GURILAPS.COM, SUKABUMI || Malam keenam Muharam menjadi momentum transendental bagi bangsa Indonesia. Majelis Sholawat Cahaya Nusantara, PPJNA 98, Rumah Literasi Merah Putih, dan Sinergi Media Merah Putih menggagas sebuah laku spiritual: Muharam Bersholawat malam ke 6. Acara ini bukan sekadar ritus. Ini adalah manifestasi doa agar rakyat bangkit bersatu mengawal program kerakyatan Presiden Prabowo Subianto, Palabuhanratu (20/06/2026).
Filsuf Islam Ibnu Khaldun dalam kitab Muqaddimah menegaskan, “kejayaan sebuah peradaban sangat bergantung pada keadilan sosial dan kekuatan moral para pemimpinnya.”
Muharam Bersholawat meletakkan fondasi moral tersebut. Kegiatan ini mengintegrasikan kesalehan ritual dengan kesalehan sosial.
Esensi Spiritual: Membela Kaum Duafa
Ketua Umum PPJNA 98, Anto Kusumayuda, menegaskan pentingnya penyelarasan gerak batin dan tindakan nyata. “Sholawat adalah energi penggerak. Malam ini kita mengetuk pintu langit. Kita meminta kekuatan agar program Makan Bergizi Gratis (MBG), KDMP dan progtam kerakyatanlainnya berjalan tepat sasaran. Ini adalah jihad kemanusiaan,” ujarnya.
Secara filosofis, keberpihakan pada kaum kecil merupakan manifestasi tertinggi dari keadilan. Pemihakan pada UMKM serta kemudahan kredit bagi usaha rakyat kecil dari Bank Himbara sebagaimana yang diperintahkan Presiden adalah bentuk konkret memanusiakan manusia. Negara hadir memotong rantai kemiskinan struktural.
Ulama kharismatik Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan, “kesejahteraan dunia adalah prasyarat menuju keselamatan akhirat. Ketika perut rakyat lapar, kekufuran mendekat”. Oleh karena itu, kebijakan ekonomi yang pro-rakyat kecil adalah perintah agama yang mutlak.
Transformasi Akal dan Kedaulatan Bumi
Pendidikan menjadi pilar kedua dalam transformasi bangsa. Program Sekolah Rakyat hadir untuk mencerdaskan seluruh negeri. Sekjen Rumah Literasi Merah Putih, Dede Heri, menyoroti pentingnya literasi dan kecerdasan kolektif. “Sekolah Rakyat adalah ikhtiar membebaskan bangsa dari kebodohan. Kita membangun manusia seutuhnya, selaras dengan falsafah kemerdekaan,” kata Dede.
Gerakan batin ini juga menyentuh aspek ekologis. Kebijakan menghijaukan lahan pemerintah serta Hak Guna Usaha (HGU) telantar merupakan bentuk pertobatan ekologis. Manusia adalah khalifah di muka bumi, bertugas merawat, bukan merusak.
Penyelamatan Sumber Daya Alam (SDA) untuk kepentingan negara adalah harga mati. Filosofi kuno menyebut bumi, air, dan kekayaan alam adalah milik bersama seluruh rakyat. Mengembalikan kekayaan alam kepada masyarakat adalah jalan mengembalikan keberkahan yang hilang.
Solidaritas Kolektif dan Berkah Ilahi
Ikhtiar ini memerlukan keterlibatan semua pihak. Sekjen PPJNA 98 sekaligus Presidium MD KAHMI Sukabumi, Aam Abdul Salam, menyerukan pentingnya sinergi nasional. “Gerakan solidaritas ini harus masif. Perusahaan BUMN dan perusahaan swasta wajib peduli, berbagi dengan warga sekitar yang tidak mampu. Ini adalah tanggung jawab moral, bukan sekadar kewajiban hukum,” tegas Aam.
Solidaritas sosial ini melahirkan kedamaian sejati. Dalam filsafat Jawa dikenal istilah Memayu Hayuning Bawwono, mengusahakan keselamatan dunia. Ketika yang kuat membantu yang lemah, harmonisasi kehidupan tercapai.
Seluruh agenda kerakyatan ini merupakan amanah besar Presiden Prabowo Subianto. Kepemimpinan ini digerakkan untuk menjemput ridha Allah SWT. Melalui ketukan doa malam Muharam, seluruh elemen bangsa bersatu, bergerak, dan memastikan Indonesia bangkit dalam keberkahan yang melimpah.***
Editor : HM.Fikrie

