Oleh : Aam Abdul Salam, Sekjen PPJNA 98, Dewan Pembina Yayasan Majelis Dzikir Merah Putih, Sekjen Komite Nasional Kedaulatan Energi, Presidium MD KAHMI Sukabumi, Mantan Ketua Dewan Tani Indonesia (DTI) Jawa Barat
GURILAPS.COM || Dunia hari ini sedang berdiri di tepi jurang yang amat curam. Ketegangan antara blok Amerika Serikat-Israel melawan poros Iran bukan sekadar riak politik biasa, melainkan dentum keras yang menandai runtuhnya tatanan lama. Di balik desing peluru dan diplomasi meja makan, ada pergeseran energi besar yang sedang terjadi dalam siklus alam semesta.
Secara spiritual dan historis, dunia kerap mengalami pergolakan hebat setiap 25 tahun sebagai bagian dari proses “pembersihan” tatanan. Ini bukan sekadar kebetulan geopolitik, melainkan momentum alam semesta untuk menyeimbangkan kembali ketimpangan.
Dominasi kekuatan tunggal mulai luruh, digantikan oleh kesadaran kolektif tentang kedaulatan dan keadilan. Dalam perspektif spiritual, badai global ini adalah “kontraksi” sebelum lahirnya era baru yang lebih manusiawi.
Secara ekonomi, ketergantungan dunia pada energi dan pangan menjadikan Indonesia sebagai pusat gravitasi baru. Konflik global di Timur Tengah memaksa dunia mencari jangkar keamanan baru. Di sinilah posisi strategis Indonesia bermain. Kita bukan lagi penonton di pinggir lapangan.
Dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah—dari nikel hingga energi hijau—Indonesia memegang kartu as dalam negosiasi global. Kekuatan ekonomi ini adalah fondasi politik untuk berdiri sama tinggi dengan negara-negara adidaya.
Di saat budaya Barat mulai kelelahan dengan narasi konflik, Indonesia menawarkan alternatif budaya “Jalan Tengah”. Nilai-nilai Pancasila yang mengedepankan musyawarah dan gotong royong menjadi oase di tengah gersangnya empati dunia. Menjadi negara adidaya tidak harus menjadi penindas; Indonesia berpeluang menjadi adidaya moral yang memimpin dengan teladan, bukan dengan ancaman militer.
Amanah Konstitusi dan Diplomasi Prabowo
Visi Presiden Prabowo Subianto dalam menghadapi turbulensi global ini sejalan dengan mandat suci UUD 1945: ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Langkah-langkah strategis yang diambil—mulai dari penguatan pertahanan hingga diplomasi ekonomi yang berwibawa—menunjukkan bahwa Indonesia siap mengambil tongkat estafet kepemimpinan global.
Namun, perjuangan ini bukanlah milik pemerintah semata. Kekuatan sejati seorang pemimpin terletak pada denyut nadi rakyatnya. Upaya besar Presiden Prabowo di panggung internasional membutuhkan “bahan bakar” berupa doa yang tulus dan dukungan yang solid dari seluruh elemen bangsa.
Momentum 25 tahunan ini adalah pintu gerbang. Jika kita bersatu, Indonesia tidak hanya akan lolos dari krisis, tetapi akan bangkit menjadi mercusuar yang memandu dunia keluar dari kegelapan perang.
Saatnya Indonesia memimpin, saatnya perdamaian dunia diwujudkan dari tanah Nusantara. ***
Editor : D.Heri

