hattrick. Luar biasa Persib. Selamat buat Persib,” kata Rival penuh bangga.

Kehadiran Bobotoh dari luar Bandung menunjukkan betapa luasnya basis dukungan Persib. Dukungan itu datang dari berbagai daerah, mulai dari Sukabumi, Banten, hingga wilayah Jawa Barat lainnya yang menggelar nobar serentak.

Sebelumnya, ribuan Bobotoh Sukabumi juga memadati Lapang Gumbira Nagrak untuk nobar laga penentuan melawan Persijap Jepara. Acara yang digagas Pemkab Sukabumi itu menjadi bukti bahwa kecintaan pada Persib menyebar hingga ke pelosok.

Kini, setelah pesta juara selesai, harapan besar tertuju pada masa depan tim. Baik Helvy maupun Rival sepakat bahwa Persib harus terus meningkatkan prestasi, tidak hanya di level nasional.

“Prestasinya terus ditingkatkan. Kami sangat berharap Persib menjadi yang terbaik di tingkat Asia,” tandas Rival yang diamini Helvy.

Dengan semangat kebersamaan yang terus menyala, Bobotoh optimistis Maung Bandung bisa membawa nama Indonesia berkibar lebih tinggi di panggung Asia.***

Editor : Aab Abdul Malik

Oligarki Hitam Mengamuk, Kedaulatan Nusantara Berdiri Tegak: Catatan dari Rumah Literasi Merah Putih

Cercle de diskusi ditemani aroma kopi khas Sukabumi yang pekat, diskusi kecil mengalir santai namun sarat makna hadir Ketua Umum PPJNA 98 Anto Kusumayuda, Sekjen PPJNA 98 Aam Abdul Salam (yang juga Penasehat SMSI/PWI Kabupaten Sukabumi sekaligus Presidium MD KAHMI Sukabumi), Dede Heri dari Rumah Literasi Merah Putih, dan Siti Ratna Maymunah, CEO Wartain.Com/Bendahara SMSI Sukabumi. 

Gurilaps.com || Malam Sabtu, 22 Mei 2026, udara Sukabumi terasa hangat di dalam Rumah Literasi Merah Putih [Cercle de diskusi]. Ditemani aroma kopi khas Sukabumi yang pekat, sebuah diskusi kecil mengalir santai namun sarat makna.

Hadir dalam lingkaran tersebut Ketua Umum PPJNA 98 Anto Kusumayuda, Sekjen PPJNA 98 Aam Abdul Salam (yang juga Penasehat SMSI/PWI Kabupaten Sukabumi sekaligus Presidium MD KAHMI Sukabumi), Dede Heri dari Rumah Literasi Merah Putih, dan Siti Ratna Maymunah, CEO Wartain.com sekaligus Bendahara SMSI Sukabumi.

Dari cangkir-cangkir kopi ini, lahir sebuah perenungan mendalam tentang nasib dan masa depan Ibu Pertiwi.

Perang Spiritual dan Budaya Membela Tanah Air

Secara filosofis, Indonesia sedang berada dalam fase pembersihan besar-besaran. Langkah tegas Presiden Prabowo Subianto dalam memberantas korupsi dan membersihkan oligarki hitam adalah wujud nyata dari menjaga kesucian Nusantara. Oligarki hitam selama ini bertindak layaknya parasit yang merampas kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) milik rakyat. Dalam pendekatan spiritual, membela hak rakyat atas tanah dan isi bumi adalah amanah suci para leluhur, sesepuh Nusantara, dan para ulama.

Upaya menyelamatkan lahan-lahan negara yang dikuasai swasta secara ilegal bukan sekadar urusan hukum. Ini adalah urusan mengembalikan martabat bangsa.

Melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), negara hadir memastikan anak-anak Indonesia—sebagai masa depan bangsa—tulang punggungnya kuat dan otaknya cerdas. Ini adalah pengejawantahan dari amanah untuk menjaga, melindungi, dan mencintai seluruh rakyat tanpa kecuali.

Trisakti Bung Karno dan Ketahanan Nasional yang Digoyang

Langkah Presiden Prabowo sebenarnya sedang mewujudkan Trisakti Bung Karno: berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Membangun ketahanan pangan dan kemandirian energi adalah harga mati untuk kedaulatan nasional.

Namun, kemandirian ini membuat pihak asing dan mafia oligarki hitam meradang. Kenyamanan mereka dalam merampok kekayaan alam Indonesia kini terganggu.

