Minggu, Juli 26, 2026
Beranda blog Halaman 4

Berdialektika di C’Kopi Gaud: Membaca Jiwa 31 Desa Wisata yang Dikukuhkan Bupati Sukabumi

Gurilaps.com || Asap tipis mengepul dari cangkir-cangkir di C’Kopi Gaud. Kedai ini bukan sekadar tempat menyeduh kafein. Di sini, gagasan besar sering lahir dari obrolan paling santai.

Sore itu, sang pemilik C’Kopi Gaud sekaligus Penasehat PWI Kab. Sukabumi, Kang Aves, sibuk menyeduh kopi. Di hadapannya, melingkar para tokoh media dan literasi: Aam Abdul Salam (Penasehat PWI & SMSI / Presidium MD KAHMI), Dede Heri (Rumah Literasi Merah Putih), Siti Ratna Maymunah (CEO Wartain.com), serta Achmad Zajuli (CEO Investa.id/Plt. Sekretaris PWI Kab. Sukabumi).

Topik meja kopi kali ini berat, namun dikunyah dengan rileks. Mereka merespon langkah Bupati Sukabumi, H. Asep Japar, yang baru saja mengukuhkan 31 desa/kampung wisata di Karangpara, Gunungguruh.

“Desa wisata itu panggung orisinalitas,” puji Kang Aves sambil menyodorkan kopi hangat.

Dari Cimaja yang magis hingga eksotisme Megalodon, Sukabumi adalah kanvas seni yang hidup. Di meja kopi, mereka sepakat bahwa 31 desa ini jangan sampai terjebak komersialisasi hambar. Seni arsitektur lokal, tutur bahasa yang santun, dan ritme hidup pedesaan adalah karya seni tertinggi yang dicari manusia modern, tegas Kang Aves.

Aam melihat momentum ini dari akar sosiologis Sunda. Pengukuhan ini adalah pemulihan identitas”.

Desa bukan halaman belakang kota, melainkan pusat peradaban baru. Untuk membangun pariwisata berbasis masyarakat (Community Based Tourism) adalah wujud nyata filosofi Silih Asih, Silih Asih, Silih Asuh”.

Warga desa harus menjadi sutradara di tanah mereka sendiri, bukan sekadar penonton industrialisasi pariwisata, ungkap Aam.

Siti Ratna Maymunah CEO Wartain.Com membedah angka-angka dengan optimis namun realistis. Destinasi baru berarti pasar baru bagi UMKM lokal.

Sirkulasi Pendapatan Uang dari wisatawan langsung masuk ke warung warga, pemandu lokal, dan penginapan rakyat.

Untuk kemandirian Fiskal, optimalisasi potensi pariwisata akan mendongkrak Pendapatan Asli Desa (PADes) secara mandiri.

Untuk pemberdayaan Perempuan, dengan Industri kreatif pedesaan biasanya digerakkan oleh kelompok perempuan tani dan pengrajin lokal, ujar Siti Ratna juga sebagai Bendahara SMSI Sukabumi Raya.

Achmad Jajuli CEO Investa.Id dan Dede Heri senada menarik ruang diskusi ke ranah batiniah. Wisata ke Sukabumi harus menjadi perjalanan spiritual (spiritual tourism).

Suasana asri di Buniayu, keheningan di Gunung Wayang, atau gemercik air di Leuwi Ereng bukan sekadar pemandangan. Mereka adalah sugesti ketenangan. Destinasi ini harus dirawat agar tetap bersih dan asri, menjadi tempat penyembuhan (healing) bagi jiwa-jiwa urban yang lelah, ungkap Achmad Jajuli.

Komitmen Pena dan Literasi

Obrolan di C’Kopi Gaud mengkristal pada satu kesadaran: maklumat Bupati H. Asep Japar butuh kerja kolosal. Di sinilah PWI dan SMSI Sukabumi Raya mengambil tanggung jawab moral. Tugas media bukan lagi sekadar menulis berita seremonial, melainkan membangun literasi pariwisata di tengah masyarakat.

