Kamis, April 23, 2026
Beranda blog Halaman 3

Idul Fitri 1447 H: Menjemput Energi Ilahi, Memperkokoh Perisai Pertiwi Melindungi Presiden Prabowo

Oleh : Aam Abdul Salam, Penasehat PWI Kab.Sukabumi dan SMSI Sukabumi, Presidium KAHMI Sukabumi, Sekjen Komite Nasional Kedaulatan Energi, Sekjen Perhimpunan Pergerakan Jejaring Nasional Aktivis 98 – PPJNA 98.

GURILAPS.COM || Gema takbir yang menggetarkan angkasa pada 1 Syawal 1447 H bukan sekadar penanda berakhirnya dahaga raga, melainkan sebuah simfoni eksistensial tentang kembalinya manusia ke titik nol (fitrah). Secara filosofis, Idul Fitri adalah momen re-birth, di mana jiwa membasuh debu egoisme untuk kembali pada kemurnian asal. Sebagaimana ungkapan Rumi, “Mari kita keluar dari lingkaran waktu dan masuk ke dalam lingkaran cinta,” Idul Fitri mengajak kita keluar dari sekat kepentingan pribadi menuju pengabdian yang lebih luas.

Kesucian yang kita raih hari ini adalah Energi Ilahi yang harus dikonversi menjadi kekuatan kolektif. Di tengah konflik global yang kian memanas, kesalehan spiritual harus mewujud dalam gotong royong nasional. Hal ini selaras dengan pesan langit dalam Surah Ali ‘Imran ayat 103 :

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…”

Di hari yang fitri ini, doa-doa 250 juta rakyat Indonesia membumbung, mengetuk pintu langit agar Presiden Prabowo Subianto senantiasa dalam perlindungan Allah SWT. Kita memohonkan bagi beliau kekuatan fisik, kesehatan, dan ketajaman intuisi dalam memimpin bangsa. Sebagaimana filsuf Plato mendambakan pemimpin yang memiliki kebijakan dan keberanian, kita mendoakan agar kepemimpinan beliau menjadi kompas yang selamat di tengah badai geopolitik.

Namun, doa harus disertai ikhtiar. Mari seluruh lapisan masyarakat bersatu membangun Sistem Pertahanan Rakyat Semesta. Kedaulatan bukan hanya tugas militer, melainkan kesadaran semesta setiap warga negara. Kekuatan batin dari Idul Fitri inilah yang menjadi bahan bakar untuk menghadapi ancaman, baik dari dalam maupun luar negeri.

Mari jadikan Idul Fitri 1447 H sebagai momentum persatuan nasional. Ketika batin suci dan barisan rapat, Indonesia akan berdiri tegak sebagai bangsa yang tak tergoyahkan.

Selamat Idul Fitri 1447 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin.***

Editor : M.Nabil

Epilog Ramadhan: Membaca Takdir dan Mengetuk Pintu Arsy di Malam ke-29 “Doa untuk Presiden Prabowo”

Oleh : Aam Abdul Salam*

GURILAPS.COM || Malam ke-29 Ramadhan bukan sekadar penanggalan; ia adalah ambang pintu. Dalam perspektif filsafat spiritual, ia merupakan titik kulminasi di mana kefanaan manusia bertemu dengan keabadian Tuhan. Di saat energi bulan suci mulai memudar dari pandangan indrawi, batin kita justru dituntut untuk mencapai resonansi tertinggi dalam menjemput Lailatul Qadar.

Lailatul Qadar adalah manifestasi dari intervensi langit terhadap bumi. Secara filosofis, malam ini adalah momen “Penetapan” (Qadar), di mana doa bukan lagi sekadar kata-kata, melainkan frekuensi jiwa yang mampu mengubah garis takdir. Dalam keheningan malam ganjil terakhir ini, orientasi spiritual kita tidak hanya berhenti pada kesalehan pribadi, tetapi meluas menjadi kesalehan sosial dan nasional.

Di altar malam ke-29, kita membawa sebentuk munajat untuk kepemimpinan negeri. Memohon kekuatan dan kesehatan bagi Presiden Prabowo Subianto bukan sekadar dukungan politik, melainkan sebuah permohonan agar simpul kepemimpinan bangsa ini dijaga oleh Inayah (pertolongan) Ilahi. Dalam filsafat pemerintahan yang berkeadilan, seorang pemimpin memerlukan “perisai langit” untuk menghalau badai fitnah dan niat buruk yang berupaya meruntuhkan stabilitas bangsa.

