Sabtu, Mei 23, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Oligarki Hitam Mengamuk, Kedaulatan Nusantara Berdiri Tegak: Catatan dari Rumah Literasi Merah Putih

Cercle de diskusi ditemani aroma kopi khas Sukabumi yang pekat, diskusi kecil mengalir santai namun sarat makna hadir Ketua Umum PPJNA 98 Anto Kusumayuda, Sekjen PPJNA 98 Aam Abdul Salam (yang juga Penasehat SMSI/PWI Kabupaten Sukabumi sekaligus Presidium MD KAHMI Sukabumi), Dede Heri dari Rumah Literasi Merah Putih, dan Siti Ratna Maymunah, CEO Wartain.Com/Bendahara SMSI Sukabumi. 

Gurilaps.com || Malam Sabtu, 22 Mei 2026, udara Sukabumi terasa hangat di dalam Rumah Literasi Merah Putih [Cercle de diskusi]. Ditemani aroma kopi khas Sukabumi yang pekat, sebuah diskusi kecil mengalir santai namun sarat makna.

Hadir dalam lingkaran tersebut Ketua Umum PPJNA 98 Anto Kusumayuda, Sekjen PPJNA 98 Aam Abdul Salam (yang juga Penasehat SMSI/PWI Kabupaten Sukabumi sekaligus Presidium MD KAHMI Sukabumi), Dede Heri dari Rumah Literasi Merah Putih, dan Siti Ratna Maymunah, CEO Wartain.com sekaligus Bendahara SMSI Sukabumi.

Dari cangkir-cangkir kopi ini, lahir sebuah perenungan mendalam tentang nasib dan masa depan Ibu Pertiwi.

Perang Spiritual dan Budaya Membela Tanah Air

Secara filosofis, Indonesia sedang berada dalam fase pembersihan besar-besaran. Langkah tegas Presiden Prabowo Subianto dalam memberantas korupsi dan membersihkan oligarki hitam adalah wujud nyata dari menjaga kesucian Nusantara. Oligarki hitam selama ini bertindak layaknya parasit yang merampas kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) milik rakyat. Dalam pendekatan spiritual, membela hak rakyat atas tanah dan isi bumi adalah amanah suci para leluhur, sesepuh Nusantara, dan para ulama.

Upaya menyelamatkan lahan-lahan negara yang dikuasai swasta secara ilegal bukan sekadar urusan hukum. Ini adalah urusan mengembalikan martabat bangsa.

Melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), negara hadir memastikan anak-anak Indonesia—sebagai masa depan bangsa—tulang punggungnya kuat dan otaknya cerdas. Ini adalah pengejawantahan dari amanah untuk menjaga, melindungi, dan mencintai seluruh rakyat tanpa kecuali.

Trisakti Bung Karno dan Ketahanan Nasional yang Digoyang

Langkah Presiden Prabowo sebenarnya sedang mewujudkan Trisakti Bung Karno: berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Membangun ketahanan pangan dan kemandirian energi adalah harga mati untuk kedaulatan nasional.

Namun, kemandirian ini membuat pihak asing dan mafia oligarki hitam meradang. Kenyamanan mereka dalam merampok kekayaan alam Indonesia kini terganggu.

Skenario klasik pun dimainkan. Melalui instrumen global dan jejaring domestik—termasuk oknum NGO dan akademisi—mereka mulai menyerang. Rupiah ditekan, bursa saham digoyang, dan narasi negatif diproduksi secara masif untuk memframing seolah-olah Presiden Prabowo gagal memimpin.

Ironisnya, ada keprihatinan mendalam yang mencuat dalam diskusi malam itu. Beberapa tokoh dan partai politik yang mengklaim mewarisi ideologi Bung Karno justru tidak mendukung langkah nyata ini. Demi syahwat politik jangka pendek, mereka malah ikut menari dalam tabuhan gendang oligarki, ikut memframing negatif, dan berusaha menjatuhkan presiden yang sedang berjuang demi kedaulatan rakyat.

Doa Rakyat Adalah Benteng Tertinggi

Secara kalkulasi politik hitam, serangan bertubi-tubi ini tampak mengerikan. Namun secara filsafat kehidupan, kebenaran tidak akan pernah tertukar. Upaya untuk menjatuhkan Presiden Prabowo dipastikan akan kandas. Kekuatan sejati seorang pemimpin terletak pada kemanunggalannya dengan rakyat.

Ketika seorang pemimpin berjuang demi perut anak-anak miskin dan kedaulatan tanah leluhur, maka hukum alam dan rido Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa akan bekerja. Hati, spiritualitas, dan doa seluruh rakyat Indonesia akan selalu berdiri kokoh menjadi benteng di belakang Presiden Prabowo. Nusantara tidak akan membiarkan dirinya dirampok lagi.***

Editor : Yosep M

Popular Articles