Lakukan Edukasi Sadar Wisata, menulis narasi yang mengubah pola pikir warga agar menjadi tuan rumah yang ramah dan menjaga kebersihan.

Mengangkat keunikan spesifik dari tiap-tiap 31 desa (seperti Hanjeli, Purwasedar, atau Ciburial) ke kancah nasional dan global.

Mengawal agar pembangunan infrastruktur pendukung tetap menjaga kelestarian alam dan tidak merusak tatanan adat.

Kopi mulai dingin, namun semangat di lingkar meja justru makin hangat. Pengukuhan 31 desa wisata adalah awal dari perjalanan panjang. Dengan gotong royong, pena jurnalis, dan kesadaran warga, bumi Sukabumi siap menyuguhkan ketenangan sejati bagi dunia. **

Editor : M.Nabil

Disdik Sukabumi Dorong Penguatan Program Tahfidz di Sekolah sebagai Bagian Pendidikan Karakter

Gurilaps.com || Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi mendorong penguatan program pendidikan tahfidz Al-Qur’an di lingkungan sekolah sebagai bagian dari upaya memperkuat pendidikan karakter di kalangan pelajar.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, Deden Sumpena, menyampaikan bahwa capaian siswa dalam bidang tahfidz yang mendapat apresiasi pada peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 menjadi salah satu indikator bahwa pendidikan karakter di sekolah mulai menunjukkan hasil positif.

Menurutnya, pengembangan program tahfidz tidak hanya berfokus pada kemampuan menghafal, tetapi juga membentuk kedisiplinan, ketekunan, serta akhlak peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

“Program seperti tahfidz ini bukan hanya soal capaian hafalan, tetapi juga pembentukan karakter dan kedisiplinan siswa. Ini sejalan dengan arah pendidikan yang kita harapkan,” ujarnya, Sabtu (2/5/2026).

Ia menjelaskan, pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan akan terus mendorong sekolah-sekolah untuk mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dalam kegiatan pembelajaran, tanpa mengesampingkan aspek akademik dan keterampilan lainnya.

Deden juga menilai bahwa keberhasilan siswa penghafal Al-Qur’an yang mendapatkan penghargaan pada momen Hardiknas 2026 merupakan hasil kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan lingkungan masyarakat dalam membentuk karakter anak.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa penguatan pendidikan karakter menjadi salah satu fokus utama pembangunan pendidikan di Kabupaten Sukabumi, sejalan dengan upaya mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki landasan moral yang kuat.

Ia berharap, program serupa dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan di setiap satuan pendidikan agar mampu melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan masa depan. (UJ)***

Editor : M Nabil

O2SN dan LMBOS 2026 di Jampangtengah Jadi Sarana Pemantauan Bakat Olahraga Siswa SD

Gurilaps.com || Pelaksanaan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) dan Lomba Minat Bakat Olahraga Siswa (LMBOS) tingkat Kecamatan Jampangtengah tahun 2026 tidak hanya menjadi ajang kompetisi antar pelajar, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sarana pemetaan dan pemantauan potensi atlet usia dini di tingkat sekolah dasar.

Kegiatan yang diikuti ratusan siswa dari 43 SD dan SDI tersebut digelar di Lapang Ciguna dan Gedung SD Ciguna, Desa Julang, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, pada 11–12 Mei 2026.

Ketua Kelompok Kerja Guru (KKG) PJOK Kecamatan Jampangtengah, Dimas Ruswandi, mengatakan bahwa pelaksanaan kegiatan tahun ini diarahkan untuk memberikan ruang evaluasi kemampuan dasar peserta didik dalam bidang olahraga.

Menurutnya, selain sebagai ajang pertandingan, kegiatan ini juga menjadi bagian dari proses identifikasi atlet potensial yang nantinya akan dibina lebih lanjut untuk mewakili kecamatan pada tingkat kabupaten.

“Pelaksanaan kegiatan ini kami jadikan momentum untuk melihat perkembangan kemampuan siswa di berbagai cabang olahraga, sehingga bisa menjadi bahan pembinaan ke depan,” ujarnya.

