Oleh : Aam Abdul Salam*
GURILAPS.COM || Bayangkan sebuah desa pesisir yang baru saja membuka diri untuk pariwisata. Di sana, deru mesin genset yang bising dan mahal perlahan digantikan oleh aliran listrik yang stabil. Tiba-tiba, penginapan bisa memasang pendingin ruangan, restoran dapat menyimpan bahan makanan beku, dan warga lokal bisa membuka bengkel las atau usaha konveksi di rumah mereka. Inilah wajah nyata dari pembangunan infrastruktur listrik: ia bukan sekadar kabel dan tiang, melainkan urat nadi kehidupan.
Namun, membentang kabel melewati hutan, gunung, hingga pemukiman padat penduduk bukanlah perkara mudah. Di sinilah dukungan semua lapisan masyarakat menjadi kunci utama.
Energi untuk Roda Ekonomi
Bagi sektor industri, ketersediaan listrik yang andal adalah syarat mati. Tanpa daya yang stabil, mesin pabrik berhenti, produksi terhambat, dan daya saing nasional melemah. Di sisi lain, sektor pariwisata modern kini sangat bergantung pada digitalisasi dan kenyamanan fasilitas yang semuanya membutuhkan energi. Dukungan masyarakat dalam mempermudah proses perizinan lahan atau sekadar menjaga keamanan aset infrastruktur di lingkungan sekitar, secara tidak langsung membantu mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah tersebut.
Dari Rumah Tangga ke Kemandirian Bangsa
Untuk kebutuhan rumah tangga, listrik adalah jendela dunia. Anak-anak bisa belajar di malam hari dengan terang, dan ibu rumah tangga bisa meningkatkan produktivitas melalui usaha mikro berbasis listrik. Ketika masyarakat memahami bahwa pembangunan gardu induk atau jaringan transmisi adalah untuk kepentingan bersama, hambatan sosial yang sering muncul dalam proyek strategis dapat diminimalisir.
Sinergi Adalah Kekuatan
Pemerintah dan penyedia layanan energi tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan kesadaran kolektif bahwa setiap tiang listrik yang tertanam adalah investasi untuk masa depan. Sikap kooperatif warga dalam proses pembebasan lahan, menjaga kebersihan jaringan dari pohon yang rimbun, hingga kedisiplinan dalam penggunaan energi, merupakan kontribusi nyata yang tak ternilai.
Pembangunan infrastruktur listrik adalah estafet kebaikan. Saat semua lapisan masyarakat memberikan dukungan penuh, kita tidak hanya sedang menerangi bangunan, tetapi juga sedang menerangi jalan menuju Indonesia yang lebih maju, mandiri, dan berdaya saing global.***
*Penulis : Sekjen Komite Nasional Kedaulatan Energi, Sekjen PPJNA 98, Penasehat SMSI/PWI Kab.Sukabumi dan Presidium KAHMI Sukabumi
Editor : M.Nabil


