Oleh : Aam Abdul Salam*
GURILAPS.COM || Malam ke-29 Ramadhan bukan sekadar penanggalan; ia adalah ambang pintu. Dalam perspektif filsafat spiritual, ia merupakan titik kulminasi di mana kefanaan manusia bertemu dengan keabadian Tuhan. Di saat energi bulan suci mulai memudar dari pandangan indrawi, batin kita justru dituntut untuk mencapai resonansi tertinggi dalam menjemput Lailatul Qadar.
Lailatul Qadar adalah manifestasi dari intervensi langit terhadap bumi. Secara filosofis, malam ini adalah momen “Penetapan” (Qadar), di mana doa bukan lagi sekadar kata-kata, melainkan frekuensi jiwa yang mampu mengubah garis takdir. Dalam keheningan malam ganjil terakhir ini, orientasi spiritual kita tidak hanya berhenti pada kesalehan pribadi, tetapi meluas menjadi kesalehan sosial dan nasional.
Di altar malam ke-29, kita membawa sebentuk munajat untuk kepemimpinan negeri. Memohon kekuatan dan kesehatan bagi Presiden Prabowo Subianto bukan sekadar dukungan politik, melainkan sebuah permohonan agar simpul kepemimpinan bangsa ini dijaga oleh Inayah (pertolongan) Ilahi. Dalam filsafat pemerintahan yang berkeadilan, seorang pemimpin memerlukan “perisai langit” untuk menghalau badai fitnah dan niat buruk yang berupaya meruntuhkan stabilitas bangsa.
Kita berdoa agar beliau dikaruniai hikmah—sebuah kecerdasan spiritual untuk membedakan antara kritik yang membangun dan serangan yang menghancurkan. Semoga Allah menjadi dinding pelindung yang menjauhkan beliau dari tipu daya mereka yang ingin menjatuhkan, karena sejatinya, kekuasaan yang diberkati adalah kekuasaan yang terjaga dari keruhnya syahwat duniawi.
Melalui keberkahan Ramadhan yang hampir usai, kita mengetuk Arsy: Ya Allah, jadikanlah Indonesia sebagai negeri yang bernaung di bawah cahaya Lailatul Qadar. Sebuah negeri yang penduduknya bersatu dalam doa, dan pemimpinnya dikuatkan dalam rida-Mu.
Malam ke-29 adalah kesempatan terakhir untuk memastikan bahwa ketika fajar Syawal menyingsing, kita tidak hanya membawa kemenangan pribadi, tetapi juga membawa jaminan keselamatan bagi pemimpin dan kedaulatan negeri.***
*) Penulis : Aam Abdul Salam, Dewan Pembina Yayasan Majelis Dzikir Merah Putih, Sekjen Komite Nasional Kedaulatan Energi, Presidium KAHMI Sukabumi, Penasehat SMSI Sukabumi Raya, Penasehat PWI Kab.Sukabumi dan Sekjen PPJNA 98
EDITOR : M.NABIL