Selama dua hari pelaksanaan, terdapat delapan cabang olahraga yang dipertandingkan. Pada hari terakhir, kegiatan difokuskan pada pertandingan sepak bola mini, sementara cabang lainnya dilaksanakan pada hari pertama.

Pihak penyelenggara menyebut pemusatan lokasi kegiatan di kawasan Ciguna dilakukan untuk memudahkan koordinasi teknis dan efisiensi pelaksanaan antar sekolah peserta.

Selain guru pendidikan jasmani, kegiatan ini juga melibatkan koordinasi kepala sekolah dan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) serta dukungan dari organisasi profesi guru di wilayah setempat.

Dimas menambahkan, hasil dari kegiatan ini akan menjadi bahan evaluasi dalam penyusunan program pembinaan olahraga siswa di tingkat kecamatan, termasuk persiapan menghadapi kompetisi di jenjang yang lebih tinggi.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut secara berkesinambungan sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter melalui olahraga di lingkungan sekolah dasar.

Kegiatan ini ditutup dengan harapan agar proses pembinaan olahraga di tingkat sekolah dasar dapat berjalan lebih terarah, sistematis, dan berkelanjutan. (YM)****

Editor : M.Nabil

Komisi II DPRD Sukabumi Tindaklanjuti Aduan Terkait Administrasi Menara Telekomunikasi

Gurilaps.com || Komisi II DPRD Kabupaten Sukabumi menerima audiensi dari BAPEKSI PAC Palabuhanratu yang menyampaikan sejumlah catatan terkait administrasi dan perizinan salah satu menara telekomunikasi di wilayah Palabuhanratu, Selasa (5/5/2026).

Pertemuan yang digelar di ruang Badan Musyawarah (BAMUS) DPRD tersebut membahas aspek kepatuhan perizinan, termasuk kelengkapan Sertifikat Laik Fungsi (SLF) dan dokumen Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) yang menjadi bagian dari prosedur operasional infrastruktur telekomunikasi.

Dalam forum tersebut, BAPEKSI menyampaikan harapan agar pemerintah daerah melalui perangkat teknis terkait dapat melakukan peninjauan lapangan serta memastikan seluruh ketentuan administratif dipenuhi oleh pihak pengelola menara.

Komisi II DPRD Sukabumi yang dipimpin Hamzah Gurnita bersama sejumlah anggota dewan lainnya, menyatakan bahwa setiap laporan masyarakat akan ditindaklanjuti sesuai mekanisme pengawasan yang berlaku. DPRD menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap regulasi bangunan guna menjamin aspek keselamatan, lingkungan, serta ketertiban tata ruang.

“Setiap pembangunan infrastruktur wajib mengikuti ketentuan yang berlaku, termasuk kelengkapan perizinan dan aspek teknis lainnya. Ini akan kami koordinasikan dengan dinas terkait untuk dilakukan pengecekan,” ujar Hamzah dalam rapat tersebut.

Sejumlah perangkat daerah seperti Dinas Perumahan dan Permukiman, DPMPTSP, Satpol PP, DPTR, serta pihak kecamatan turut hadir untuk memberikan penjelasan awal dan menyamakan data administrasi yang diperlukan dalam proses klarifikasi.

DPRD menekankan bahwa proses verifikasi akan dilakukan secara berjenjang melalui instansi teknis berwenang, sebelum diambil langkah lebih lanjut apabila ditemukan ketidaksesuaian dengan aturan yang berlaku.

Audiensi ini menjadi bagian dari fungsi pengawasan legislatif dalam memastikan setiap aktivitas pembangunan di Kabupaten Sukabumi berjalan sesuai regulasi, serta tetap memperhatikan keselamatan dan kenyamanan masyarakat di sekitar lokasi. (YM)

Editor : M.Nabil

Majlis Ta’lim Setwan DPRD Sukabumi Jadi Sarana Pembinaan Moral Pegawai

Gurilaps.com || Sekretariat DPRD Kabupaten Sukabumi kembali menggelar kegiatan Majlis Ta’lim Aparatur di Mushola Al-Badr Setwan DPRD Kabupaten Sukabumi, Kamis (7/5/2026).

