GURILAPS.COM || Aroma khas sate yang dibakar membawa kehangatan di sudut beranda sore itu. Suasana Idul Adha 1447 H kali ini terasa begitu mengalir.
Di tengah kepulan asap tipis dan seduhan kopi hitam, beberapa sahabat lama berkumpul. Ada Anto Kusumayuda (Aktivis 98/Ketua Umum PPJNA 98), Aam Abdul Salam (Aktivis 98/Sekjen PPJNA 98), Dede Heri dari Rumah Literasi Merah Putih, serta Siti Ratna Maymunah, CEO Wartain.com. Obrolan mereka tidak berat, namun perlahan menyelami palung filosofi, budaya, dan spiritualitas yang mendalam.
Esensi Qurban: Totalitas Melampaui Ego
Dede Heri membuka obrolan dengan tatapan menerawang. Bagi pegiat literasi ini, Idul Qurban bukan sekadar ritual menyembelih hewan secara fisik.
“Secara kultural dan spiritual, Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS sedang mempertontonkan puncak tertinggi dari cinta,” ujar Dede santai sembari membetulkan posisi duduknya. “Nabi Ibrahim tidak sedang menyembelih anaknya, melainkan sedang menyembelih rasa kepemilikan. Nabi Ismail pun bukan pasrah karena kalah, tapi karena berserah secara total pada Kebenaran Mutlak. Nilai spiritual inilah yang harus dibumikan dalam ruang kekinian kita.
“Aam Abdul Salam mengangguk setuju. Mantan aktivis 98 ini melihat ada benang merah yang tebal antara totalitas ketaatan spiritual tersebut dengan realitas sosial-politik hari ini.
“Ketaatan total itu kalau diterjemahkan ke dalam bahasa bernegara namanya pengabdian tanpa batas,” sahut Aam. “Sikap berserah dan berkorban untuk kepentingan yang lebih besar itulah yang hari ini kita lihat sedang dicontohkan oleh Presiden Prabowo Subianto.
“Kepemimpinan yang Mengayomi dan Jiwa “Sekolah Rakyat”
Anto Kusumayuda, sang Ketua Umum PPJNA 98, kemudian mengambil alih ritme obrolan. Dengan gaya bicaranya yang taktis namun tetap rileks, ia mengulas bagaimana totalitas ala Ibrahimiah itu mewujud dalam kebijakan negara.
“Prabowo itu bekerja dengan cara mengayomi dan melindungi rakyatnya secara total. Coba lihat fokusnya: memastikan tidak ada anak-anak yang kelaparan, memberikan makanan bergizi, dan membangun basis ‘sekolah rakyat’ agar pendidikan bisa diakses semua kalangan,” jelas Anto sembari menyeruput kopinya.
Bagi Anto, menjaga sumber daya alam agar tetap dikelola secara mandiri demi kepentingan bangsa adalah bentuk ‘qurban’ politik yang nyata. “Beliau sedang mengorbankan kenyamanan personalnya demi memastikan kedaulatan negara tetap utuh di tangan rakyat,” tambahnya.
Siti Ratna Maymunah, selaku nakhoda media online, memandang hal ini dari kacamata kultural masyarakat. “Pemimpin yang ikhlas itu biasanya jalannya tidak pernah mulus. Semakin total ia berbagi dan berbakti, semakin besar pula angin ujian yang menerpa. Dan di era digital ini, ujian paling nyata berbentuk narasi visual dan fitnah,” ungkap Siti.
Menepis Badai Fitnah: Kasus Film “Pesta Babi”
Perbincangan mengalir makin hangat saat membahas ujian-ujian yang kerap mendiskreditkan pemerintah. Salah satu yang paling hangat adalah munculnya serangan fitnah lewat medium film bertajuk “Pesta Babi”.
Film tersebut mencoba menggiring opini seolah-olah kepemimpinan Presiden Prabowo adalah aktor di balik kerusakan yang terjadi di tanah Papua.
Anto Kusumayuda langsung meluruskan disinformasi tersebut dengan nada jernih tanpa emosi. “Ini pentingnya literasi sejarah dan kebijakan. Masyarakat harus paham, proyek strategis nasional (PSN) yang berjalan di Papua saat ini merupakan kelanjutan dari kebijakan yang sudah dicanangkan sejak era Presiden Jokowi. Menimpakan kesalahan itu secara sepihak kepada Prabowo jelas sebuah kekeliruan yang disengaja.”
“Dengan analisis yang lebih tajam. Menurutnya, serangan melalui film tersebut sama sekali tidak memiliki dasar faktual yang kuat, ujar Anto.
“Targetnya jelas bukan sekadar kritik domestik. Narasi-narasi miring semacam film ‘Pesta Babi’ ini sangat rawan ditunggangi dan dimanfaatkan oleh kepentingan asing. Mereka sengaja menciptakan instabilitas di Papua agar bisa masuk dan menguasai kekayaan alam di sana. Pola-pola adu domba seperti ini sudah lagu lama dalam sejarah budaya kita,” tegas Anto.
Keikhlasan yang Menembus Batas
Sore makin larut, namun esensi obrolan justru kian mengerucut indah. Dede Heri menutup diskusi santai tersebut dengan sebuah refleksi spiritual yang menyejukkan.
“Pada akhirnya, setiap perjuangan besar selalu sepaket dengan ujian yang besar pula. Ibrahim lolos dari ujian karena ia ikhlas. Ismail selamat karena ia rida,” tutur Dede lembut.
Segala bentuk fitnah, serangan, maupun dinamika global yang menerpa kepemimpinan nasional saat ini diyakini akan mampu dilewati. Syaratnya adalah memegang teguh spirit Idul Qurban: keteguhan hati, totalitas pengabdian, serta keikhlasan untuk terus berbagi dan melindungi sesama.
Seperti halnya Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang menjalankan amanah dengan kepala tegak, esok hari kebenaran akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk bersinar.***
EDITOR : YOSEP M