Skenario klasik pun dimainkan. Melalui instrumen global dan jejaring domestik—termasuk oknum NGO dan akademisi—mereka mulai menyerang. Rupiah ditekan, bursa saham digoyang, dan narasi negatif diproduksi secara masif untuk memframing seolah-olah Presiden Prabowo gagal memimpin.

Ironisnya, ada keprihatinan mendalam yang mencuat dalam diskusi malam itu. Beberapa tokoh dan partai politik yang mengklaim mewarisi ideologi Bung Karno justru tidak mendukung langkah nyata ini. Demi syahwat politik jangka pendek, mereka malah ikut menari dalam tabuhan gendang oligarki, ikut memframing negatif, dan berusaha menjatuhkan presiden yang sedang berjuang demi kedaulatan rakyat.

Doa Rakyat Adalah Benteng Tertinggi

Secara kalkulasi politik hitam, serangan bertubi-tubi ini tampak mengerikan. Namun secara filsafat kehidupan, kebenaran tidak akan pernah tertukar. Upaya untuk menjatuhkan Presiden Prabowo dipastikan akan kandas. Kekuatan sejati seorang pemimpin terletak pada kemanunggalannya dengan rakyat.

Ketika seorang pemimpin berjuang demi perut anak-anak miskin dan kedaulatan tanah leluhur, maka hukum alam dan rido Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa akan bekerja. Hati, spiritualitas, dan doa seluruh rakyat Indonesia akan selalu berdiri kokoh menjadi benteng di belakang Presiden Prabowo. Nusantara tidak akan membiarkan dirinya dirampok lagi.***

Editor : Yosep M

Menyalakan Kembali Api Spirit 21 Mei: Prabowo Perang Lawan Oligarki, Langkah Kesatria di Jalan Umar bin Khattab

Oleh : Aam Abdul Salam, Aktivis 98/Sekjen PPJNA 98, Presidium MD KAHMI Sukabumi, Penasehat PWI/SMSI Sukabumi, Pembina Yayasan Majelis Dzikir Merah Putih

Gurilaps.Com || 21 Mei, penanggalan sejarah kembali mengetuk kesadaran kita. Dua puluh delapan tahun lalu, Reformasi bergulir dengan janji besar: mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat. Namun dalam perjalanannya, kebebasan politik sering kali dibajak oleh segelintir elite yang menguras isi bumi pertiwi. Di titik refleksi inilah, kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto hadir bukan sekadar sebagai kelanjutan administratif, melainkan sebuah momentum pembersihan sejarah.

Secara filosofis, kekuasaan dalam tradisi Nusantara adalah wahyu jatiningrat—sebuah amanah sakral untuk memuliakan manusia, bukan alat menumpuk harta. Prabowo tampaknya memahami betul ruh politik kebangsaan dan kerakyatan ini. Gerakan progresifnya merebut kembali lahan-lahan negara yang telantar atau dikuasai secara ilegal untuk dialihkan menjadi lumbung pangan dan pusat energi mandiri adalah aksi nyata dekolonisasi modern. Negara tidak lagi tunduk pada korporasi, melainkan hadir sebagai pelindung komunal.

Langkah ini berkelindan erat dengan dimensi spiritual yang dalam. Ketika program makanan bergizi gratis digulirkan untuk anak-anak sekolah dan ibu hamil di pelosok nusantara, kita seperti melihat kembali fragmen sejarah Khalifah Umar bin Khattab. Pemimpin besar Islam itu rela memikul sendiri karung gandum di kegelapan malam demi memastikan tidak ada satu pun rakyatnya yang kelaparan. Prabowo sedang menapaki jalan spiritual tersebut: menyiapkan Generasi Emas bukan dengan retorika, melainkan dengan pemenuhan gizi nyata di atas piring-piring anak bangsa.

Namun, setiap fajar pembaruan selalu dihadang oleh pekatnya malam. Ketegasan pemerintah menghantam mafia kelas kakap—termasuk para drakula minyak yang kini mulai mengenakan rompi tersangka—memicu kepanikan luar biasa di lingkaran oligarki hitam. Mereka yang terbiasa menjadikan Indonesia sebagai sapi perah kini meradang.