Kegiatan rutin tersebut diikuti para kepala bagian dan pegawai di lingkungan Sekretariat DPRD Kabupaten Sukabumi sebagai bagian dari pembinaan mental dan spiritual aparatur.

Dalam kegiatan itu, tausiyah disampaikan oleh KH. Iwan Setiawan dengan mengangkat tema muhasabah dan muraqabah.

Pada kesempatan tersebut, KH. Iwan Setiawan mengingatkan pentingnya evaluasi diri dalam menjalankan tugas dan kehidupan sehari-hari. Menurutnya, aparatur pemerintah perlu menjaga amanah, kejujuran, dan tanggung jawab dalam bekerja.

“Melalui muhasabah, kita belajar memperbaiki diri dari kekurangan yang ada. Sedangkan muraqabah mengingatkan kita agar selalu menjaga amanah dan tanggung jawab dalam bekerja,” ujarnya.

Sekretaris DPRD Kabupaten Sukabumi menyampaikan bahwa kegiatan keagamaan tersebut menjadi salah satu upaya membangun karakter aparatur yang disiplin dan berintegritas.

Selain meningkatkan pemahaman keagamaan, kegiatan itu juga diharapkan dapat memperkuat etos kerja dan tanggung jawab pegawai dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Majlis ta’lim aparatur sendiri merupakan agenda rutin yang dilaksanakan di lingkungan Setwan DPRD Kabupaten Sukabumi. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana mempererat silaturahmi dan kebersamaan antarpegawai.

Dengan adanya pembinaan rohani secara berkala, Sekretariat DPRD Kabupaten Sukabumi berharap tercipta lingkungan kerja yang harmonis serta aparatur yang memiliki keseimbangan antara profesionalitas dan nilai moral. (YM)***

Editor : M.Nabil

Desa Mandrajaya, Kawasan Pesisir di Selatan Sukabumi yang Terus Berkembang Berbasis Potensi Lokal

Gurilaps.com || Desa Mandrajaya merupakan salah satu desa di Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, yang memiliki karakteristik wilayah pesisir dengan kekayaan potensi wisata alam serta sumber daya lokal yang terus dikembangkan. Desa ini diketahui merupakan hasil pemekaran dari Desa Rajak dan kini menjadi salah satu wilayah yang berkembang di kawasan selatan Sukabumi.

Secara geografis, Desa Mandrajaya berada di kawasan strategis jalur pesisir selatan yang memiliki akses menuju sejumlah destinasi wisata alam di kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark. Kondisi tersebut menjadikan desa ini memiliki peluang besar dalam pengembangan sektor pariwisata, ekonomi masyarakat, hingga pembangunan berbasis potensi wilayah.

Adapun batas wilayah Desa Mandrajaya meliputi sebelah timur berbatasan dengan Desa Cibenda, sebelah utara berbatasan dengan Desa Ciwaru dan Desa Mekarsakti, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Sidamulya, sementara di sebelah barat berbatasan langsung dengan kawasan laut selatan.

Wilayah pesisir yang dimiliki Desa Mandrajaya menjadi salah satu daya tarik utama bagi masyarakat maupun wisatawan yang datang ke kawasan selatan Sukabumi. Hamparan pantai dengan panorama alam yang masih alami menjadi kekuatan tersendiri dalam mendukung pengembangan wisata berbasis lingkungan dan pemberdayaan masyarakat lokal.

Beberapa destinasi wisata yang dikenal masyarakat di Desa Mandrajaya di antaranya Pantai Cikadal serta Pulau Mandra. Kedua lokasi tersebut menawarkan panorama khas pesisir selatan Sukabumi dengan suasana alam yang relatif masih terjaga. Potensi wisata tersebut dinilai dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi masyarakat apabila dikelola secara berkelanjutan dengan memperhatikan aspek lingkungan dan pemberdayaan warga sekitar.