Kita berdoa agar beliau dikaruniai hikmah—sebuah kecerdasan spiritual untuk membedakan antara kritik yang membangun dan serangan yang menghancurkan. Semoga Allah menjadi dinding pelindung yang menjauhkan beliau dari tipu daya mereka yang ingin menjatuhkan, karena sejatinya, kekuasaan yang diberkati adalah kekuasaan yang terjaga dari keruhnya syahwat duniawi.

Melalui keberkahan Ramadhan yang hampir usai, kita mengetuk Arsy:  Ya Allah, jadikanlah Indonesia sebagai negeri yang bernaung di bawah cahaya Lailatul Qadar. Sebuah negeri yang penduduknya bersatu dalam doa, dan pemimpinnya dikuatkan dalam rida-Mu.

Malam ke-29 adalah kesempatan terakhir untuk memastikan bahwa ketika fajar Syawal menyingsing, kita tidak hanya membawa kemenangan pribadi, tetapi juga membawa jaminan keselamatan bagi pemimpin dan kedaulatan negeri.***

*) Penulis : Aam Abdul Salam, Dewan Pembina Yayasan Majelis Dzikir Merah Putih, Sekjen Komite Nasional Kedaulatan Energi, Presidium KAHMI Sukabumi, Penasehat SMSI Sukabumi Raya, Penasehat PWI Kab.Sukabumi dan Sekjen PPJNA 98

EDITOR : M.NABIL

Rumah Literasi Merah Putih : Kawal Kedaulatan Bangsa, Lawan Intervensi Asing dan Upaya Destabilisasi Nasional

GURILAPS.COM || Mencermati dinamika politik nasional belakangan ini, merasa perlu menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus peringatan keras demi menjaga marwah dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, kata Dede Heri S.IP Sekjen Rumah Literasi Merah Putih, rilis diterima redaksi Rabu 18 Maret 2026.

Dede Heri menyampaikan pernyataan sikap yaitu :

1. Mengecam Keterlibatan Kepentingan Asing: Kami mencium adanya manuver kekuatan asing yang mencoba mengganggu kedaulatan bangsa melalui pendanaan besar (filantropi politik) untuk menciptakan instabilitas di dalam negeri. Kami menduga kuat adanya “tangan dingin” kepentingan global yang mencoba merongrong kewibawaan negara melalui kekuatan finansial yang tidak sehat.

2. Keprihatinan atas Sikap Tokoh dan Akademisi : Sangat disayangkan melihat sejumlah tokoh, akademisi, oknum perguruan tinggi, serta elite partai politik yang seharusnya menjadi penjaga moral bangsa, justru diduga kuat terjebak dan dimanfaatkan oleh agenda asing. Membiarkan diri menjadi “alat” demi kepentingan sempit untuk menyerang program-program kerakyatan yang sedang dijalankan oleh Presiden Prabowo Subianto adalah pengkhianatan terhadap akal sehat dan kepentingan rakyat kecil.

3. Melawan Narasi Destabilisasi : Kami menilai upaya-upaya sistematis untuk menciptakan kegaduhan demi menggulingkan pemerintahan yang sah adalah tindakan yang mencederai demokrasi. Program pro-rakyat Presiden Prabowo tidak boleh disandera oleh manuver politik asing yang hanya ingin melihat Indonesia lemah dan terpecah belah.

4. Seruan Rapatkan Barisan : Kami menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat, dari Sabang sampai Merauke, untuk segera merapatkan barisan dalam Persatuan Nasional. Jangan mudah terprovokasi oleh narasi yang dibangun dari dana asing untuk memecah belah kerukunan kita.

5. Perlawanan Rakyat Semesta : Rumah Literasi Merah Putih mengajak rakyat untuk melakukan perlawanan terhadap setiap upaya, intervensi, dan manuver asing yang berniat menjatuhkan pemerintahan yang sah. Kedaulatan Indonesia ada di tangan rakyat, bukan di tangan kekuatan modal asing.

“Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto adalah mandat rakyat. Siapa pun yang mencoba mengganggunya melalui tangan-tangan asing, akan berhadapan dengan rakyat yang mencintai tanah airnya. Merdeka, pungkas Dede Heri merupakan salah satu tokoh aktivis Pengurus PB HMI. (M.Nabil)***

Menjemput Cahaya Malam ke 27 Ramadhan: Spiritualitas Lailatul Qadar dan Doa untuk Presiden Prabowo

Oleh : Anto Kusumayuda dan Aam Abdul Salam (Ketum dan Sekjen PPJNA 98)

GURILAPS.COM || Di penghujung Ramadhan, atmosfer batin umat beriman mulai merapat pada satu titik: Lailatul Qadar. Secara filosofis, malam ini bukan sekadar hitungan waktu, melainkan momen “interupsi ilahi” di mana langit menyentuh bumi. Ia adalah simbol pencerahan (enlightenment) yang melampaui logika materi, sebuah malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.

