Oleh : Rd.Ratu Dinar Nusantara (Sinergi Media Merah Putih/Kampus Pencerahan)
Gurilaps.com || Aksi massa yang dimotori dari Kabupaten Pati pada 27 Agustus menjadi sorotan tajam di panggung politik nasional. Gerakan ini bukan sekadar unjuk rasa biasa, melainkan sebuah desain besar yang diduga kuat ditunggangi oleh koalisi gelap: elit oposisi yang sakit hati, sisa-sisa oligarki hitam yang bisnis kotornya dibersihkan, serta para koruptor yang kini disikat tanpa pandang bulu oleh Presiden Prabowo Subianto.
Melihat fenomena ini, kita tidak bisa melepaskannya dari kacamata sejarah dan spiritual. Tanah Pati secara historis memiliki rekam jejak spiritualitas yang keras dan kritis terhadap pusat kekuasaan. Jika ditarik garis lurus ke belakang, ambisi meruntuhkan kekuasaan sah hari ini bagaikan dejavu dari ambisi Adipati Pragola di masa lalu saat melawan Mataram.
Jejak Spiritual Konflik dan Takdir Tanah Pati
Secara spiritual dan sejarah, wilayah Pati memegang peranan krusial dalam transisi kekuasaan di Jawa. Sejarah mencatat bahwa Tanah Pati merupakan hadiah sayembara dari Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir) atas takluknya Arya Penangsang. Wilayah ini diserahkan kepada Ki Penjawi, yang kemudian menjadi penguasa Pati pertama.
Energi politik Pati selalu memiliki magnet yang besar, namun sekaligus menyimpan potensi benturan yang sengit dengan pusat pemerintahan:
- Pemberontakan Adipati Pragola: Anak dari Ki Penjawi, yaitu Adipati Pragola I, melakukan perlawanan besar terhadap Kerajaan Mataram Islam yang dipimpin oleh Panembahan Senopati. Konflik berdarah ini lahir dari ego kekuasaan dan penolakan untuk tunduk pada otoritas pusat.
- Siklus Sejarah yang Berulang: Watak geopolitik yang menolak tunduk inilah yang hari ini direplikasi dan dimanfaatkan oleh aktor-aktor politik modern. Sentimen historis masyarakat Pati yang berjiwa merdeka sengaja dipantik oleh para pemburu rente politik untuk dijadikan “pelopor” perlawanan.
Motif Aliansi Gelap: Sakit Hati, Oligarki, dan Asing
Gerakan yang digalang saat ini sejatinya tidak murni menyuarakan aspirasi rakyat Pati. Di balik layar, ada perkawinan kepentingan antara kelompok elit yang kehilangan panggung (sakit hati) dan oligarki hitam yang ruang geraknya dipersempit oleh ketegasan Prabowo.
Ketika jalur hukum formal tidak lagi bisa menyembunyikan kekayaan hasil korupsi mereka, hukum jalanan (street justice) menjadi pilihan terakhir. Mereka memanfaatkan jejaring asing, mendanai pergerakan di daerah, dan menjadikan Pati sebagai pemantik kerusuhan massal nasional. Targetnya hanya satu: menciptakan chaos demi menjatuhkan Prabowo Subianto dari kursi kepresidenan.
Menjaga Nusantara dari Provokasi
Rakyat Indonesia harus jeli melihat orkestrasi ini. Belajar dari runtuhnya Demak akibat dendam Arya Penangsang, serta melemahnya Pati akibat ambisi Pragola, konflik internal hanya akan membawa kesengsaraan bagi rakyat kecil. Jangan biarkan kesucian spiritualitas daerah dan heroisme sejarah lokal dikotori oleh ambisi pribadi para koruptor yang ketakutan dipenjara.***