Selain sektor wisata, pemerintah desa juga terus melakukan pengembangan sarana dan prasarana guna menunjang aktivitas masyarakat. Pembangunan infrastruktur desa dinilai menjadi bagian penting dalam meningkatkan aksesibilitas wilayah, pelayanan publik, serta mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir.

Berbagai potensi sumber daya alam yang dimiliki Desa Mandrajaya juga menjadi perhatian dalam arah pembangunan desa. Kawasan pesisir, aktivitas perikanan masyarakat, hingga peluang usaha berbasis wisata lokal menjadi bagian dari pengembangan ekonomi yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan warga.

Pemerintahan Desa Mandrajaya saat ini dipimpin oleh Kepala Desa Ajat Sudrajat. Dalam pelaksanaan pembangunan desa, pemerintah desa disebut terus mendorong pengembangan wilayah berbasis potensi lokal dengan menitikberatkan pada pelayanan masyarakat, pembangunan infrastruktur, serta penguatan sektor ekonomi masyarakat.

Dengan potensi wisata alam, kekayaan wilayah pesisir, dan dukungan pembangunan yang terus berjalan, Desa Mandrajaya menjadi salah satu kawasan di selatan Sukabumi yang memiliki peluang berkembang sebagai desa berbasis wisata dan ekonomi lokal di masa mendatang. (YM)***

Editor : FZ

Spirit Palabuhanratu: Mengawal MBG sebagai Jalan Kedaulatan Ekonomi dan Investasi Langit Sukabumi

Gurilaps.com, Sukabumi || Di tengah desau angin malam dan hangatnya aroma kopi di Bale-Bale Pantai Citepus, Palabuhanratu, Senin malam (11/05/2026), sebuah narasi besar tentang masa depan Sukabumi lahir dari diskusi santai namun bernas. Adalah Ketua SMSI Sukabumi Raya, Sulaeman (Kang Sule), bersama Aam Abdul Salam dan Sekjen Rumah Literasi Merah Putih, Dede Heri, yang membedah program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar sebagai kebijakan teknis, melainkan sebagai sebuah revolusi multisektoral.

Diskusi di tepian samudera ini menyepakati satu hal: MBG adalah momentum “emas” yang harus ditangkap Pemerintah Kabupaten Sukabumi untuk menggerakkan tiga pilar utama: ekonomi, budaya, dan spiritual.

Pilar Ekonomi: Menghidupkan Dapur Desa, Menggerakkan Petani

Dari perspektif ekonomi, MBG adalah stimulus pasar yang nyata bagi masyarakat pedesaan. Sulaeman panggikan akrab Kang Sule menegaskan bahwa program prioritas Presiden Prabowo ini harus menjadi lokomotif terciptanya lapangan kerja baru. Ibu-ibu di pelosok desa tidak lagi sekadar menjadi objek pembangunan, tetapi subjek produktif sebagai relawan dan pengelola dapur lokal.

Lebih dari itu, MBG harus menjadi “pembeli siaga” bagi hasil bumi Sukabumi. UMKM, pelaku usaha, kelompok tani, hingga peternak lokal wajib menjadi rantai pasok utama. Jangan sampai bahan baku dapur MBG didatangkan dari luar daerah, sementara petani kita hanya menjadi penonton. Ini adalah jalan kedaulatan pangan tingkat lokal yang akan memutar roda ekonomi desa secara signifikan.

Pilar Budaya: Menghidupkan Kembali Literasi Gotong Royong

Dede Heri dari Rumah Literasi Merah Putih melihat ini sebagai penguatan budaya literasi sosial. Program ini secara tidak langsung mendidik masyarakat tentang pentingnya gizi dan pola hidup sehat. Secara kultural, keterlibatan warga di sekitar lokasi dapur akan menghidupkan kembali semangat gotong royong yang sempat memudar. Budaya “saling jaga” melalui ketersediaan pangan bagi anak-anak, ibu hamil, dan bayi menyusui adalah investasi sosial yang tidak ternilai harganya bagi ketahanan masyarakat Sukabumi.