Namun, di balik kekhusyukan i’tikaf, Indonesia hari ini sedang berada dalam pusaran ujian yang nyata. Di sinilah spiritualitas bertemu dengan realitas geopolitik.

Filosofi Perlawanan dan Penjagaan

Dalam kacamata filsafat eksistensialisme religius, menjaga kedaulatan negara adalah bagian dari menjaga amanah Tuhan. Saat ini, kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto tengah diuji oleh berbagai dinamika global. Isu mengenai intervensi aktor-aktor internasional dan kaki tangan kepentingan asing yang mencoba menggoyang stabilitas nasional bukan sekadar isapan jempol, melainkan tantangan terhadap kedaulatan.

Upaya sabotase ekonomi dan aksi-aksi yang memicu instabilitas adalah bentuk “kegelapan” yang harus dilawan dengan “cahaya” keteguhan. Di malam-malam ganjil ini, doa bukan sekadar pelarian, melainkan senjata spiritual (As-shilahu al-mu’min).

Mengetuk Pintu Langit untuk Pemimpin dan Bangsa

Di sela sujud-sujud panjang, mari kita selipkan permohonan tulus:

Kekuatan bagi Pemimpin : Memohon agar Presiden Prabowo diberikan ketajaman mata batin dan ketegasan sikap untuk menghadapi agen-agen asing yang berniat memecah belah bangsa. Semoga Allah memberikan perlindungan dari segala makar dan tipu daya yang merugikan rakyat.

Ketahanan Ekonomi : Berdoa agar Indonesia dijauhkan dari sabotase ekonomi dan diberikan kemandirian di tengah guncangan pasar global

Perlindungan dari Konflik Global : Di tengah eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat-Israel vs Iran, kita memohon agar Indonesia tidak terseret dalam arus kehancuran. Semoga Allah menjauhkan negeri ini dari dampak buruk Perang Dunia III dan krisis energi maupun pangan yang menghantui dunia.

Menjadi Benteng Spiritual

Lailatul Qadar mengajarkan kita tentang Istiqamah. Kekuatan sebuah bangsa tidak hanya terletak pada militer atau otot ekonominya, tetapi pada kohesi sosial dan spiritualitas rakyatnya. Dengan mengetuk pintu langit, kita sedang membangun benteng gaib bagi Ibu Pertiwi.

Semoga di malam yang mulia ini, Allah SWT menurunkan kedamaian (Sakinah) untuk Indonesia, memberikan keselamatan bagi seluruh rakyat dari Sabang sampai Merauke, dan menguatkan para pemimpin kita untuk tetap tegak berdiri di atas kepentingan nasional, demi kejayaan bangsa yang berdaulat.

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillahirabbil ‘alamin, Allahumma shalli ala Muhammad wa ala ali Muhammad.

“Ya Allah, di malam yang mulia ini, kami memohon perlindungan-Mu untuk negeri kami, Indonesia.

Ya Qawiyyu Ya Aziz (Wahai Yang Maha Kuat, Wahai Yang Maha Perkasa), Berikanlah kekuatan, kesehatan, dan ketajaman mata hati kepada pemimpin kami, Bapak Prabowo Subianto. Lindungilah beliau dari segala makar dan tipu daya agen-agen asing, kaki tangan globalis, serta mereka yang hendak menyabotase ekonomi dan stabilitas bangsa kami. Jadikanlah beliau benteng yang kokoh bagi kedaulatan NKRI.

Ya Khairul Maakirin (Wahai Sebaik-baik Pembalas Tipu Daya), Hancurkanlah rencana jahat siapapun yang ingin memecah belah rakyat kami. Jadikanlah setiap sabotase mereka berbalik menjadi kebaikan bagi kemandirian bangsa kami.

Ya Salam (Wahai Yang Maha Memberi Kedamaian), Bentengilah tanah air kami dan seluruh rakyat Indonesia dari dampak peperangan antara Amerika Serikat-Israel dan Iran. Jauhkanlah kami dari malapetaka Perang Dunia III dan krisis pangan serta energi yang melanda dunia. Jadikanlah Indonesia sebagai negeri yang tenang, aman, dan makmur di bawah naungan ampunan-Mu.

Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina ‘adzabannar. Walhamdulillahirabbil ‘alamin.” ***

EDITOR : Fikrie M

Sajadah Literasi di Ujung Senja: Menjemput “Mubarakah” di Tengah Riuh Dunia

0

Oleh : Aam Abdul Salam, Pensehat PWI Kab.Sukabumi, Penasehat SMSI Sukabumi Raya

GURILAPS.COM, SUKABUMI || Di bawah langit Komplek Perkantoran Cisaat yang perlahan meredup, Sabtu (14/03/2026), aroma takjil bercampur dengan hangatnya persaudaraan. Sore itu, di Kantor PWI Kabupaten Sukabumi, buka bersama bukan sekadar ritual penggugur lapar. Ia adalah sebuah perhentian spiritual, sebuah “i’tikaf” kecil bagi para pengetik berita untuk merenungi arah pena di tengah pusaran zaman yang kian tak menentu.

Filosofi Kebersamaan: Satu Tubuh, Satu Pena

Kehadiran jajaran pengurus, anggota, hingga tokoh-tokoh sentral seperti Ketua PLT Abah Anom, serta para penasehat—Kang Aves dan H. Rahmat—ditambah kehadiran Ketua SMSI Sukabumi Raya, Kang Sule, menciptakan harmoni yang magis. Dalam kacamata filsafat, pertemuan ini adalah bentuk Communitas; sebuah ruang di mana ego individual melebur demi tujuan kolektif.

Abah Anom dan para sesepuh mengingatkan bahwa jurnalis bukan sekadar pelapor fakta, melainkan pemegang amanah “kalam”. Kehadiran tokoh-tokoh ini menjadi simbol bahwa transmisi nilai dan kebijaksanaan harus terus mengalir, menjaga api idealisme agar tak padam tertiup angin pragmatisme.

Spritualitas Literasi: Jalan Menuju “Mubarakah”

Diskusi yang mengalir di sela waktu berbuka mengerucut pada satu misi suci: Gerakan Literasi. Dalam dimensi spiritual, literasi adalah “Iqra”—perintah untuk membaca semesta. PWI Kabupaten Sukabumi memandang literasi sebagai instrumen pencerahan untuk mendukung visi Mubarakah (Mandiri, Religius, Inovatif) yang diusung Bupati dan Wakil Bupati Sukabumi.

Pena jurnalis harus menjadi obor yang menerangi jalan menuju kemandirian. Literasi yang dibangun adalah literasi yang membumi, mendorong optimalisasi potensi lokal:

Kemandirian Pangan & Energi: Mengajak rakyat mencintai tanahnya sendiri di tengah krisis global.

Sektor Pariwisata: Narasi yang mengundang dunia melihat keindahan tanah Sukabumi yang dianugerahkan oleh Allah SWT.

Iklim Investasi: Menciptakan kondusifitas melalui berita yang menyejukkan namun tetap kritis-konstruktif.

Menatap Ufuk Global: Literasi di Ambang Prahara

Namun, di balik kehangatan kopi dan teh manis, terselip kesadaran akan bayang-bayang kelam di ufuk dunia. Ketegangan global—konflik AS-Israel melawan Iran—bukan lagi sekadar berita internasional di layar gawai. Ia adalah ancaman nyata yang bisa merobek stabilitas ekonomi hingga ke pelosok desa.

Di sinilah peran spiritual-intelektual jurnalis PWI diuji. Kita berada di ambang spekulasi Perang Dunia III. Literasi harus menjadi perisai; menyiapkan mental masyarakat agar tidak terombang-ambing oleh kepanikan, melainkan tetap fokus pada ketahanan mandiri. Jurnalis bertugas memberikan “jamu” informasi agar masyarakat siap menghadapi dampak ekonomi dan sosial dari benturan peradaban di Timur Tengah.

Penutup: Berbuka untuk Berbakti

Saat azan berkumandang, tegukan air pertama adalah simbol syukur atas nikmat persatuan. Bagi PWI Kabupaten Sukabumi, momentum 14 Maret ini adalah “recharge” batin. Bahwa tugas jurnalis adalah tugas kenabian: menyampaikan kebenaran, memberi peringatan, dan membawa kabar pencerahan bagi kemajuan daerah.

