Gurilaps.com || Akhir-akhir ini, kita disuguhkan dengan realitas tindakan amoral yang sangat memprihatinkan dan mengkhawatirkan, yang terjadi di lingkungan sekolah Kabupaten Sukabumi.
Salah satunya, kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum guru atau kepala sekolah di SMPI, juga sebagai pelatih voli putri di salah satu sekolah menengah di bawah Kementerian Agama, di wilayah Surade.
Kejadian tersebut merupakan tamparan keras bagi dunia pendidikan di Indonesia, khususnya di Sukabumi. Ini bukan sekadar kasus kriminal biasa, ini adalah pengkhianatan terhadap mandat moral sebagai pendidik dan pemimpin di lingkungan sekolah,” ungkap Ketua Jaringan Pergerakan Masyarakat Sukabumi Selatan (JPMSS) Saepul Usman, Minggu (16/11/2025).
“Kami mengutuk keras tindakan biadab oknum kepala sekolah tersebut. Sekolah seharusnya menjadi rumah kedua yang aman bagi anak-anak kita, tempat mereka tumbuh dan belajar tanpa rasa takut. Ketika figur kepala sekolah, yang seharusnya menjadi panutan dan pelindung, justru berubah menjadi predator, maka runtuhlah kepercayaan publik terhadap sistem pendidikan kita.”
Lanjut Ketua JPMPS, kejadian ini mesti menjadi perhatian semua pihak, dan pelaku mesti diproses sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
“Insiden ini menunjukkan adanya darurat kekerasan seksual di institusi pendidikan yang selama ini mungkin luput dari perhatian serius. Kami menuntut agar pelaku dihukum seberat-beratnya sesuai hukum yang berlaku, tanpa pandang bulu, untuk memberikan efek jera. Tidak boleh ada kompromi atau upaya damai yang mengorbankan masa depan dan psikis korban.”
“Pemerintah daerah dan Kementerian Agama (Kemenag) harus segera melakukan audit menyeluruh terhadap semua sekolah/madrasah di Sukabumi. Pastikan ada mekanisme pelaporan yang aman dan efektif bagi korban, serta pendampingan psikologis yang intensif. Cukup sudah retorika sekolah ramah anak, saatnya bertindak nyata,” tutupnya.
Editor : AS