Pilar Spiritual: Memuliakan Generasi, Menjemput Keberkahan

Dalam dimensi spiritual, sebagaimana yang mengemuka dalam diskusi tersebut, MBG adalah bentuk nyata dari memuliakan manusia. Menyiapkan generasi muda yang cerdas dengan kualitas SDM mumpuni adalah tugas suci. Upaya menekan angka stunting bukan sekadar mengejar angka statistik, melainkan ikhtiar batiniah untuk memastikan anak-anak Sukabumi tumbuh sehat akal dan fisiknya untuk menjadi pemimpin masa depan. Ada nilai ibadah dalam setiap porsi makanan yang disajikan dengan penuh tanggung jawab.

Harapan: Kawalan Ketat Hingga Tingkat Desa

Aam Abdul Salam mengingatkan pentingnya pengawalan total dari jajaran dinas hingga perangkat desa/kelurahan. Pemkab Sukabumi tidak boleh membiarkan program ini berjalan secara mekanis tanpa pengawasan. Keberhasilan MBG di Sukabumi adalah keberhasilan kolektif untuk memastikan tidak ada celah bagi kegagalan distribusi maupun kualitas.

Dari obrolan di Bale-Bale Citepus ini, pesannya jelas: Program MBG adalah “hajatan besar” rakyat Sukabumi. Jika dikawal dengan hati (spiritual), dikelola dengan kebersamaan (budaya), dan dioptimalkan melalui pemberdayaan lokal (ekonomi), maka Sukabumi bukan hanya akan bebas dari stunting, tapi juga akan menjadi daerah yang mandiri secara ekonomi dari akar rumput, di setiap pelosok desa dan sudut sudut perkotaan.***

Editor : M.Nabil

Fajar Baru di Tengah Badai Global: Mengawal Indonesia Bersama Presiden Prabowo Menuju Pemimpin Tatanan Dunia

Oleh : Aam Abdul Salam, Sekjen PPJNA 98, Dewan Pembina Yayasan Majelis Dzikir Merah Putih, Sekjen Komite Nasional Kedaulatan Energi, Presidium MD KAHMI Sukabumi, Mantan Ketua Dewan Tani Indonesia (DTI) Jawa Barat

GURILAPS.COM || Dunia hari ini sedang berdiri di tepi jurang yang amat curam. Ketegangan antara blok Amerika Serikat-Israel melawan poros Iran bukan sekadar riak politik biasa, melainkan dentum keras yang menandai runtuhnya tatanan lama. Di balik desing peluru dan diplomasi meja makan, ada pergeseran energi besar yang sedang terjadi dalam siklus alam semesta.

Secara spiritual dan historis, dunia kerap mengalami pergolakan hebat setiap 25 tahun sebagai bagian dari proses “pembersihan” tatanan. Ini bukan sekadar kebetulan geopolitik, melainkan momentum alam semesta untuk menyeimbangkan kembali ketimpangan.

Dominasi kekuatan tunggal mulai luruh, digantikan oleh kesadaran kolektif tentang kedaulatan dan keadilan. Dalam perspektif spiritual, badai global ini adalah “kontraksi” sebelum lahirnya era baru yang lebih manusiawi.

Secara ekonomi, ketergantungan dunia pada energi dan pangan menjadikan Indonesia sebagai pusat gravitasi baru. Konflik global di Timur Tengah memaksa dunia mencari jangkar keamanan baru. Di sinilah posisi strategis Indonesia bermain. Kita bukan lagi penonton di pinggir lapangan.

Dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah—dari nikel hingga energi hijau—Indonesia memegang kartu as dalam negosiasi global. Kekuatan ekonomi ini adalah fondasi politik untuk berdiri sama tinggi dengan negara-negara adidaya.

Di saat budaya Barat mulai kelelahan dengan narasi konflik, Indonesia menawarkan alternatif budaya “Jalan Tengah”. Nilai-nilai Pancasila yang mengedepankan musyawarah dan gotong royong menjadi oase di tengah gersangnya empati dunia. Menjadi negara adidaya tidak harus menjadi penindas; Indonesia berpeluang menjadi adidaya moral yang memimpin dengan teladan, bukan dengan ancaman militer.