Di tangan para jurnalis inilah, visi Sukabumi yang Mubarakah bukan lagi sekadar slogan, melainkan doa yang mewujud dalam kerja nyata literasi, demi menjaga kedaulatan bangsa di tengah carut-marut dunia yang kian renta. ***

Editor : Yosep.M

Edukasi Masyarakat Lewat Sosialisasi Literasi Digital, Bakesbangpol Jabar: Peningkatan Kesadaran Hadapi Aris Informasi

Grilaps.com, Sukabumi || Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Jawa Barat terus mendorong peningkatan kesadaran masyarakat dalam menghadapi arus informasi di era digital.

Salah satunya melalui kegiatan Sosialisasi Literasi Digital dan Anti Hoaks bertajuk “Ngabedaken Kaler Jeung Kidul” yang digelar di Resto King Raos, Jalan Jalur Lingkar Selatan, Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Jumat (13/03/2026).

Kegiatan tersebut menjadi upaya edukasi kepada masyarakat agar lebih cermat dalam menerima, memilah, serta menyebarkan informasi, khususnya yang beredar melalui media sosial dan perangkat digital.

Kepala Bidang Kewaspadaan Daerah Bakesbangpol Jawa Barat, Khoirul Naim, menjelaskan bahwa sosialisasi ini merupakan bagian dari program berkelanjutan yang bertujuan meningkatkan literasi digital masyarakat.

Menurutnya, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk menyaring berbagai informasi yang masuk melalui perangkat digital agar tidak mudah terpengaruh oleh berita yang belum tentu benar.

“Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan media informasi yang ada di ruang digital, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh berita yang belum tentu kebenarannya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, program sosialisasi tersebut dilaksanakan secara bertahap di berbagai daerah di Jawa Barat. Hingga saat ini kegiatan sudah memasuki titik pelaksanaan ke-13 dan akan terus dilanjutkan di wilayah lainnya.

“Program ini memang digelar di berbagai daerah di Jawa Barat. Saat ini sudah sampai pada pelaksanaan ke-13 dan masih ada beberapa kegiatan lain yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat,” katanya.

Khoirul menambahkan, dalam satu tahun kegiatan sosialisasi dapat dilaksanakan beberapa kali di setiap kabupaten maupun kota. Selain literasi digital dan pencegahan hoaks, Bakesbangpol juga menghadirkan berbagai tema lain yang berkaitan dengan penguatan ketahanan masyarakat.

“Selain literasi digital dan anti hoaks, kami juga memiliki program sosialisasi lain seperti pendidikan politik hingga penguatan ketahanan ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dari para peserta. Antusiasme terlihat dari keaktifan peserta dalam mengikuti pemaparan materi hingga sesi diskusi bersama para narasumber.

“Kami melihat masyarakat cukup antusias dan responsif mengikuti kegiatan ini. Para narasumber juga memberikan banyak pemahaman yang bermanfaat bagi peserta,” ungkapnya.

Melalui kegiatan tersebut, Bakesbangpol Jawa Barat berharap masyarakat semakin cerdas dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar di ruang digital, sekaligus memperkuat ketahanan sosial di tengah derasnya arus informasi.

“Kami berharap masyarakat Jawa Barat semakin bijak dalam menyaring informasi, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh berita hoaks,” pungkasnya. (DH/IFU)***

Editor : M.Nabil

Sosialisasikan Literasi Digital dan Anti Hoaks Digelar Bakesbangpol Jabar, Bijak Gunakan Medsos dan AI

Gurilaps.com || Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Jawa Barat menggelar sosialisasi literasi digital dan anti hoaks bertajuk “Ngabedakeun Kaler Jeung Kidul” di Gedung PGRI Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur, Kamis (12/3/2026).

Kegiatan tersebut diikuti berbagai kalangan, mulai dari tokoh masyarakat, tenaga pendidik, hingga unsur pemerintahan. Sosialisasi ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menyaring informasi di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

Sebelum acara dimulai, kegiatan diawali penampilan angklung dari tim PGRI Cabang Bojongpicung yang terdiri dari para guru dan kepala sekolah. Sebanyak 38 pemain membawakan lagu Manuk Dadali dan Sisi Basisir Jayanti.

Anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat, Tom Maskun, mengapresiasi Kabupaten Cianjur yang menjadi lokasi sosialisasi. Ia menilai literasi digital penting agar masyarakat mampu menghadapi arus informasi di era global.

Menurutnya, perkembangan teknologi dan media sosial membuat masyarakat harus semakin cerdas dalam menyaring informasi. Literasi digital menjadi tanggung jawab bersama agar masyarakat tidak mudah terpengaruh hoaks.