Gerakan perlawanan balik (counter-attack) dari para mafia ini bergerak senyap namun masif, berkolaborasi dengan kepentingan asing yang tidak ingin Indonesia mandiri. Senjata-senjata klasik mulai diluncurkan: nilai tukar Rupiah digempur di pasar keuangan untuk menciptakan kepanikan ekonomi, sementara jaringan LSM yang disubstitusi dana asing mulai bermanuver memproduksi narasi-narasi miring.

Setiap kebijakan pengelolaan sumber daya alam (SDA) dan hilirisasi energi yang menguntungkan rakyat selalu dicari celahnya untuk didelegitimasi.

Inilah ujian estetika politik yang sesungguhnya. Pertarungan hari ini adalah benturan antara “kesatriaan” melawan “keserakahan”. Asing dan kaki tangannya ingin Indonesia tetap menjadi pasar yang konsumtif dan lumbung bahan mentah yang murah. Sementara Prabowo memilih jalur tegak: memastikan kedaulatan penuh atas air, tanah, dan udara demi kemakmuran domestik.

Sebagai seorang kesatria yang memegang teguh amanah para wali, pendiri bangsa, dan raja-raja Nusantara, serangan fajar dari berbagai penjuru ini tampaknya tidak akan membuat langkah Prabowo goyah.

Sejarah mencatat bahwa pemimpin yang bergerak dengan ketulusan untuk perut rakyatnya akan selalu memiliki perisai terkuat. Perisai itu bernama cinta rakyat dan untaian doa dari para ulama serta Kekasih Allah (Aulia).Tantangan ke depan memang tidak mudah, namun ini adalah harga yang harus dibayar untuk menjadi bangsa yang besar.

Di bawah perlindungan Allah SWT, bersama keteguhan kepemimpinan yang berpihak pada Wong Cilik, Indonesia sedang berjalan tegap keluar dari bayang-bayang neokolonialisasi menuju kejayaan yang hakiki. Sehat selalu, Pak Presiden. Indonesia bersamamu.***

Editor : Yosep M

Sambut Tol Dibuka, Pemkot Sukabumi Siapkan Pariwisata Hadapi Lonjakan Wisatawan 

Gurilaps.com || Pemerintah Kota Sukabumi mulai persiapkan sektor pariwisata sebagai salah satu unggulan daerah menjelang dibukanya akses jalan tol menuju Sukabumi. Persiapan itu dilakukan melalui kegiatan Sukabumi Tourism yang digagas Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Sukabumi di Ruang Utama Balai Kota Sukabumi, Sabtu (16/05/2026).

Wakil Wali Kota Sukabumi, Bobby Maulana menegaskan bahwa program Sukabumi Tourism menjadi salah satu langkah pemerintah daerah untuk memperkenalkan potensi wisata yang dimiliki Kota Sukabumi.

“Program ini menjadi bagian dari strategi pengembangan sektor pariwisata menjelang dibukanya akses jalan tol menuju Sukabumi yang diproyeksikan semakin meningkatkan mobilitas wisatawan ke wilayah Sukabumi,” katanya.

Ia menjelaskan, sebelumnya Pemerintah Kota Sukabumi telah menggelar Sukabumi Walking Tour yang mengajak peserta menelusuri sejumlah bangunan heritage, mengenal sejarah kota, hingga menikmati kuliner khas Sukabumi.

Program tersebut kini dilanjutkan melalui Sukabumi City Tour sebagai bagian dari penguatan promosi wisata daerah.

Selain itu, Bobby juga mengapresiasi sinergi lintas perangkat daerah dalam menyukseskan kegiatan tersebut, termasuk dukungan armada wisata bagi peserta city tour.

“Kota Sukabumi memiliki banyak potensi yang dapat menjadi daya tarik wisata, mulai dari wisata sejarah, budaya, toleransi, hingga kuliner khas daerah,” ujarnya.

Menurutnya, Kota Sukabumi juga dikenal sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia. Keberadaan tempat ibadah dan bangunan heritage yang berdiri berdampingan menjadi simbol keharmonisan masyarakat di kota tersebut.

Tak hanya itu, Balai Kota Sukabumi yang menjadi lokasi kegiatan pun memiliki nilai sejarah karena merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda yang masih mempertahankan arsitektur khas Sunda.

“Melalui program Sukabumi Tourism, Pemerintah Kota Sukabumi berharap sektor pariwisata dapat terus berkembang dan memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat, sekaligus memperkuat identitas Kota Sukabumi sebagai kota kecil yang kaya sejarah, budaya, dan keramahan,” pungkasnya.***

Editor : Rd.Haraqi Siliwangi