Penulis :
Ir.Ibang Lukmanurdin SAg.M.H
Gurilaps.com, Garut || Allah ﷻ berfirman :
قُلِ اللّٰهُمَّ مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَاۤءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاۤءُۖ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاۤءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاۤءُ ۗ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۗ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ٢٦
Artinya : Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Allah, Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. (Q.S. Al-Imran 3: 26)
Sungguh, hanya sedikit orang yang tahu dan sadar bahwa kesempatan hidup ini hanyalah sekali. Belum kita dengar ada seorangpun di dunia mejalani hidup untuk yang kedua kalinya setelah kematian panjangnya.
Hidup begitu singkat, ketika berakhir, maka tidak akan pernah ia kembali lagi. Apapun yang ada didunia, tahtah, harta, atau keluarga yang dicintai tinggal tak akan dibawa mati. Semua tinggal tak lagi menjadi miliknya, lepas dari dirinya dan kemudian menjadi milik orang lain.
Allah ﷻ berfirman :
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ١٣
Artinya : Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti. (QS Al-Hujarat 49: 13)
Dalam ayat diatas Allah berfirman orang yang paling mulia di hadapan Allah adalah yang paling bertakwa diantara kalian. Takwa adalah menjauhi larangan-Nya dan menjalankan semua perintah-Nya.
Sungguh, orang yang mulia adalah orang yang berjalan dijalan Allah berjuang dijalan Allah dan beribadah hanya kepada Allah dan hanya untuk mengharap Rahmat dan ampunan dari Allah, tidak untuk mengharap selain Allah.
Mulia dengan ketakwaannya bukan hanya semata-mata berkenaan dengan iman kepada Allah ﷻ, namun juga akhlak terhadap sesama manusia. Seseorang yang rajin ibadah kepada Allah ﷻ namun pergaulannya tidak baik dengan sesama manusia maka nilainya tidak ada.
Seseorang yang rajin beribadah, puasa sunnah, dhuha tidak tinggal, tahajud setiap malam, namun durhaka kepada orang tua, ia tak mendapatkan kemuliaan, tidak ada nilainya. Karena rida Allah ﷻ bergantung kepada rida orang tua.
Rasulullah ﷺ bersabda :
رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الْوَالِدِ وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ
Artinya : “Rida Allah terdapat pada rida orang tua, dan murka Allah juga terdapat pada murkanya orang tua.” (HR. Tirmidzi).
Seorang istri yang salehah mendapatkan kemuliaan karena keridaan dari Allah ﷻ dengan senantiasa taat kepada suaminya. Hal ini sebagaimana disabdakan Rasulullah ﷺ.
Dari Anas bin Malik ra, Nabi ﷺ bersabda :
أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ فِي الْجَنَّةِ؟قُلْنَا بَلَى يَا رَسُوْلَ الله كُلُّ وَدُوْدٍ وَلُوْدٍ، إِذَا غَضِبَتْ أَوْ أُسِيْءَ إِلَيْهَا أَوْ غَضِبَ زَوْجُهَا، قَالَتْ: هَذِهِ يَدِيْ فِي يَدِكَ، لاَ أَكْتَحِلُ بِغَمْضٍ حَتَّى تَرْضَى
Artinya : “Maukah kalian aku beritahu tentang istri-istri kalian di dalam surga?” Mereka menjawab: “Tentu saja wahai Rasulullaah!” Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Wanita yang penyayang lagi subur. Apabila ia marah, atau diperlakukan buruk atau suaminya marah kepadanya, ia berkata: “Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha.” (HR. Ath Thabarani no. 3380)
Sesungguhnya kemuliaan seorang hamba bukan karena hartanya atau kedudukannya ditengah masyarakat, namun ia terletak pada ketaatan menjalankan ibadahnya kepada Allah ﷻ serta bertawakkalnya.
Ketenangan hatinya, terletak pada dzikirnya kepada Allâh ﷻ yang Maha Pemberi Nikmat. Keteraturan dan keistiqâmahannya terletak pada ketaatan menjalankan syariat dan meninggalkan yang diharamkan, seraya menyerahkan semua perkara kepada Allâh ﷻ.
Allah ﷻ berfirman :
وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Artinya : “Dan orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama yaitu kaum Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Dan Allah telah siapkan untuk mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal berada di dalamnya. Dan itulah kemenangan yang sangat besar. (QS At-Taubah 9:100)
Tafsir Al-Muyassar pada ayat diatas. Dan orang-orang yang mendahului orang-orang sejak pertama menuju keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya dari kalangan Muhajirin yang berhijrah meninggalkan kaum mereka dan kerabat mereka, dan mereka berpindah menuju negeri Islam.
Dan kaum Anshar yang menolong Rasulullah atas musuh-musuhnya dari orang-orang kafir, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dalam keyakinan, ucapan-ucapan mereka dan perbuatan-perbuatan dalam rangka mencari keridhaan Allah.
Semoga Allah ﷻ mengangkat harkat dan kemuliaan hidup didunia dan akhirat untuk kita yang senantiasa dalam bimbingan dan hidayah-Nya, serta istikamah dalam melaksanakan perintah Allah ﷻ dan menjauhi segala larangannya.
Semoga kita semua selalu sehat wal’afiat dan senantiasa dalam lindungan Allah Subhanallahu Wa Ta’ala
Aamiin Yaa Robbal’aalamiin