Perwakilan Badan Kewaspadaan Daerah, Khoirul Naim, menyebut literasi digital sebagai isu fundamental bagi ketahanan sosial masyarakat. Ia menilai Jawa Barat memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas informasi nasional.

Ia menjelaskan, jumlah penduduk Jawa Barat mencapai sekitar 20 persen dari total penduduk Indonesia. Selain itu, tingkat penggunaan media sosial di provinsi ini sangat tinggi.

Kepala Kesbangpol Cianjur Ahmad Mutawali menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, aparat, akademisi, media, dan masyarakat dalam menghadapi hoaks generatif di era kecerdasan buatan.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital dan AI telah memunculkan ancaman baru berupa manipulasi informasi yang semakin sulit dibedakan dari fakta.

Pemateri lainnya, Joko Ardi, menjelaskan teknologi deepfake mampu meniru wajah dan suara seseorang secara realistis melalui kecerdasan buatan, sehingga dapat memicu penipuan dan disinformasi.

Ia mengungkapkan lonjakan konten deepfake mencapai 968 persen dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan kerugian global akibat penipuan berbasis manipulasi identitas digital mencapai miliaran dolar.

Dosen Universitas Bhayangkara Jakarta Raya Indah Pangestu Amaritasari mengingatkan masyarakat agar mampu membedakan fakta, opini, dan hoaks di dunia digital yang dipenuhi informasi.

Ia menekankan pentingnya literasi kritis dengan memeriksa sumber informasi, menyadari bias, serta membandingkan informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

Sementara itu, pengamat dari Sinergi Media Digital Indonesia Aam Abdul Salam mengingatkan bahwa deepfake dan hoaks berbasis AI berpotensi mengganggu stabilitas informasi dan keamanan daerah.

Ia mengimbau masyarakat untuk tidak langsung mempercayai informasi viral, melakukan verifikasi, serta meningkatkan literasi digital agar tidak mudah terpengaruh manipulasi informasi di media sosial, pungkasnya. (Yosep M)***

Editor : M.Nabil

HUT ke-23, FSPPB Gelar FGD “Perpu Migas Solusi Kontitusi Mengatasi Ketidakpastian Hukum Perkuat Ketahanan Energi”

0

GURILAPS.COM, JAKARTA || Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) memperingati hari jadi ke-23 dengan menggelar tasyakuran dan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Reintegrasi Pertamina untuk Kedaulatan Energi Nasional” di Hotel Gren Alia, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (10/03/2026).

Dalam forum tersebut, FSPPB secara resmi mendesak Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, untuk segera menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) tentang Migas. Langkah ini dinilai sebagai solusi konstitusional untuk mengatasi ketidakpastian hukum dan memperkuat ketahanan energi di tengah memanasnya tensi geopolitik global.

Stagnasi Regulasi Mengancam Ketahanan Nasional

Presiden FSPPB, Arie Gumilar, menegaskan bahwa stagnasi regulasi migas saat ini bukan lagi sekadar persoalan administratif, melainkan sudah masuk ke ranah persoalan ketahanan nasional.

“FSPPB menilai Perpu merupakan instrumen konstitusional yang sah untuk memutus kebuntuan hukum, menata ulang tata kelola migas, dan memulihkan peran negara secara nyata dalam sektor yang menyangkut hajat hidup orang banyak,” tegas Arie.

Arie menyoroti paradoks besar di sektor energi nasional: produksi minyak Indonesia merosot dari 1,6 juta barel per hari menjadi hanya kisaran 600 ribu barel per hari, sementara kebutuhan terus meningkat. Dampaknya, Indonesia sangat bergantung pada impor, sehingga ketahanan energi menjadi sangat rentan terhadap gejolak harga dan gangguan pasokan internasional.

Menurutnya, kondisi ini merupakan dampak dari desain UU Nomor 22 Tahun 2001 yang cenderung menempatkan Pertamina hanya sebagai salah satu pelaku pasar, bukan instrumen utama negara.

“Kajian akademik menegaskan bahwa pengelolaan migas harus berada dalam kendali penuh pemerintah melalui BUMN sebagai representasi penguasaan negara,” tambahnya.

Dukungan dari Komite Nasional Kedaulatan Energi

Dukungan senada datang dari Komite Nasional Kedaulatan Energi. Sekjen Komite, Aam Abdul Salam, menyatakan bahwa reintegrasi Pertamina adalah sebuah kemestian untuk mencapai kedaulatan energi.