Amanah Konstitusi dan Diplomasi Prabowo

Visi Presiden Prabowo Subianto dalam menghadapi turbulensi global ini sejalan dengan mandat suci UUD 1945: ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Langkah-langkah strategis yang diambil—mulai dari penguatan pertahanan hingga diplomasi ekonomi yang berwibawa—menunjukkan bahwa Indonesia siap mengambil tongkat estafet kepemimpinan global.

Namun, perjuangan ini bukanlah milik pemerintah semata. Kekuatan sejati seorang pemimpin terletak pada denyut nadi rakyatnya. Upaya besar Presiden Prabowo di panggung internasional membutuhkan “bahan bakar” berupa doa yang tulus dan dukungan yang solid dari seluruh elemen bangsa.

Momentum 25 tahunan ini adalah pintu gerbang. Jika kita bersatu, Indonesia tidak hanya akan lolos dari krisis, tetapi akan bangkit menjadi mercusuar yang memandu dunia keluar dari kegelapan perang.

Saatnya Indonesia memimpin, saatnya perdamaian dunia diwujudkan dari tanah Nusantara. ***

Editor : D.Heri

Bulan Mei Langit Bergetar : Seruan Do’a dan Berdzikir untuk Prabowo Gibran dan Indonesia

PPJNA 98, Yayasan Majelis Dzikir Merah Putih, Rumah Literasi Merah Putih : Seruan Do’a dan Berdzikir untuk Prabowo Gibran dan Indonesia

GURILAPS.COM || Bulan Mei kali ini membawa pesan yang berbeda. Di tengah riuhnya percaturan geopolitik global yang memanas dan penuh ketidakpastian, ada sebuah kesadaran kolektif yang mulai mengkristal di tanah air: bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak hanya terletak pada diplomasi dan ekonomi, melainkan pada kedekatan spiritualitasnya kepada Sang Khalik.

Melalui seruan bersama yang ditandatangani oleh Anto Kusumayuda (Ketum PPJNA 98), Aam Abdul Salam (Sekjen PPJNA 88/Presidium MD KAHMI Sukabumi), Sihabudin SE dan Siti Ratna Maymunah, S.Pd (Ketum dan Sekum Yayasan Majelis Dzikir Merah Putih), dan Dede Heri, S.IP (Sekjen Rumah Literasi Merah Putih) mengajak seluruh elemen bangsa untuk merapatkan barisan dalam dimensi batiniah, dalam rilis diterima redaksi Selasa (05/05/2026).

Seruan ini bukan sekadar imbauan rutin, melainkan sebuah bentuk kepedulian dan tanggung jawab untuk menjaga persatuan nasional “ketahanan bangsa” yang berbasis pada nilai-nilai ketuhanan.

Benteng Spiritual di Tengah Badai Global

Dunia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Gesekan antarnegara besar dan krisis pangan serta energi menghantui setiap bangsa. Dalam konteks inilah, melihat pentingnya “mengetuk pintu langit”. Melalui gema dzikir, sholawat, dan doa yang bergema dari setiap tajug, mushola, masjid, hingga pondok pesantren, kita sedang membangun perisai tak kasat mata bagi kedaulatan Indonesia.

Doa yang dipanjatkan bukan hanya untuk keselamatan diri, melainkan permohonan ampunan kolektif dan harapan agar Allah SWT, pemilik kehidupan alam semesta, menganugerahkan rahmat serta keberkahan bagi seluruh tumpah darah Indonesia.

Salah satu hal sangat penting dalam seruan ini adalah permohonan doa khusus untuk kesehatan dan kekuatan bagi *Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka*. Sebagai pemimpin yang akan menakhodai Indonesia di masa depan, beban yang mereka pikul sangatlah berat dalam menjalankan amanah memimpin negara.

Mendoakan pemimpin adalah tradisi luhur bangsa yang religius. Kita meyakini bahwa kepemimpinan yang kuat memerlukan kejernihan batin dan kesehatan fisik yang prima. Dengan dukungan doa dari jutaan umat di majelis ta’lim dan pesantren, kita berharap para pemimpin kita senantiasa dibimbing dalam mengambil keputusan besar demi perdamaian dan keberhasilan negeri di kancah internasional.

Seruan Bulan Mei ini juga merupakan instrumen persatuan nasional. Saat masyarakat berkumpul di musala atau masjid untuk bersholawat, sekat-sekat perbedaan politik seharusnya luruh. Kita kembali pada satu identitas: hamba Tuhan yang mencintai tanah airnya.

Bahwa ketahanan bangsa yang sejati bermula dari hati yang tenang dan jiwa yang bersatu. Mei harus menjadi saksi bagaimana getaran spiritualitas mampu meredam potensi perpecahan dan mengubahnya menjadi energi positif untuk pembangunan.

Mari kita penuhi majelis-majelis ilmu dengan harapan. Semoga melalui wasilah doa dan sholawat di bulan Mei ini, Indonesia dijauhkan dari marabahaya, dikuatkan pemimpinnya, dan diberkahi langkahnya menuju kemajuan yang hakiki. ***

EDITOR : M.NABIL

Perkuat Ukhuwah Alumni, Pimpinan Ponpes Al-Masthuriyah Lantik Pengurus Komisariat KALAM Se Kab.Sukabumi

Gurilaps.com || Pengurus Daerah Keluarga Alumni Al-Masthuriyah (KALAM) Sukabumi menggelar Halal Bihalal yang dirangkaikan dengan pelantikan pimpinan komisariat se-Kabupaten Sukabumi di Aula Yayasan Al-Masturiyah, Tipar, Cisaat, Sabtu (2/5/2026). Kegiatan tersebut berlangsung lancar dan dihadiri ratusan alumni lintas generasi.

Pelantikan pimpinan komisariat dipimpin langsung oleh pimpinan Pondok Pesantren Al-Masthuriyah, Abdul Azis Masthuro, serta dihadiri Ketua Umum Pengurus Pusat KALAM, Ismail, bersama jajaran pengurus daerah.

Mengusung tema “Menggali Potensi Alumni untuk Menguatkan Ukhuwah dan Khidmah”, kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat peran alumni dalam berbagai sektor.

Ketua Pengurus Daerah KALAM Sukabumi, Muhamad Jihad, menyampaikan apresiasi kepada para pendiri, guru, dan seluruh alumni yang hadir. Ia menuturkan bahwa alumni Al-Masthuriyah telah tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Sukabumi.

“Dari 47 kecamatan, seluruhnya terdapat alumni Al-Masturiyah. Namun pada kesempatan ini, terdapat 19 pimpinan komisariat yang mengajukan untuk dilantik,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh alumni untuk menumbuhkan kebanggaan terhadap almamater serta memperkuat kolaborasi lintas profesi. Menurutnya, sinergi antaralumni menjadi kunci dalam memaksimalkan potensi yang dimiliki untuk kemaslahatan bersama.

Sementara itu, Abdul Azis Masthuro menekankan pentingnya kesiapan para pengurus dalam menjalankan amanah organisasi. Ia mengingatkan agar kepemimpinan dijalankan dengan penuh tanggung jawab serta berlandaskan nilai-nilai keislaman.

“Pengurus harus amanah serta merujuk pada Al-Qur’an dan Hadis dalam menjalankan organisasi,” katanya.

Ia juga mengimbau para alumni untuk terus menjaga kecintaan terhadap almamater dan para pendiri, sebagai bagian dari upaya merawat nilai-nilai tradisi serta keberkahan yang telah diwariskan.

Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal penguatan peran Keluarga Alumni Al-Masturiyah Sukabumi sebagai wadah silaturahmi dan kolaborasi, sekaligus mendorong kontribusi nyata alumni bagi masyarakat di berbagai bidang. (M.NABIL)

EDITOR : DH