“Perpu adalah solusi konstitusi atas tata kelola SDA migas yang tidak kunjung selesai melalui perubahan UU. Pertamina harus dimandatkan sebagai wakil negara dalam tata kelola migas demi kemandirian energi yang sebesar-besarnya digunakan untuk kemakmuran rakyat,” ungkap Aam.

Sinergi Elemen Bangsa dan Media

Hadir pula dalam acara tersebut, Direktur Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Pusat, Aat Surya Safaat. Ia menekankan bahwa kedaulatan energi hanya bisa dicapai melalui persatuan seluruh elemen bangsa, termasuk dukungan dari insan pers.

“Kuncinya adalah the capital of your soul. Kami siap menyokong perubahan ini karena sebaik apa pun ide, tanpa bantuan media, gaungnya tidak akan maksimal,” kata Aat. Ia pun mengusulkan agar FSPPB terus konsisten bergerak, salah satunya dengan menggelar seminar lanjutan untuk menjaga momentum perjuangan kedaulatan energi nasional.

Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh berbagai elemen, mulai dari akademisi, pengamat energi, serikat pekerja, mahasiswa, hingga tokoh-tokoh nasional. (M.Rafi Asyam)***

Editor : M.Nabil

Di Ambang Badai Global: Mengapa Perpu Pertamina di Bawah Presiden Adalah Keharusan

Oleh: Aam Abdul Salam, Sekjen Komite Nasional Kedaulatan Energi, Sekjen Perhimpunan Pergerakan Jejaring Nasional Aktivis 98 (PPJNA98).

GURILAPS.COM || Dunia hari ini tidak sedang baik-baik saja. Eskalasi konflik di Timur Tengah yang menyeret Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah membawa planet ini ke bibir jurang Perang Dunia III. Bagi Indonesia, ini bukan sekadar berita mancanegara; ini adalah alarm bahaya bagi ketahanan nasional. Selat Hormuz yang terancam blokade adalah urat nadi pasokan minyak dunia. Jika nadi itu terputus, krisis energi bukan lagi ancaman, melainkan realitas yang akan menghantam dapur setiap rumah tangga di tanah air.

Refleksi di Tengah Krisis: Terjebak dalam Jerat Impor

Data menunjukkan betapa rapuhnya kedaulatan energi kita. Saat ini, Indonesia masih harus merogoh kocek hingga US$ 100 juta setiap hari atau setara Rp 1,5 triliun hanya untuk mengimpor minyak mentah dan BBM. Ketergantungan ini membuat harga BBM domestik selalu “tersandera” oleh fluktuasi harga minyak dunia dan konflik global.

Statistik terbaru mencatat:

Defisit Kapasitas : Kilang Pertamina kapasitas terpasang hanya 1jt barel. Dengan kapasitas produksi 90% atau sehari cuma 900 rb barel dari kebutuhan nasional 1.6jt barel.

500rb barel itu tidak semua diproduksi di dalam negeri crudenya sebagian dijual oleh SKK Migas. Lalu dari crude yang ada hanya 60% yang jadi minyak.

Import crude kita saat ini 1 tahun mencapai 340 jt barel, artinya rata rata sehari 940 jt barel crude import. 1.6 juta dikurang 0.9 % maka import product sekitar 600 sd 700 jt barel ekuivallent per hari

Beban Impor : Indonesia mengimpor sekitar 297 juta barel minyak per tahun, di mana 168 juta barel di antaranya sudah dalam bentuk BBM jadi. Ini adalah pemborosan devisa yang luar biasa karena kita membayar “biaya pengolahan” kepada kilang negara lain.

Kondisi Kilang : Meski proyek RDMP Balikpapan telah meningkatkan kapasitas menjadi 360.000 barel per hari, secara keseluruhan produksi kilang Pertamina baru memenuhi sekitar 70% kebutuhan BBM nasional.

Solusi Strategis: Perpu Pertamina Langsung di Bawah Presiden

Di tengah kondisi darurat global ini, birokrasi yang berbelit adalah musuh nyata. Penguatan kemandirian energi tidak bisa lagi dilakukan dengan cara-cara biasa (business as usual). Dibutuhkan langkah luar biasa melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) yang menempatkan Pertamina langsung di bawah komando Presiden.

Mengapa harus di bawah Presiden?

Pemangkasan Birokrasi : Pertamina membutuhkan kecepatan untuk melakukan pengeboran mandiri di titik-titik kaya sumber daya tanpa hambatan regulasi lintas kementerian yang memakan waktu bertahun-tahun.

Akselerasi Kilang Mandiri : Dengan mandat langsung dari Kepala Negara, pembangunan kilang di lokasi-lokasi strategis yang kaya minyak bumi dapat dilakukan secara masif. Kita tidak boleh lagi mengekspor minyak mentah hanya untuk membeli kembali hasil olahannya dari luar negeri.

Kedaulatan Penuh : Keputusan strategis terkait eksplorasi sumur-sumur baru dan distribusi energi nasional dapat diambil dalam hitungan hari, bukan bulan, demi menghadapi eskalasi perang global yang bisa memutus jalur logistik kapan saja.

Memutus Rantai Ketergantungan

Tingginya harga BBM yang selama ini dikeluhkan masyarakat berakar pada satu masalah: kita kehilangan kendali atas rantai pasok kita sendiri. Dengan pengeboran mandiri dan kilang yang memadai, “biaya pengolahan minyak impor” yang mahal dapat dihapus. Indonesia harus mampu memproduksi BBM-nya sendiri, dari bumi sendiri, dan dikelola oleh tangan-tangan anak bangsa sendiri.

Jika kita tidak bergerak sekarang untuk memperkuat swasembada energi, maka kedaulatan bangsa ini akan selalu rapuh di hadapan konflik kekuatan besar dunia. Perpu Pertamina adalah kunci untuk memastikan bahwa ketika dunia terbakar oleh perang, lampu di rumah rakyat Indonesia tetap menyala dan roda ekonomi tetap berputar secara mandiri. ***

EDITOR : NABLI LUTHFI

Muhibah Ramadan: Silaturahmi dan Mendengarkan Aspirasi Warga, Menuju Sukabumi Mubarakah

Oleh : Aam Abdul Salam, Presidium KAHMI Sukabumi, Penasehat PWI Kab.Sukabumi dan SMSI Sukabumi

GURILAPS.COM, SUKABUMI || Gema selawat dan suasana hangat menyelimuti kegiatan Muhibah Ramadan 1447 H (tahun 2026) yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Sukabumi. Lebih dari sekadar agenda tahunan, momen ini menjadi panggung refleksi dan evaluasi satu tahun kepemimpinan Bupati H. Asep Japar (Asjap) dan Wakil Bupati H. Andreas yang resmi dilantik pada 20 Februari 2025.

Kegiatan yang dilaksanakan di berbagai titik, seperti Pondok Pesantren Modern Assalam Warungkiara dan Masjid Besar Al-Misbahul Huda Simpenan, menjadi ruang terbuka bagi warga untuk menyapa langsung pemimpin mereka. Bupati Asjap menegaskan bahwa Muhibah Ramadan adalah instrumen penting untuk mendengarkan aspirasi masyarakat secara langsung demi perbaikan pelayanan publik di masa depan.

Dalam setiap kunjungannya, pasangan pemimpin ini memaparkan progres nyata dari visi Sukabumi yang Mubarakah (Mandiri, Religius, Inovatif, dan Sejahtera). Beberapa pencapaian gemilang dalam satu tahun pertama meliputi:

Penurunan Angka Kemiskinan : Berhasil ditekan hingga mencapai angka 6,41 persen.

Pendidikan & Kesejahteraan : Peluncura program Beasiswa Unggulan untuk menciptakan Generasi Emas serta penyelesaian ratusan unit Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu).

Ketahanan Pangan : Capaian swasembada pangan yang terus didorong sebagai agenda strategis nasional.

Muhibah Ramadan kali ini mengusung misi besar untuk memperkuat spirit gotong royong. Bupati mengajak seluruh elemen masyarakat—mulai dari tokoh agama hingga pemuda—untuk menjaga persatuan yang telah menjadi modal utama keberhasilan pembangunan selama setahun terakhir.

“Kegiatan ini bukan sekadar seremoni, tapi jalan silaturahmi dan ikhtiar kita bersama untuk membangun Sukabumi yang lebih baik ke depan,” ujar Bupati Asjap di sela kegiatannya. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat diharapkan terus mengalir, seiring dengan berbagai program bantuan sosial seperti penyaluran sembako dan hadiah umrah yang juga mewarnai rangkaian acara.

Melalui Muhibah Ramadan, Pemerintah Kabupaten Sukabumi membuktikan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari angka statistik, tetapi juga dari eratnya hubungan antara pemimpin dan rakyatnya dalam balutan nilai-nilai religius dan nilai nilai kebangsaan. ***

Editor : M.Nabil